Skip to main content

[Review] The Backup Boyfriend


Judul : The Backup Boyfriend (The Boyfriend Chronicles #1)
Penulis : River Jaymes
Penerbit : self-publishing
Tahun cetakan : 2013
Jenis : ebook
ISBN : B00GZYZYVK

Rating : 4/5


Saya sudah lumayan lama hiatus dari membaca novel M/M-romance, setidaknya sekarang saya paling hanya baca satu judul per dua bulan--padahal tahun lalu dengan getol bisa baca 4-5 judul tiap bulan. Alasannya adalah karena saya memasuki fase bosan membaca adegan ranjang yang banyaknya minta ampun di genre M/M romance (haha) dan juga karena, ironisnya, saya juga tengah mengerjakan novel serupa. Tapi belakangan ini keinginan untuk membaca genre ini timbul lagi, bersamaan dengan beberapa teman yang membaca novella ini. So, here it is.


*Review ini kemungkinan akan memiliki konten yang tidak sesuai dengan mereka yang belum berusia 18 tahun. Please beware.




The Fake Boyfriend

Alec adalah laki-laki yang sangat menjunjung tinggi arti dari suatu hubungan. Baginya komitmen adalah segalanya. Karena itu dia sangat terpukul ketika kekasihnya selama dua tahun, Tyler, tiba-tiba memutuskan hubungan mereka, tepat setelah undang-undang pernikahan sesama jenis yang mereka perjuangkan selama ini akhirnya disahkan di negara bagian mereka. Sudah jatuh tertimpa tangga, belum selesai Alec berduka atas kepergian Tyler yang tiba-tiba, ia juga mendengar bahwa mantan kekasihnya ternyata sudah mampu menggantikan kehadirannya hanya dalam 56 hari saja. Marah dan terluka atas kenyataan tersebut, secara impulsif Alec membeli sebuah motor Harley untuk dibanggakan pada Tyler ketika mantannya itu datang ke rumahnya untuk mengambil barang-barangnya, hanya untuk menyadari kemudian bahwa dirinya memiliki pengetahuan nyaris noneksisten terhadap motor yang dibelinya. Impulsifitas yang satu berujung pada impulsifitas yang lain membuatnya berakhir dengan seorang Dylan Booth, seorang mekanik straight, yang tiba-tiba mengaku sebagai kekasihnya di hadapan Tyler.

Dylan tahu sejak dulu mulutnya tidak bisa dipercaya, tapi ketika mulut itu mencerocos mengenai dirinya sebagai kekasih baru Alec di depan mantan sang dokter, Dylan sadar dirinya sudah kelewat batas. Meskipun begitu Dylan bukanlah orang yang akan menjilat ludahnya sendiri. Ia menjalani tugasnya sebagai pacar baru Alec dalam pesta penghargaan Humanitarian dengan seksama, bahkan terlalu meyakinkan--bagi dirinya sendiri dan Alec. Hal yang tidak diprediksi oleh Dylan adalah bahwa perannya belum akan selesai bersamaan dengan selesainya acara tersebut.

The Labels

Sebenarnya setelah cukup lama hiatus dari membaca novel m/m romance, saya mulai pemilih akan novel-novel m/m yang saya baca, dan memang belakangan tidak ada premis cerita yang membuat saya tertarik untuk membacanya. Baru ketika salah satu teman membaca novel ini, saya mulai penasaran karena sepertinya premis ceritanya menyenggol soft spot saya semua. Gay jock? Check. Blue collar vs. white collar? Check. GFY theme? Check. Alpha top? Yesssssssssss. Check. Kedengarannya temanya klise dan fanfic-ish, ya, tapi duh, dengan sebegitu banyak soft spot saya disentuh saya nggak mungkin nggak terangsang untuk membaca. :p

Saya suka tema dan isu yang diangkat oleh buku ini, terutama mengenai masalah komitmen yang diagungkan oleh Alec dan masalah label seksualitas yang meresahkan Dylan. Banyak orang yang meributkan masalah definisi seksualitas seseorang, seolah mereka tidak boleh jatuh cinta jika mereka belum mendefinisikan seksualitas mereka sendiri. Semua argumen mengenai isu-isu ini diolah dengan cukup baik--meski tetap klise--oleh River Jaymes. Selain itu, perkembangan hubungan antara Dylan dan Alec pun pas, cara mereka menghadapi masalah dalam hubungan mereka yang tak terdefinisi itu, serta konklusi dari hubungan mereka, semuanya menurut saya begitu apik. No insta love is my total preference.

Karakternya juga menurut saya likeable. Saya lumayan tidak simpatik pada Alec yang menurut saya terkesan whiny, tapi karakter-karakter lainnya dapat membuat saya tetap membaca novel ini, terutama Noah, sahabat Dylan dan Alec--dan bisa dianggap sebagai mak comblang tidak langsungnya Dylan dan Alec. Cowok satu itu sintingnya minta ampun, dan saya jadi penasaran mengenai kisah cintanya dengan Rick, sahabat Dylan yang meninggal karena HIV dan laki-laki yang membuat Noah menjadi aktivis healthy sex karena nggak bisa move-on dari pengalamannya dengan Rick.

Hal yang saya sayangkan dari novel ini adalah diksinya. Awalnya saya kira kesulitan saya mengerti maksud kalimat-kalimat dalam novel ini karena saya sudah lama tidak membaca novel m/m dalam bahasa Inggris, tapi setelah saya teliti, memang ada banyak penggunaan kata yang tidak umum seperti "eyelids slammed" (kelopak mata dibanting? Aw.) atau "breath whoosed" (napasnya whusss?? emangnya motor matic?), dan banyak lagi yang lainnya. Diksi yang tidak umum ini cukup membuat saya tersendat-sendat saat membaca beberapa puluh halaman awal, tapi akhirnya setelah mengerti pola diksi River Jaymes, akhirnya saya perlahan bisa membaca buku ini--dan humor sarkas-konyol dari Jaymes sangat membantu melupakan diksinya yang ajaib.

The Backup Boyfriend

Novel ini bisa dibilang merupakan novel comeback yang sempurna bagi saya. Sederhana, manis, dan tanpa drama-overload. Hubungan Alec dan Dylan serta cara mereka untuk mentolerir satu sama lain disajikan dengan begitu realistis hingga saya tidak bisa protes atas kemanisan hubungan mereka. #RomanticFool Dan setelah stalking page Goodreads author-nya River Jaymes, konon kisah Noah akan dibukukan di buku ketiga seri ini. Me cannot wait!

Comments

  1. Ehhh m/m romance ini maksudnya apaaa? male/male? selama ini aku baru pernah baca LGBT YA doang haha...belum pernah baca yang genre romance garis keras nih. kayanya menarik juga kapan2 nyobain :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. hihihi. iya, mbak. M/M romance itu nama buat genre gay romance. Bisa dibilang genre ini Harlequin-nya gay, ya, yang lebih fokus ke masalah hubungan tokohnya dibanding isu-isu di seputaran kaum LGBT--yang lebih sering diangkat sama genre LGBT-lit. Jadi kalau baca LGBT YA biasanya nggak hepi ending, kalo M/M romance mah sering banget hepi ending. hehehehehe. Tapi memang garis keras, sih. mwihihihi.

      Hayoo dicoba baca, mbak. Kalau butuh hibahan ebook m/m bilang ke saya sajaa. :p <<setan penggoda

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

August Rainbow Giveaway Hop - Red

Halooo~ ada giveaway lagi niiih~ kali ini giveaway-nya dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama. Yaay! Nggak terasa udah setahun umur blog ini. Sebenarnya ultah blog ini sudah dari tanggal 8 Agustus kemarin, tapi lalu saya lupa (ups) dan kebetulan ada rencana bloghop dengan teman-teman yang ultahnya di bulan Agustus juga. Kenapa Rainbow? tentu karena saya LGBT-supporter Karena yang blognya ultah di bulan Agustus ini ada tujuh orang. Giveaway-nya pun dilakukan dengan memberikan permainan tebak kover dengan tema warna. Warna yang saya dapat adalah warna kesukaan saya: Merah. Apa sih, hadiahnya?

[Review] The Girl on Paper (With Surprise News!)

Judul: The Girl on Paper Penulis: Guillaume Musso Penerjemah: Yudith Listriandi Penerbit: Spring Tahun cetakan: 2016 Jenis: Paperback Tebal: 447 halaman ISBN: 9786027432246

[Review] The Great Gatsby

Judul : The Great Gatsby Penulis : F. Scott Fitzgerald Penerbit : Serambi Tahun cetakan : 2010 Jenis : paperback ISBN : 9789790241923 Pertama kali saya membaca The Great Gatsby sekitar dua-tiga tahun lalu, membaca ebooknya, dan langsung drop di beberapa halaman awal karena, well , pada waktu itu saya masih tipe pembaca yang akan langsung berhenti membaca begitu beberapa halaman awal tidak bisa memikat saya--dan cerita ini gagal melakukannya. Meskipun begitu, belakangan saya mulai ingin mencoba untuk memberikan 'kesempatan kedua' bagi buku-buku yang saya tinggalkan begitu saja. Saya ingin mencoba membaca lewat buku fisiknya, karena siapa tahu dengan membaca buku fisiknya saya bisa tahan sampai habis. Makanya saya masukkan judul ini sebagai salah satu wishlist saya. Dan ternyata sewaktu ada event Secret Santa, Santa saya memberi saya buku ini! Wuaa lucky !