Friday, April 25, 2014

[Review] Orang Asing



Judul : Orang Asing
Penulis : Albert Camus
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun cetakan : 2013
Jenis : paperback
ISBN : 9789794618622

Rating : 4/5


Mungkin beberapa orang sudah tahu kalau saya adalah penggemar Camus dan teori absurdismenya, tapi belum juga selesai membaca karyanya (terutama Le Mythe de Sisyphe) karena saya tampaknya belum begitu bisa membaca karya serumit filsafat hanya dengan ebook. Jadi begitu tahu bahwa L'Estranger diterjemahkan ulang oleh YOI, saya langsung cabut membelinya. Sekalian mumpung harganya nggak terlalu mengintimidasi--tapi memang tipis, sih, bukunya.

Berawal dari Kematian

Cerita Orang Asing ini dibuka dengan berita kematian ibu Mersault, sang tokoh utama kita. Mersault diceritakan sebagai orang yang merasa tidak "terkoneksi" dengan kehidupan. Dia menganggap bahwa dalam hidup, apa yang terjadi memang wajar terjadi, dan dia menjalani semuanya dengan perasaan wajar. Karena itu saat mendengar bahwa ibu yang disayanginya meninggal, hingga sampai saat jasad sang ibunda telah dikubur, Mersault tidak merasakan sedikit pun gejolak perasaan. Tentu, ia sangat menyayangi ibunya, ia akan selalu menjawabnya demikian, tapi apakah dia sedih ketika ibunya meninggal? Tidak. Bagi Mersault, kematian adalah hal yang wajar bagi manusia, sesuatu yang tak terelakkan, dan wajar jika ibunya meninggal karena usia tua.

Tapi ternyata, pandangannya ini mendatangkan masalah tersendiri untuknya. Kematian ibunya dan sikap tak acuhnya dalam pemakaman ibunya kembali diungkit ketika dia harus kembali berurusan dengan kematian. Dan kali ini, Mersault dianggap bersalah.

Tentang Kehidupan

Sejak dulu saya penasaran, apa arti dari L'Etranger--atau yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Stranger atau The Outsider--yang akhirnya diartikan sebagai Orang Asing dalam bahasa Indonesia. Yang pertama masuk di pikiran saya waktu membaca judul The Stranger adalah "orang aneh", karena itu saya lumayan penasaran kenapa diterjemahkan sebagai Orang Asing di Indonesia. Ternyata setelah dibaca sampai tamat, baru saya paham alasannya. Memang, dalam cerita Mersault dikatakan sebagai orang aneh atau orang dingin, tapi kedinginannya itu terjadi karena Mersault selalu merasa bahwa hidup ini terjadi "di luar dirinya", seolah dia adalah boneka yang hanya menjalankan peran tertentu hingga kisahnya selesai. Tidak bisa dikatakan bahwa pandangan Mersault ini "aneh", karena kita masih dapat melihat logika yang dapat kita pahami di balik semua tindakannya, hanya saja logika tersebut dipergunakan sebagai "brutal honesty" olehnya, hingga orang-orang di sekitarnya seringkali tidak dapat mengerti pemikirannya. Dengan demikian, Orang Asing--dalam makna "orang yang merasa terasing (dari kehidupan)"--memang lebih tepat digunakan untuk menjelaskan keseluruhan dari kisah ini.

Nuansa cerita Orang Asing yang penuh dengan penggambaran keterasingan ini mengingatkan saya pada tulisan-tulisan Haruki Murakami atau Banana Yoshimoto, yang juga kerap menggunakan tokoh yang digambarkan tak acuh akan kehidupannya. Karena itu Orang Asing jadi lebih saya sukai dibanding Sampar, walau memang Sampar lebih mengeksplorasi masalah filsafat absurd dibanding Orang Asing yang sepertinya baru pembukaannya saja.

Dari sisi terjemahan juga saya lebih menyukai Orang Asing dibanding Sampar, mungkin karena penerjemahnya seorang dosen sastra Prancis, jadi pemilihan kata-katanya terkesan lebih luwes dan lebih enak dibaca. Walau kadang ada beberapa kata yang membuat saya berpikir, "mungkin ini enaknya ini", tapi lalu saya ingat bahwa pekerjaan penerjemah, selain menyajikan terjemahan yang enak dibaca, juga sebisa mungkin tidak mengubah gaya dan rasa tulisan pengarang asli, jadi saya biarkan saja semuanya hanya protes kecil di kepala saya. Ada beberapa typo juga di sana-sini, tapi subtle(?) dan menurut saya nggak terlalu mengganggu. Tapi secara keseluruhan, Orang Asing adalah sastra klasik terjemahan pertama yang menurut saya berhasil menyampaikan makna ceritanya dengan sempurna, dan saya sangat menikmati proses membaca cerita ini.

Absurdisme Kematian

Secara garis besar, tulisan Camus selalu menyinggung mengenai filsafat eksistensialisme, tapi karena saya takut dipelototi Om Camus dari surga karena saya seolah menyamakannya dengan Om Sartre, jadi marilah kita sebut tulisan Camus sebagai filsafat absurdisme--yang sebenarnya juga Om Camus tidak suka karyanya disebut absurdisme, duh, susahnya. Dalam Sampar, Camus menyinggung soal bagaimana absurdisme terjadi dalam cakupan skala luas, dalam komunitas, dan menjelaskan tentang berbagai cara manusia dalam menghadapinya. Dalam Orang Asing, Camus menyinggung sudut pandang absurdisme terhadap kematian, bahwa dengan menerima fakta mengenai kematian dan menjalani hidup dengan terus menyadari fakta tersebut, berarti kita telah berhasil menghadapi salah satu bentuk absurdisme dalam kehidupan. Sudahkah kita menerima kenyataan akan kematian kita?

2 comments:

  1. aaaah aku suka review kak ayu :'D aku baru baca buku ini dan jadi ngefans sama Camus :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihihi. Maacih~ baca yang Sampar jugaa, itu juga keren. X))

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...