Skip to main content

[Review] Time After Time



Judul: Time After Time: Jatuh Cinta Sekali Lagi
Penulis: Aditia Yudis
Penerbit: Gagasmedia
Tahun cetakan: 2015
Jenis: paperback
ISBN: 9789797807894




Kompas waktu

Beberapa hari setelah kematian ayahnya, Lasja mendapatkan sebuah telepon misterius yang mengatakan soal paket yang tak pernah diterimanya. Penelepon itu mengatakan untuk menggunakan benda dalam paket itu untuk mengetahui kebenaran tentang ibunya. Karena selama ini Lasja percaya cerita ayahnya yang mengatakan bahwa sang ibu meninggal dalam kebakaran, Lasja mengabaikan ucapan penelepon misterius tersebut. Namun kemudian sahabatnya, Effie, menemukan paket berisi kompas misterius saat membantunya membereskan peninggalan ayahnya.

Keraguan mulai menyerang Lasja, terutama ketika mengingat bahwa ayahnya tidak pernah membicarakan atau menunjukkan foto ibunya sama sekali. Saat Lasja tengah dilanda kegalauan, kompas itu bekerja dan membawanya ke masa lalu. Surabaya pada era 80-an, tempat dimana kedua orangtuanya masih bersama.

Di sana, Lasja berusaha mencari tahu kebenaran tentang keberadaan ibunya, dibantu oleh seorang pemuda SMA bernama Banyu yang perlahan-lahan jatuh hati padanya.

Cinta berbeda dimensi waktu

Tema cerita cinta berbeda dimensi waktu bisa dibilang bukan lagi hal yang baru. Kisah yang terkenal sudah ada The Time Traveler's Wife di genre kontemporer dan seri Outlander di genre historical fiction. Di cerita ini, alasan Lasja bisa melakukan perjalanan waktu adalah karena dia mendapat kompas ajaib dari seorang yang misterius. Karena kompasnya disebutkan hanya sebagai kompas 'ajaib' dan minim penjelasan sains di balik time travel, jadinya buku ini saya masukkan ke rak fantasi alih-alih sci-fi.

Ceritanya sendiri termasuk cepat. Di beberapa tempat bahkan semacam kelihatan jelas kalau naskah awal-awalnya dibabat cukup banyak. Karakter-karakternya, selain Lasja dan Leia, jadi semacam numpang lewat, padahal mungkin bisa jadi karakter yang menarik. Misalnya, Tami. Dari deskripsi sifatnya sebenarnya saya jatuh cinta sama dia, tapi eh ternyata tidak dieksplor lebih banyak. Bahkan Lendra, yang jadi love interest Lasja kurang bisa menimbulkan simpati dalam diri saya. Tapi di sisi lain, saya suka keputusan-keputusan Kak Tia untuk membuat karakter-karakternya tidak black and white, meski space untuk eksplorasi lebih sepertinya tidak terlalu ada. Akibatnya, mungkin, karakter jadi sulit mendapat simpati--terutama karakter utama, Lasja, yang menurut saya annoying, egois dan nggak dewasa--tapi konsistensi Kak Tia dalam mengolah karakter unlikable ini membuat saya berhasil membaca sampai selesai.

Untuk masalah misteri dalam cerita, sebenarnya sudah bisa ditebak dari bab pertama soal ibu Lasja dan si pemuda yang menolong Lasja di Surabaya era 80-an. Saya malah sebenarnya berharap ada teori loop di dalam cerita ini, tapi terlalu imoral mungkin, kalau Lasja berakhir lahir dirinya sendiri. lol. Lagipula, sepertinya Kak Tia sendiri tidak berusaha menyembunyikan misteri-misterinya terlalu dalam, jadi ya sudahlah. Hanya saja, suasana setting Surabaya era 80-annya menurut saya kurang terasa. Lebih karena bahasa yang digunakan kebanyakan seperti 'terjemahan bebas' dari bahasa inggris. Kalimat-kalimatnya pun terkesan seperti novel terjemahan hingga saya bahkan sulit membayangkan kalau semua ini terjadi di Indonesia.

Dan, satu protes lagi, why the geeky reference for scifi movies and books? Kalau cuma Lasja yang suka scifi stuff, oke, bisa dimaklumi. Tapi ini semua karakter di sekitar Lasja suka scifi/fantasy dan semuanya membicarakan masalah novel-novel terkenal di genre scifi/fantasy. Rasanya jadi seperti geeky fans club beda generasi secara kebetulan ketemu dan bikin arisan klub scifi, membicarakan film-film dan novel-novel scifi-fantasi terpopuler.

Tapi tetap saja, novel Time After Time ini sangat menghibur dan nggak bikin bosan. Cocok buat yang lagi butuh bacaan cepat dan ringan tanpa terlalu banyak mikir. Saya suka gaya menulis Kak Tia yang mengalir. Enak banget dibaca. Rasanya ada keindahan tersendiri gitu dari tulisan Kak Tia #eaa. Jujur, saya kebanyakan ngowoh sama susunan kalimatnya dibanding ceritanya sendiri. Aaaah enak banget! Bikin iri! Kapan saya bisa nulis seenak itu? :'(

Comments

Popular posts from this blog

August Rainbow Giveaway Hop - Red

Halooo~ ada giveaway lagi niiih~ kali ini giveaway-nya dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama. Yaay! Nggak terasa udah setahun umur blog ini. Sebenarnya ultah blog ini sudah dari tanggal 8 Agustus kemarin, tapi lalu saya lupa (ups) dan kebetulan ada rencana bloghop dengan teman-teman yang ultahnya di bulan Agustus juga. Kenapa Rainbow? tentu karena saya LGBT-supporter Karena yang blognya ultah di bulan Agustus ini ada tujuh orang. Giveaway-nya pun dilakukan dengan memberikan permainan tebak kover dengan tema warna. Warna yang saya dapat adalah warna kesukaan saya: Merah. Apa sih, hadiahnya?

[Review] The Girl on Paper (With Surprise News!)

Judul: The Girl on Paper Penulis: Guillaume Musso Penerjemah: Yudith Listriandi Penerbit: Spring Tahun cetakan: 2016 Jenis: Paperback Tebal: 447 halaman ISBN: 9786027432246

[Review] The Great Gatsby

Judul : The Great Gatsby Penulis : F. Scott Fitzgerald Penerbit : Serambi Tahun cetakan : 2010 Jenis : paperback ISBN : 9789790241923 Pertama kali saya membaca The Great Gatsby sekitar dua-tiga tahun lalu, membaca ebooknya, dan langsung drop di beberapa halaman awal karena, well , pada waktu itu saya masih tipe pembaca yang akan langsung berhenti membaca begitu beberapa halaman awal tidak bisa memikat saya--dan cerita ini gagal melakukannya. Meskipun begitu, belakangan saya mulai ingin mencoba untuk memberikan 'kesempatan kedua' bagi buku-buku yang saya tinggalkan begitu saja. Saya ingin mencoba membaca lewat buku fisiknya, karena siapa tahu dengan membaca buku fisiknya saya bisa tahan sampai habis. Makanya saya masukkan judul ini sebagai salah satu wishlist saya. Dan ternyata sewaktu ada event Secret Santa, Santa saya memberi saya buku ini! Wuaa lucky !