Sunday, September 13, 2015

[Review] The Lowland





Judul: The Lowland
Penulis: Jhumpa Lahiri
Penerbit: Knopf
Tahun cetakan: 2013
Jenis: Paperback
Tebal: 340 halaman
ISBN: 9780385351461



The Lowland

Dalam The Lowland, diceritakan mengenai dua bersaudara Subhash dan Udayan Mitra yang hanya terpaut usia 15 bulan (Subhash lebih tua) hingga mereka lebih seperti saudara kembar daripada kakak-adik. Subhash adalah tipikal anak penurut yang merasa bertanggungjawab terhadap keselamatan adiknya. Dia mengikuti Udayan yang selalu mempunyai ide-ide nakal dan memberontak. Tapi begitu mereka kuliah, kehidupan mereka perlahan terpisah, selain karena jurusan kuliah, tetapi karena pandangan hidup mereka yang semakin berbeda. Udayan mulai sering terlibat dengan pemberontakan kaum pelajar Marxis, sementara Subhash lebih tertarik pada ilmu pengetahuan. Merasa kesepian karena Udayan menjauh darinya secara fisik dan ideologi, Subhash memutuskan untuk mengejar gelar doktor ke Amerika.

Di India, Udayan bertemu dengan Gauri, adik teman seperjuangannya yang menggemari filsafat. Tidak seperti dalam adat India yang mengharuskan pernikahan anak diatur oleh kedua orangtuanya, Udayan dan Gauri memutuskan untuk kabur dari rumah dan menikah tanpa sepengetahuan keluarga mereka. Mereka akhirnya kembali ke rumah Udayan di Tollygunge, namun kegiatan kelompok pergerakan yang diikuti Udayan semakin anarkis hingga menyebabkan Udayan menjadi ditangkap polisi dan dieksekusi. 

Dalam keadaan seperti itu, Subhash pulang dari Amerika dengan menyadari bahwa keluarganya tak lagi menganggap kehadirannya karena terlalu berduka atas kematian Udayan dan bahwa istri Udayan tengah mengandung putra adiknya. Kembali merasa perannya sebagai seorang kakak dibutuhkan, Subhash pun menawari Gauri pergi bersamanya kembali ke Amerika dan menjadi istrinya agar anak Udayan tidak lahir tanpa sosok ayah. Gauri menyetujuinya dan mereka tinggal bersama di Boston. Sayangnya, kehidupan mereka bersama selalu dibayangi oleh kematian Udayan.

Two Brothers

The Lowland merupakan versi perpanjangan dari novelet Brotherly Love (diterjemahkan oleh Bukukatta dengan judul Dua Saudara) yang dimuat di The New Yorker. Novel ini terdiri dari lima bagian dan Brotherly Love menceritakan bagian pertama The Lowland, yaitu tentang kehidupan Subhash dan Udayan di Tollygunge sejak kecil hingga mereka berbeda pandangan saat dewasa. Saya paling menyukai bagian ini, karena menunjukkan bagaimana hubungan Subhash dan Udayan yang tetap saling menyayangi meski pandangan hidup mereka berbeda 180 derajat.

Di beberapa tempat memang ceritanya terasa dragging karena hanya menceritakan tentang kehidupan Subhash dan Gauri di Amerika selama puluhan tahun dari masa mereka pertama menikah hingga memiliki cucu, tapi saya selalu mampu terhanyut dengan mudah ke dalam tulisan Jhumpa Lahiri tanpa pernah bosan. Seperti biasa, gaya menulis Jhumpa Lahiri selalu melankolis dan indah, bercerita tentang orang-orang dan hal-hal yang tidak pernah bisa menjadi lebih baik. Saya selalu terpesona pada penulis yang memilih untuk menyajikan kenyataan bahwa ada hal-hal yang tidak akan bisa menjadi lebih baik di dunia ini, di saat dunia sedang seru mendukung jargon "It gets better." Karena memang kadang sesuatu di dunia ini tidak menjadi lebih baik oleh waktu, tapi bisa menjadi lebih buruk atau mandeg di tempat. Sangat jarang penulis yang bisa menyampaikan hal itu dengan baik, dan Jhumpa Lahiri termasuk salah satu yang berhasil.

Subhash mendapatkan perhatian saya yang paling utama dan sukses menyabet gelar "tokoh utama terngenes tahun ini" dari saya. Subhash ini sangat suami-able, tapi kok doyannya selalu sama perempuan yang susah move on dari pasangan sebelumnya. Tapi saya melihat konsistensi sikap Subhash ini kuat sekali. Sepertinya dia tertarik sama orang-orang yang fokus dan setia dengan prinsipnya, seperti Udayan--dan Gauri, dan kekasih-kekasihnya. Gauri bukan tipe karakter yang saya sukai, tapi di sisi lain, Jhumpa Lahiri pandai membuat saya memahami perasaan Gauri dan mentolerir sikapnya--meski saya tetap sebal karena perlakuannya pada Subhash dan putrinya, Bela.

Move On

Secara keseluruhan, saya lebih menyukai karya-karya Lahiri yang lain, seperti Interpreter of Maladies atau The Namesake. Saya merasa kekuatan Jhumpa Lahiri ada di penulisan karya yang lebih pendek, seperti cerpen atau novelet. Tapi The Lowland tetap menyajikan kisah-kisah ngenes orang-orang yang susah move on, orang-orang yang terjebak dalam masa lalu, dengan keindahan yang tidak membosankan selama 340 halaman. Dan saya tetap menjadi penggemar setia Jhumpa Lahiri.

2 comments:

  1. Belum pernah baca karya-karya Jhumpa Lahiri >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau nggak salah The Lowland ini barusan diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Mungkin bisa dicari kalau tertarik. X))

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...