Saturday, May 10, 2014

[Review] A Dandelion Wish



Judul : A Dandelion Wish
Penulis : Xi Zhi
Penerbit : Haru
Tahun cetakan : 2014
Jenis : Paperback
ISBN : 6027742348

Rating : 3/5


Saya termasuk beruntung karena bisa dapat buku ini. Waktu dikasih pilihan buku, saya minta judul yang lain, tapi terus setelah iseng liat sinopsisnya jadi berpikir, "ah, kenapa nggak pilih A Dandelion Wish aja? Semoga yang dikirimin yang itu." Dan ternyata benar, saya dikirimi A Dandelion Wish. haha. Lucky me. Walau awalnya lumayan baffled sama ketebalannya dan ragu bisa selesai dalam seminggu. Tapi ternyata ceritanya ringan, jadi bisa selesai dalam seminggu. So, here it goes.


Si Dokter Robot

Bai Qian Xun adalah seorang dokter bedah jantung termuda--dan bisa dibilang tercerdas--di Taiwan. Di saat dokter lain baru bisa menjadi dokter bedah pada usia paruh baya, Bai Qian Xun berhasil mendapatkan gelar itu di usianya yang baru menginjak 27 tahun. Di rumah sakit tempatnya bekerja, Bai Qian Xun terkenal sebagai dokter yang memiliki tangan yang sedingin hati dan sifatnya. Dia dihormati dan dipuja koleganya, tapi tak ada yang benar-benar bisa dekat dengannya.

Lalu di suatu hari berbadai, setelah keributan melelahkan di UGD yang terus-terusan memasok orang-orang terluka karena badai, Bai Qian Xun menemukan seorang lelaki tinggi terdampar di atas kap mobilnya. Dengan santai laki-laki itu meminta Bai Qian Xun untuk menampungnya. Mengira laki-laki itu sebagai gelandangan, awalnya Bai Qian Xun menolak dan hanya memberinya sedikit uang agar laki-laki itu bisa mencari hotel dan terhindar dari badai. Tapi setelah melihat laki-laki itu malah berpindah ke kap mobil orang lain alih-alih mencari hotel, akhirnya Bai Qian Xun berubah pikiran dan menampung 'serigala kecil' itu.

Namun ternyata si serigala kecil terbukti berguna. Laki-laki yang menyebut dirinya sebagai Cheng Feng itu ternyata pandai memasak dan mengurus rumah, satu hal yang tidak terlalu bisa Bai Qian Xun lakukan karena kesibukannya mengejar prestasi sebagai dokter bedah nomor satu Taiwan. Akhirnya, izin penampungan satu malam Cheng Feng pun berubah menjadi tanpa batas waktu setelah Cheng Feng menyetujui bekerja sebagai pengurus rumah tangga Bai Qian Xun. Dan seperti yang mereka sangka sejak awal, perlahan mereka semakin nyaman berada di sisi satu sama lain...

Tapi siapakah sebenarnya Cheng Feng?

Si Serigala Kecil

Ini pertama kalinya saya membaca literatur mandarin. Literatur Asia Timur yang sering saya baca biasanya novel-novel Jepang dan satu-dua novel Korea. Untuk mandarin, biasanya saya hanya menonton beberapa drama mereka, karena itu rasanya agak asing melihat nama-nama mandarin dalam bentuk tulisan fiksi.

Dari segi cerita, tema amnesia sebenarnya tidak bisa dibilang sebagai hal yang baru dalam dunia literatur--apalagi yang bergenre drama. Tapi tidak bisa dipungkiri ada sesuatu yang menarik dari tema amnesia yang membuat tema ini kerap dipakai di banyak cerita. Saya tadinya cukup takut novel ini jatuhnya akan klise. Well, memang akhirnya jadi klise, tapi jujur saya tidak menolak jenis klise yang satu ini. Strategi Xi Zhi untuk menjadikan tema amnesia sebagai tema besar cerita tapi tidak terfokus pada amnesia Cheng Feng, menurut saya cukup bagus. Tidak seperti cerita dengan tema amnesia lain yang tokohnya terus bergelut dengan jati dirinya, Cheng Feng dikisahkan tidak terlalu peduli akan ingatannya yang hilang. Menurutnya, selama Bai Qian Xun mau menampungnya selama mungkin, ia tidak peduli jika ingatannya tidak kembali. Sifat Cheng Feng yang carefree ini membuat fokus cerita jadi ada pada perkembangan hubungan Cheng Feng dan Bai Qian Xun. Dan hubungan mereka yang manis dan lucu membuat keklisean tema cerita ini bisa ditolerir--dan dinikmati.

Penerbit Haru menyebutkan novel ini bergenre Drama, tapi menurut saya lebih tepat kalau genre novel ini dibilang Humor/Drama. Humornya lebih dulu, karena saya lebih banyak membaca kelucuan-kelucuan dalam kehidupan Bai Qian Xun bersama Cheng Feng daripada unsur dramanya yang baru ada di sekitar sepertiga bagian terakhir dari novel. Tapi bagi yang tidak mengerti budaya orang China atau Taiwan, mungkin tidak akan bisa menangkap humor dalam novel ini. Tidak seperti Jepang yang humornya tipe slapstick seperti Indonesia, atau Korea yang memiliki gaya humor dalam dialog-dialog lucu, orang Taiwan (dan China) hobi melucu dengan mengeluarkan segala pepatah cina kuno atau mengutip ajaran konfusius. Mungkin bagi yang gemar menonton drama seri keluarga Taiwan akan bisa memahami pola humor ini, tapi karena penuh dengan pepatah-pepatah yang asing, beberapa lelucon dalam cerita ini mungkin tetap tidak akan bisa ditangkap oleh pembaca Indonesia. 

Saya suka dengan pemberian porsi dramanya yang hanya sedikit, tapi tidak terasa terburu-buru, membuat novel ini jadi lebih ringan dan manis alih-alih mengharu-biru. Tokoh Bai Qian Xun juga digambarkan bukan perempuan yang akan termehek-termehek atas segala kesialan cinta yang dialaminya. Walau sedih, Bai Qian Xun tetap bicara dengan nada sarkasme dan humor kasar khasnya, dan hidupnya terus berjalan seperti biasa. Saya kira tepat ketika cerita ini memiliki fokus sudut pandang Bai Qian Xun yang mandiri dan sarkastik. Kalau diceritakan dari sudut pandang Cheng Feng, mungkin malah akan mengharu-biru--karena Cheng Feng justru tipe laki-laki yang lembut dan idealis soal cinta.

Sayangnya, menurut saya baik terjemahan maupun gaya penulisannya masih agak kurang. Terjemahannya seperti tidak konsisten. Di beberapa bagian pemilihan kata-katanya cenderung lawas dan kaku, seperti penggunaan kata "jikalau", "sangatlah", atau "tidaklah", kata-kata yang sepertinya lebih cocok keluar di lirik lagu era 70an--atau lagu-lagunya Naif. Kalau pola diksi ini terus dipertahankan, mungkin tidak akan masalah. Tapi setelah serbuan diksi lawas nan baku itu kemudian akan muncul kata-kata yang penggunaannya lebih terasa modern. Hal ini membuat aliran kalimatnya terasa aneh, seperti bingung mau mempertahankan kesan modern dari cerita atau mempertahankan diksi baku yang tepat secara EYD. Dari penulisannya sendiri, saya pribadi cukup terganggu dengan kemunculan kata hati/inner-thought Bai Qian Xun yang rasanya terlalu sering. Satu-dua dalam beberapa halaman masih bisa ditolerir, tapi kalau sampai ada 3-4 paragraf inner-thought dalam satu halaman rasanya jadi sangat mengganggu.

Permohonan Pada Bunga Dandelion

Terlepas dari masalah temanya yang klise dan terjemahan serta gaya penulisannya, yang membuat saya akhirnya memberi tiga bintang pada novel ini adalah ide untuk memutarbalikkan peran gender dalam rumah tangga. Dengan kondisi negara-negara mandarin (China, Taiwan, dan Hong Kong) yang masih menganut paham keluarga konvensional, novel ini menunjukkan model keluarga yang non-konvensional, dengan pihak perempuan yang menjadi penghasil pemasukan utama dalam keluarga dan pihak laki-laki melakukan tugas-tugas domestik seperti memasak dan mengurus rumah dalam setting keluarga yang lebih modern. Bahkan di Indonesia sendiri, ide ini belum pernah dieksplorasi. So thumbs up!

All in all, novel ini adalah sebuah novel ringan dan manis yang cocok dibaca di saat pikiran sedang terasa mumet oleh kehidupan (atau skripsi yang nggak selesai-selesai). Novel ini tidak akan menyuguhkan konflik yang ruwet atau drama yang mengharu-biru, tapi akan menyedot kita dalam kesederhanaan hubungan Cheng Feng dan Bai Qian Xun, membuat wajah kita memerah seperti saat sedang digombali cowok ganteng, atau membuat kita kangen pada momen-momen bersantai di atas sofa bersama orang yang tersayang saat minggu sore. A very sweet reading.

2 comments:

  1. buku ini masuk wishlist aku sama You Are The Apple of My Eye.
    Kalau M-Lit sih dulu pernah baca Kabut Cintanya Chiung Yao

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lucu mbak, sila dibeli. hehe. *nggak, bukan promosi kok*

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...