Monday, July 20, 2015

[Review] A Little Life



Judul: A Little Life
Penulis: Hanya Yanagihara
Penerbit: Doubleday
Tahun cetakan: 2015
Jenis: ebook
Tebal: 669 halaman
ISBN: 9780385539265



PERHATIAN: Buku ini memiliki beberapa trigger yang mungkin akan dapat memengaruhi kondisi mental pembaca yang pernah/sedang mengalami isu-isu sensitif--perkosaan, penganiayaan fisik dan seksual, kekerasan pada anak, kecanduan obat-obatan, penyakit kejiwaan serta kecenderungan bunuh diri. Jika memiliki salah satu dari trigger yang disebutkan, disarankan untuk tidak membaca buku ini atau membaca dengan pantauan orang sekitar.


A Circle of Four

Buku ini mengisahkan tentang dinamika persahabatan empat orang laki-laki sepanjang masa dewasa muda hingga dewasa madya mereka selama tiga puluh empat tahun. Persahabatan keempatnya dimulai sejak mereka satu kamar di asrama selama masa perkuliahan dan berlanjut hingga masa dewasa mereka. 

Malcolm satu-satunya yang datang dari keluarga kaya di antara mereka berempat. Namun, sebagai seorang arsitek yang memiliki karir serta kehidupan percintaan yang stagnan, dia selalu merasa tidak pernah membanggakan orangtuanya. Kedua orangtuanya selalu lebih membanggakan kakaknya, meski Malcolm telah membuang mimpinya membuat firma bersama teman-temannya dan masuk ke firma ternama hanya demi membuat ayahnya bangga. Sementara itu, keluarga JB selalu mendukung penuh karir keartisannya yang bahkan belum tampak menjanjikan meskipun dia memiliki koneksi di seluruh New York.

Masalah karir yang belum terlihat hasilnya juga dialami oleh Willem, aktor tampan yang datang dari keluarga miskin di Wyoming. Meski kemampuan akting Willem terbilang bagus, namun karirnya tersendat karena dia sering menolak peran bagus demi menjaga kakaknya yang memiliki cerebral palsy--dan kemudian hari, Jude. Anggota terakhir dari empat sekawan ini adalah Jude, litigator dengan karir cemerlang dan latar belakang misterius. Tidak ada yang tahu siapa orangtua Jude dan latar belakang rasnya, juga alasan mengapa dia berjalan pincang dan sering mendapatkan serangan rasa sakit tiba-tiba. Ketiga temannya selalu berhati-hati saat bicara dengan Jude, dengan Willem seolah menjadi perantara antara Jude dan kedua temannya yang lain, sekaligus sebagai penjaga utama laki-laki rapuh itu. 

Kehidupan persahabatan mereka selalu berporos pada Jude. Dan karena Jude pulalah, kehidupan ketiga orang tersebut--dan bentuk persahabatan mereka--perlahan berubah.

A Little Life

Dengan mudah saya menobatkan buku ini sebagai buku terbaik yang saya baca tahun ini. Saya selalu percaya bahwa buku luar biasa hanya ada satu dalam setahun. Entah itu karena setelah membaca buku luar biasa itu saya jadi menghindari membaca buku bagus lain atau apakah memang buku semacam itu hanya ada satu dalam setahun, saya tidak tahu. Yang jelas, begitu melihat A Little Life di daftar rilis sastra kontemporer tahun ini, saya langsung yakin bahwa buku ini akan menjadi jagoan saya tahun ini. Dan harapan saya tidak dikecewakan oleh Hanya Yanagihara.

Sulit untuk menjelaskan bagian mana yang saya suka dari buku ini, karena saya suka SEMUANYA!! Karakterisasinya begitu apik dan kompleks, meski sedikit disayangkan porsi JB yang agak kurang dibanding tiga yang lainnya. Saya paling suka dengan Willem, aktor yang sangat baik hati itu. Saya paling bisa relate dengan Willem, mungkin karena struggle saya paling mirip dengannya--datang dari keluarga miskin, sekolah dengan beasiswa, berjuang dengan karir sebagai aktor dari bawah dan nyaris putus asa, serta selalu jadi perawat bagi orang-orang difabel, baik fisik (kakaknya) ataupun mental (Jude). Willem juga sangat sabar dan pengertian, pokoknya suami-able banget, deh. Sayang udah punya Jude. Karakter di luar empat sekawan ini terhitung banyak, dan semuanya dikenalkan di awal, tapi hanya beberapa yang akhirnya berperan signifikan dalam kehidupan Jude dan Willem, seperti Harold dan Julia, orangtua angkat Jude, dan Richard, teman satu apartemen Jude yang banyak membantu Jude mengatasi segala isunya selama Willem tidak ada.

Dari segi bahasa juga menurut saya indah dan apik, meski timeline-nya berlompatan seperti kelinci, jadi kalau lengah sedikit saja mungkin bisa bingung adegan yang dibaca ada dalam setting waktu kapan. Tapi terlepas dari itu, diksi Yanagihara sangat memukau, begitu mengalir hingga pembaca dapat merasakan dengan tepat situasi di dalam cerita, jadi rasanya kehilangan timeline satu-dua kali pun tak masalah (lol). Selain itu, saya juga suka pada keindahan hubungan Willem dan Jude, tentang betapa pengertiannya Willem pada kebutuhan Jude meski kedua temannya yang lain, Malcolm dan JB--terutama JB--sering curiga pada masa lalu Jude yang diliputi misteri. Willem juga terbukti menjadi satu-satunya yang tanpa lelah selalu ada di sisi Jude meski Jude tertutup bahkan padanya.

Seperti yang sudah saya tulis di awal, buku ini memiliki banyak trigger bagi mereka yang pernah/sedang mengalami isu-isu sensitif. Dan triggers ini bukan main-main. Saya sendiri harus menutup buku ini berkali-kali hanya untuk menenangkan diri agar stabilitas mental saya tidak terganggu--karena saya punya minor trigger. Jadi, peringatan di atas bukan sembarangan. Tolong jangan dibaca jika memiliki riwayat reaksi serius pada beberapa isu, karena buku ini tipe buku yang "menyakitimu dengan keindahan." (apa sih Yuu)

Yah begitulah. Lima bintang penuh dari saya. Dan seperti biasa, review saya soal buku lima bintang biasanya kebanyakan rambling. Jadi saya sudahi di sini saja. Yang jelas, buku ini sangat bagus dibaca bagi yang penasaran dengan pergulatan internal orang-orang dengan trauma dan penyakit kejiwaan. Hanya Yanagihara menggambarkannya dengan apik sekali. Full blast five stars!

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...