Menerapkan Minimalisme dan Mindfulness dalam Konsumsi Buku

Halo! Wah, rasanya sudah lama sekali saya tidak menulis di sini.

Jujur saja, sejak terakhir saya membuat post tentang buku, saya sedang merasa stuck--baik dengan blog ini, maupun dengan hobi membaca saya.

Pada akhir 2017, saya merasa bahwa sebagai book blogger, jika ingin menjadi book blogger yang baik maka saya harus rajin membuat ulasan buku-buku yang fresh. Saya dibutuhkan banyak membeli dan membaca buku-buku tersebut, kalau bisa punya buku fisiknya pula untuk difoto. 

Jujur saja, hal ini membuat rumah saya pernah dalam kondisi overload buku. Saya tidak tahu harus saya kemanakan buku-buku yang sudah saya baca selain ditumpuk begitu saja. Dijual? Tidak semuanya laku. Dibarter? Tidak semua judul juga menemukan jodohnya. Keuangan pun besar pasak daripada tiang. Kalau besar pasaknya untuk buku-buku yang tidak saya beli demi tren semata, mungkin masih ada perasaan untung, tetapi ini tidak!

Setelah menyadari ini, hasrat saya untuk melanjutkan blog makin lama makin hilang. Saya berhenti membeli buku sesuai tren dan hanya membeli buku yang saya butuhkan. Saya juga tidak lagi menulis ulasan karena merasa kecepatan membaca saya menurun dan tidak mampu mengikuti tren di dunia buku.

Setelah beralih membaca untuk diri sendiri, saya mulai mendapatkan kesenangan membaca lagi. Hingga hadirlah banjir besar 1 Januari yang mengepung Jabodetabek awal tahun ini. 

Rumah saya juga kena. Dua meter tingginya. Semua barang pribadi dan tumpukan buku saya terendam. Saya harus membuang semua buku saja karena semuanya sudah jadi bubur kertas dan tidak ada waktu untuk menyelamatkan semuanya.

Alih-alih sedih, saya justru merasa lega. Tentu ada perasaan sedih karena buku-buku yang penting untuk saya pun ikut terbuang, tapi sebagian besar saya merasa lega tumpukan buku itu hilang. Karena saya jadi punya alasan untuk membuang buku-buku tersebut tanpa merasa sayang karena itu hadiah atau hasil menang giveaway.

Saat itulah saya sadar bahwa hal inilah yang mungkin saya butuhkan. Saya sudah terlalu tenggelam dalam konsumerisme dengan justifikasi bahwa kalau untuk membeli buku yang mendatangkan ilmu maka tidak apa-apa.

Saat saya menyadari hal ini juga berbarengan dengan viralnya metode KonMari yang mendapat banyak sindiran dari para pencinta buku karena statemen kontroversialnya, "idealnya, setiap orang memiliki maksimal 30 buku di rumahnya." Karena saya penasaran akhirnya membaca buku tulisan Mari Kondo tersebut.

Dari situ, akhirnya saya mendapatkan jawaban dari rasa stuck yang saya rasakan sebelumnya dan kenapa saya merasa lega saat banjir menelan sebagian besar koleksi buku saya. Mungkin nanti akan saya buat postingan lebih lanjut mengenai pembelaan seorang yang hobi membaca terhadap KonMari. Supaya ada opini yang seimbang. hehe.

Setelah itu, saya memutuskan untuk mengubah cara saya dalam belanja buku. Jika sebelumnya saya belanja untuk ikut tren dan supaya bisa difoto, sekarang saya memutuskan untuk lebih banyak membeli e-book. Saya hanya akan membeli buku fisik untuk buku-buku yang saya yakin akan sering saya baca ulang. Juga, saya lebih memilih berlangganan persewaan digital bulanan seperti Scribd dan Gramedia Digital hingga bisa lebih memfokuskan pembelian e-book pada buku-buku yang tidak ada di sana. Intinya, saya ingin lebih mindful dalam konsumsi saya, termasuk buku.

Saya juga akan mengubah format ulasan di blog ini. Saya akan kembali mengulas, tapi alih-alih ulasan panjang penuh setelah selesai membaca, saya mungkin kadang akan memberikan first impression, atau menulis jika ada hal menarik yang perlu saya bahas saja. Formatnya pun mungkin akan lebih berbentuk seperti artikel alih-alih menggunakan format ulasan yang menyertakan data buku. Toh ada goodreads, dan semuanya sudah pintar-pintar mencari info dari google.

Layout blog pun saya ubah jadi lebih minimalis. Semakin tua saya jadi malas sama yang ribet-ribet sepertinya.

Jadi demikianlah. Semoga saya bisa kembali mengisi blog ini dan kembali mendapatkan kesenangan darinya. :)

Comments

Popular posts from this blog

[Review] Majapahit : Sandyakala Rajasawangsa

[Review] Sampar

[Review] The Song of Achilles