Skip to main content

[Review] A Little Life



Judul: A Little Life
Penulis: Hanya Yanagihara
Penerbit: Doubleday
Tahun cetakan: 2015
Jenis: ebook
Tebal: 669 halaman
ISBN: 9780385539265



PERHATIAN: Buku ini memiliki beberapa trigger yang mungkin akan dapat memengaruhi kondisi mental pembaca yang pernah/sedang mengalami isu-isu sensitif--perkosaan, penganiayaan fisik dan seksual, kekerasan pada anak, kecanduan obat-obatan, penyakit kejiwaan serta kecenderungan bunuh diri. Jika memiliki salah satu dari trigger yang disebutkan, disarankan untuk tidak membaca buku ini atau membaca dengan pantauan orang sekitar.


A Circle of Four

Buku ini mengisahkan tentang dinamika persahabatan empat orang laki-laki sepanjang masa dewasa muda hingga dewasa madya mereka selama tiga puluh empat tahun. Persahabatan keempatnya dimulai sejak mereka satu kamar di asrama selama masa perkuliahan dan berlanjut hingga masa dewasa mereka. 

Malcolm satu-satunya yang datang dari keluarga kaya di antara mereka berempat. Namun, sebagai seorang arsitek yang memiliki karir serta kehidupan percintaan yang stagnan, dia selalu merasa tidak pernah membanggakan orangtuanya. Kedua orangtuanya selalu lebih membanggakan kakaknya, meski Malcolm telah membuang mimpinya membuat firma bersama teman-temannya dan masuk ke firma ternama hanya demi membuat ayahnya bangga. Sementara itu, keluarga JB selalu mendukung penuh karir keartisannya yang bahkan belum tampak menjanjikan meskipun dia memiliki koneksi di seluruh New York.

Masalah karir yang belum terlihat hasilnya juga dialami oleh Willem, aktor tampan yang datang dari keluarga miskin di Wyoming. Meski kemampuan akting Willem terbilang bagus, namun karirnya tersendat karena dia sering menolak peran bagus demi menjaga kakaknya yang memiliki cerebral palsy--dan kemudian hari, Jude. Anggota terakhir dari empat sekawan ini adalah Jude, litigator dengan karir cemerlang dan latar belakang misterius. Tidak ada yang tahu siapa orangtua Jude dan latar belakang rasnya, juga alasan mengapa dia berjalan pincang dan sering mendapatkan serangan rasa sakit tiba-tiba. Ketiga temannya selalu berhati-hati saat bicara dengan Jude, dengan Willem seolah menjadi perantara antara Jude dan kedua temannya yang lain, sekaligus sebagai penjaga utama laki-laki rapuh itu. 

Kehidupan persahabatan mereka selalu berporos pada Jude. Dan karena Jude pulalah, kehidupan ketiga orang tersebut--dan bentuk persahabatan mereka--perlahan berubah.

A Little Life

Dengan mudah saya menobatkan buku ini sebagai buku terbaik yang saya baca tahun ini. Saya selalu percaya bahwa buku luar biasa hanya ada satu dalam setahun. Entah itu karena setelah membaca buku luar biasa itu saya jadi menghindari membaca buku bagus lain atau apakah memang buku semacam itu hanya ada satu dalam setahun, saya tidak tahu. Yang jelas, begitu melihat A Little Life di daftar rilis sastra kontemporer tahun ini, saya langsung yakin bahwa buku ini akan menjadi jagoan saya tahun ini. Dan harapan saya tidak dikecewakan oleh Hanya Yanagihara.

Sulit untuk menjelaskan bagian mana yang saya suka dari buku ini, karena saya suka SEMUANYA!! Karakterisasinya begitu apik dan kompleks, meski sedikit disayangkan porsi JB yang agak kurang dibanding tiga yang lainnya. Saya paling suka dengan Willem, aktor yang sangat baik hati itu. Saya paling bisa relate dengan Willem, mungkin karena struggle saya paling mirip dengannya--datang dari keluarga miskin, sekolah dengan beasiswa, berjuang dengan karir sebagai aktor dari bawah dan nyaris putus asa, serta selalu jadi perawat bagi orang-orang difabel, baik fisik (kakaknya) ataupun mental (Jude). Willem juga sangat sabar dan pengertian, pokoknya suami-able banget, deh. Sayang udah punya Jude. Karakter di luar empat sekawan ini terhitung banyak, dan semuanya dikenalkan di awal, tapi hanya beberapa yang akhirnya berperan signifikan dalam kehidupan Jude dan Willem, seperti Harold dan Julia, orangtua angkat Jude, dan Richard, teman satu apartemen Jude yang banyak membantu Jude mengatasi segala isunya selama Willem tidak ada.

Dari segi bahasa juga menurut saya indah dan apik, meski timeline-nya berlompatan seperti kelinci, jadi kalau lengah sedikit saja mungkin bisa bingung adegan yang dibaca ada dalam setting waktu kapan. Tapi terlepas dari itu, diksi Yanagihara sangat memukau, begitu mengalir hingga pembaca dapat merasakan dengan tepat situasi di dalam cerita, jadi rasanya kehilangan timeline satu-dua kali pun tak masalah (lol). Selain itu, saya juga suka pada keindahan hubungan Willem dan Jude, tentang betapa pengertiannya Willem pada kebutuhan Jude meski kedua temannya yang lain, Malcolm dan JB--terutama JB--sering curiga pada masa lalu Jude yang diliputi misteri. Willem juga terbukti menjadi satu-satunya yang tanpa lelah selalu ada di sisi Jude meski Jude tertutup bahkan padanya.

Seperti yang sudah saya tulis di awal, buku ini memiliki banyak trigger bagi mereka yang pernah/sedang mengalami isu-isu sensitif. Dan triggers ini bukan main-main. Saya sendiri harus menutup buku ini berkali-kali hanya untuk menenangkan diri agar stabilitas mental saya tidak terganggu--karena saya punya minor trigger. Jadi, peringatan di atas bukan sembarangan. Tolong jangan dibaca jika memiliki riwayat reaksi serius pada beberapa isu, karena buku ini tipe buku yang "menyakitimu dengan keindahan." (apa sih Yuu)

Yah begitulah. Lima bintang penuh dari saya. Dan seperti biasa, review saya soal buku lima bintang biasanya kebanyakan rambling. Jadi saya sudahi di sini saja. Yang jelas, buku ini sangat bagus dibaca bagi yang penasaran dengan pergulatan internal orang-orang dengan trauma dan penyakit kejiwaan. Hanya Yanagihara menggambarkannya dengan apik sekali. Full blast five stars!

Comments

Popular posts from this blog

August Rainbow Giveaway Hop - Red

Halooo~ ada giveaway lagi niiih~ kali ini giveaway-nya dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama. Yaay! Nggak terasa udah setahun umur blog ini. Sebenarnya ultah blog ini sudah dari tanggal 8 Agustus kemarin, tapi lalu saya lupa (ups) dan kebetulan ada rencana bloghop dengan teman-teman yang ultahnya di bulan Agustus juga. Kenapa Rainbow? tentu karena saya LGBT-supporter Karena yang blognya ultah di bulan Agustus ini ada tujuh orang. Giveaway-nya pun dilakukan dengan memberikan permainan tebak kover dengan tema warna. Warna yang saya dapat adalah warna kesukaan saya: Merah. Apa sih, hadiahnya?

[Review] The Girl on Paper (With Surprise News!)

Judul: The Girl on Paper Penulis: Guillaume Musso Penerjemah: Yudith Listriandi Penerbit: Spring Tahun cetakan: 2016 Jenis: Paperback Tebal: 447 halaman ISBN: 9786027432246

[Review] The Great Gatsby

Judul : The Great Gatsby Penulis : F. Scott Fitzgerald Penerbit : Serambi Tahun cetakan : 2010 Jenis : paperback ISBN : 9789790241923 Pertama kali saya membaca The Great Gatsby sekitar dua-tiga tahun lalu, membaca ebooknya, dan langsung drop di beberapa halaman awal karena, well , pada waktu itu saya masih tipe pembaca yang akan langsung berhenti membaca begitu beberapa halaman awal tidak bisa memikat saya--dan cerita ini gagal melakukannya. Meskipun begitu, belakangan saya mulai ingin mencoba untuk memberikan 'kesempatan kedua' bagi buku-buku yang saya tinggalkan begitu saja. Saya ingin mencoba membaca lewat buku fisiknya, karena siapa tahu dengan membaca buku fisiknya saya bisa tahan sampai habis. Makanya saya masukkan judul ini sebagai salah satu wishlist saya. Dan ternyata sewaktu ada event Secret Santa, Santa saya memberi saya buku ini! Wuaa lucky !