Skip to main content

[Review] A Monster Calls



Judul : A Monster Calls
Penulis : Patrick Ness
Penerbit : Candlewick Press
Tahun cetakan : 2011
Jenis : ebook
ISBN : 9780763655594

Rating : 5/5



A Monster Calls

Conor kerap mendapatkan mimpi buruk yang datang setiap tengah malam: mimpi yang begitu menyeramkan hingga dia akan tetap ketakutan bahkan setelah terbangun, mimpi yang terasa begitu nyata menyengkeramnya. Suatu malam, mimpi buruk tersebut akhirnya mewujud dalam kenyataan Conor. Pada pukul 12.07, Conor mengenali tanda-tanda familiar akan datangnya tersebut. Tapi ternyata, monster yang datang untuk menakutinya bukanlah monster seram dari mimpi buruknya.

Seekor monster yang mewujud dari pohon Yew di gereja di atas bukit mendatangi Conor setiap pukul 12.07 malam dan menceritakan tiga kisah padanya. Setelah kisah ketiga selesai diceritakan, monster tersebut menginginkan kisah keempat dari Conor: Kisah Kebenaran. Conor harus menceritakan kisah keempat tersebut dengan lengkap pada sang monster atau dia akan terjebak dalam mimpi buruk selamanya.

Kisah Pohon Yew

A Monster Calls sebenarnya adalah ide orisinil dari Siobhan Dowd yang terinspirasi dari penyakit terminal yang tengah dideritanya. Shioban Dowd telah menandatangani kontrak dengan penerbitnya untuk mempublikasikan novel ini, namun sayang, penyakitnya menang sebelum naskah ini terselesaikan. Setelah meninggalnya Dowd, editornya merasa sayang membuang naskahnya dan menawarkannya pada Patrick Ness untuk ditulis ulang sesuai dengan interpretasinya. Patrick Ness menyetujui, dan lahirlah sebuah karya luar biasa ini.

Tiga hal yang membuat saya membaca cerita ini: mimpi sebagai realisasi alam tak sadar manusia, kehilangan, dan keterasingan. Conor adalah seorang anak berusia 13 tahun yang hidupnya berubah sejak ibunya divonis menderita kanker stadium akhir. Di rumah dia harus menghadapi kenyataan bahwa tubuh ibunya semakin lama semakin lemah, sementara di sekolah, semua teman dan gurunya memandangnya dengan kasihan dan menghindari untuk bicara dengannya kecuali tiga bully sekolah, Harry dan teman-temannya, yang jadi rajin mengganggu Conor.

Tokoh-tokoh dalam novel ini bisa dijelaskan karakternya dengan baik walau hanya dalam kalimat-kalimat singkat. Saya paling suka pada tokoh Conor dan Harry si bully, terutama hubungan mereka yang terbentuk dengan aneh tapi saling pengertian. Patrick Ness memiliki cara yang unik dalam menciptakan dimensi bagi karakter-karakternya. Semua karakter di buku ini seolah menyembunyikan intensi masing-masing, yang alih-alih dijelaskan, malah seolah membuat pembaca berusaha menebak sendiri bagaimana sifat mereka yang sebenarnya. Patrick Ness juga sangat lihai dalam membangun atmosfir psikologis Connor sebagai narator cerita. Pembaca yang pernah terlibat dalam perawatan orang tersayang yang terkena penyakit terminal akan dengan mudah bersimpati dengan segala kebingungan dan perasaan keterasingan Connor dalam siklus berduka--yang tidak disadarinya.

Kisah Kehilangan

Pada intinya, sejak awal pembaca sudah akan tahu bahwa kisah ini adalah kisah tentang menghadapi kedukaan, juga tentang melihat segala sesuatu hanya dari dikotomi baik-buruk. Meskipun temanya biasa, namun Patrick Ness menyajikannya dengan unik, implisit, lirikal, dan emosional. Tulisannya adalah tipe tulisan yang menyedot perhatian pembaca dan mengajak pembaca hanyut dalam kisahnya meskipun sejak awal pembaca sudah mengantisipasi akhirnya. Karena yang terpenting seringkali adalah proses, bukan hasil akhirnya.

Comments

Popular posts from this blog

August Rainbow Giveaway Hop - Red

Halooo~ ada giveaway lagi niiih~ kali ini giveaway-nya dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama. Yaay! Nggak terasa udah setahun umur blog ini. Sebenarnya ultah blog ini sudah dari tanggal 8 Agustus kemarin, tapi lalu saya lupa (ups) dan kebetulan ada rencana bloghop dengan teman-teman yang ultahnya di bulan Agustus juga. Kenapa Rainbow? tentu karena saya LGBT-supporter Karena yang blognya ultah di bulan Agustus ini ada tujuh orang. Giveaway-nya pun dilakukan dengan memberikan permainan tebak kover dengan tema warna. Warna yang saya dapat adalah warna kesukaan saya: Merah. Apa sih, hadiahnya?

[Review] The Girl on Paper (With Surprise News!)

Judul: The Girl on Paper Penulis: Guillaume Musso Penerjemah: Yudith Listriandi Penerbit: Spring Tahun cetakan: 2016 Jenis: Paperback Tebal: 447 halaman ISBN: 9786027432246

[Review] The Great Gatsby

Judul : The Great Gatsby Penulis : F. Scott Fitzgerald Penerbit : Serambi Tahun cetakan : 2010 Jenis : paperback ISBN : 9789790241923 Pertama kali saya membaca The Great Gatsby sekitar dua-tiga tahun lalu, membaca ebooknya, dan langsung drop di beberapa halaman awal karena, well , pada waktu itu saya masih tipe pembaca yang akan langsung berhenti membaca begitu beberapa halaman awal tidak bisa memikat saya--dan cerita ini gagal melakukannya. Meskipun begitu, belakangan saya mulai ingin mencoba untuk memberikan 'kesempatan kedua' bagi buku-buku yang saya tinggalkan begitu saja. Saya ingin mencoba membaca lewat buku fisiknya, karena siapa tahu dengan membaca buku fisiknya saya bisa tahan sampai habis. Makanya saya masukkan judul ini sebagai salah satu wishlist saya. Dan ternyata sewaktu ada event Secret Santa, Santa saya memberi saya buku ini! Wuaa lucky !