Skip to main content

[Review] Partitur Dua Musim


Judul : Partitur Dua Musim; the moments that bring me back to you
Penulis : Farrahnanda
Penerbit : deTeens
Tahun cetakan : 2014
Jenis : Paperback
ISBN : 9786022555285

Rating : 2,5 / 5


Peringatan: Kemungkinan besar review ini akan mengandung spoiler, karena akan sulit membuatnya tanpa menyelipkan sedikit/sebagian konten cerita.


Si kembar Laroux

The Red, musisi klasik yang tenar di Youtube, tiba-tiba mendapatkan pesanan untuk membuat sebuah simfoni seharga lima ratus juta dolar Kanada dari M. Barnabe. Simfoni itu dipesan khusus untuk ulang tahun ke-18 putri M. Barnabe, Monique. Tak disangka, sosok The Red ternyata bukan hanya satu, melainkan merupa sosok kembar Laroux, Scarlet dan Crimson. Scarlet yang selama ini menciptakan musik-musik yang akan dimainkan Crimson atas nama The Red.

Scarlet pun akhirnya menyetujui untuk membuat simfoni tersebut, yang nantinya akan dimainkan oleh Crimson di pesta ulang tahun Monique dengan bantuan La Nuit Orchestra. Di pesta itulah, si kembar Laroux akan bertemu dengan Elena Dvorakova, perancang busana ternama yang menjungkirbalikkan hidup dua anak kembar ini dalam rangkaian cinta trapesium yang canggung--dengan Scarlet yang memiliki spektrum autis dan Elena yang memiliki gangguan bipolar. Terlebih lagi, ketika ternyata salah satu di antara keempat orang tersebut menyimpan sebuah rahasia yang dapat membahayakan keberadaan si kembar Laroux.

Cinta Trapesium

Ini novel kedua dari Farrah yang saya baca setelah Beautiful Nightmares. Hal yang paling saya suka dari novel-novel buatan Farrah adalah ide dan tema ceritanya yang selalu unik. Jika Beautiful Nightmares sarat fantasi dengan incubus/succubus di dalamnya, maka Partitur Dua Musim ini mengedepankan tema orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Jika dibandingkan, PDM terasa lebih mengalir secara penulisan daripada penulisan dalam BN yang terasa terlalu padat. Secara tema pun, saya lebih menyukai PDM karena lebih dekat dengan interest saya di bidang psikologi.

Dapat dilihat jelas kalau penulisnya melakukan riset yang mendalam dalam pengerjaan novel ini, jika menilik halaman ucapan terima kasihnya yang bertaburan gelar. (hehe) Dan memang secara teori, novel PDM ini menyajikan gambaran yang cukup baik mengenai orang-orang dengan spektrum autisme dan gangguan bipolar--terutama sekali penggambaran Scarlet dengan autismenya. Hanya saja, penggambaran karakter secara keseluruhan tokoh-tokoh dalam novel ini terasa kurang kuat, selain dari gangguan yang dideritanya. Kesannya jadi seolah mereka hanyalah makhluk ciptaan yang ditempeli label gangguan, dan mereka wajib menjelaskan gejala gangguan mereka secara naratif, by the book. Eksekusi kepribadian mereka terasa one-dimensional. Elena dan Scarlet bisa lebih menyolok secara karakterisasi hanya karena mereka memiliki gangguan, sementara Crimson dan Monique yang tokoh-tokoh tanpa gangguan serta tokoh sampingannya dibahas dengan satu set karakteristik yang tetap dan tidak dinamis, membuat pembaca sulit untuk masuk dan menghayati hubungan-hubungan yang terjadi antarkarakter.

Secara plot, sulit untuk mengetahui apa fokus dari cerita ini, karena pembahasan ide cerita yang banyak namun semuanya hanya di permukaan. Tidak jelas apa yang ingin disampaikan dari plot Scarlet sebagai orang dengan autisme, hubungannya dengan Elena pun tidak terbahas dengan meyakinkan dan terkesan tiba-tiba. Plot misterinya sendiri seolah lenyap begitu saja di tengah-tengah, dan kembali di akhir dengan kesimpulan yang terlihat seperti out-of-the-blue dan serba kebetulan. Saya menebak bahwa fokus utama buku ini adalah kisah cinta trapesium antara Monique-Crimson-Elena-Scarlet, tapi karena pembahasan emosional keempat karakter tersebut terasa mentok dan tidak dapat dihayati, hal itu pun berakhir mengambang. Juga, di blurb novel ada yang menyebutkan tentang Scarlet sebagai seorang aseksual, yang sebenarnya tidak perlu karena Scarlet sendiri tidak pernah sekali pun menyadari/menyebut/mengakui/mengetahui seksualitasnya. Di dalam buku hanya disebutkan kalau Scarlet "tidak suka disentuh orang lain", tapi dia tidak pernah mengidentifikasikan dirinya sebagai aseksual--tidak juga Crimson--hingga tingkah lakunya yang tidak suka disentuh itu murni bisa dianggap sebagai akibat dari gejala autismenya tanpa perlu mengungkit mengenai seksualitasnya.

Secara penulisan, gaya menulis Farrah terbilang mengalir dan nyaman dibaca. Walau terkesan baku seperti naskah terjemahan, tapi bisa ditolerir karena setting yang memang berada di luar negeri. Meskipun demikian, masih sering ditemukan kata-kata yang tidak pas dengan konteks kalimat. Yang paling sering adalah penggunaan kata "seloroh" (berkelakar/bercanda) saat tokoh digambarkan tengah berteriak serius. Selain itu, pace cerita terkesan begitu lambat dengan kecenderungan penulis menggambarkan segala detil gerakan tokoh dengan deskripsi monoton. Mungkin akan tepat digunakan untuk POV Scarlet yang memang memiliki autisme, tapi ketika diterapkan juga pada POV Elena yang bipolar atau Crimson yang tidak mengidap gangguan, hal ini justru hanya akan menyusahkan pembaca dalam membedakan karakter-karakter narator.

Partitur Dua Musim

Novel ini menarik untuk dibaca bagi mereka yang penasaran tentang gangguan bipolar dan autisme, meskipun gambarannya masih merupakan sebagian gambaran umum yang mungkin tidak akan mutlak sesuai dengan orang-orang yang mengalami gangguan-gangguan kejiwaan tersebut. Pembahasan tentang musiknya pun menarik untuk dibaca. Dan jika melihat endingnya, sepertinya kemungkinan akan ada sekuel untuk mengungkap segala misteri tak terjelaskan di buku ini, termasuk masa lalu si kembar Laroux. I think it was worth waiting.

Comments

Popular posts from this blog

August Rainbow Giveaway Hop - Red

Halooo~ ada giveaway lagi niiih~ kali ini giveaway-nya dalam rangka ulang tahun blog saya yang pertama. Yaay! Nggak terasa udah setahun umur blog ini. Sebenarnya ultah blog ini sudah dari tanggal 8 Agustus kemarin, tapi lalu saya lupa (ups) dan kebetulan ada rencana bloghop dengan teman-teman yang ultahnya di bulan Agustus juga. Kenapa Rainbow? tentu karena saya LGBT-supporter Karena yang blognya ultah di bulan Agustus ini ada tujuh orang. Giveaway-nya pun dilakukan dengan memberikan permainan tebak kover dengan tema warna. Warna yang saya dapat adalah warna kesukaan saya: Merah. Apa sih, hadiahnya?

[Review] The Girl on Paper (With Surprise News!)

Judul: The Girl on Paper Penulis: Guillaume Musso Penerjemah: Yudith Listriandi Penerbit: Spring Tahun cetakan: 2016 Jenis: Paperback Tebal: 447 halaman ISBN: 9786027432246

[Review] The Great Gatsby

Judul : The Great Gatsby Penulis : F. Scott Fitzgerald Penerbit : Serambi Tahun cetakan : 2010 Jenis : paperback ISBN : 9789790241923 Pertama kali saya membaca The Great Gatsby sekitar dua-tiga tahun lalu, membaca ebooknya, dan langsung drop di beberapa halaman awal karena, well , pada waktu itu saya masih tipe pembaca yang akan langsung berhenti membaca begitu beberapa halaman awal tidak bisa memikat saya--dan cerita ini gagal melakukannya. Meskipun begitu, belakangan saya mulai ingin mencoba untuk memberikan 'kesempatan kedua' bagi buku-buku yang saya tinggalkan begitu saja. Saya ingin mencoba membaca lewat buku fisiknya, karena siapa tahu dengan membaca buku fisiknya saya bisa tahan sampai habis. Makanya saya masukkan judul ini sebagai salah satu wishlist saya. Dan ternyata sewaktu ada event Secret Santa, Santa saya memberi saya buku ini! Wuaa lucky !