Sunday, May 11, 2014

[Review] Dunia Mara



Judul : Dunia Mara (Hanafiah #5.5)
Penulis : Sitta Karina
Penerbit : Literati
Tahun cetakan : 2013
Jenis : Paperback
ISBN : 9786028740364

Rating : 2,5/5


Novela ini awalnya adalah cerita bersambung yang dimuat di majalah Go Girl. Animo yang besar terhadap cerita ini membuatnya dibendel jadi satu dan diterbitkan dalam bentuk novela sekaligus sebagai cerita Hanafiah pertama yang diterbitkan di bawah bendera baru, penerbit Literati, untuk selanjutnya menyusul kisah-kisah sebelumnya dalam seri ini diterbitkan ulang satu-persatu. Saya termasuk yang menyambut senang kabar ini, karena walaupun penggemar Hanafiah saga, tapi saya belum punya satu pun novelnya karena kantong anak SMA yang cekak dan kemudian ketika kantongnya sedikit besar, semua seri Hanafiah telah sold-out di mana-mana. Karena itu begitu Dunia Mara keluar, saya langsung beli. Apalagi karena di seri ini ada salah satu Hanafiah favorit saya: Reno Hanafiah.


Keluarga Syadiran

Mara Syadiran adalah tipikal anak perempuan modern yang dibesarkan oleh keluarga yang konvensional. Ibunya selalu memberi wejangan bahwa anak perempuan itu harus cepat lulus kuliah, lalu cari kerja, kemudian menikah sebelum usia 30 tahun. Sang Ibu terus mendesaknya untuk melamar pekerjaan kantoran setelah lulus, dan menikah dengan Arka, pacarnya, meski Mara masih ingin bebas dan sebenarnya ia lebih ingin menekuni seni merangkai bunga daripada bekerja kantoran. 

Saat Arka mengajak Mara makan malam di sebuah restoran mewah dan memberi gestur untuk melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, Mara dan ibunya begitu senang. Tapi semuanya harus hancur ketika Arka justru tidak datang di hari yang ditunggu-tunggu. Arka menghilang bagai ditelan bumi. Tak ada satu pun temannya yang mengetahui keberadaan laki-laki itu. 

Di tengah kelimbungannya ditinggal oleh pacarnya, Mara bertemu dengan seorang laki-laki bule bernama Rig yang mengaku mengenal Arka dan memintanya menjauhi laki-laki itu. Di lain kesempatan, Mara juga bertemu kembali dengan Reno Hanafiah, sepupu jauh yang sudah beberapa tahun tidak ditemuinya. Reno dengan cepat tertarik pada sang sepupu yang telah menjadi gadis dewasa yang cantik dan sang playboy Hanafiah itu tanpa basa-basi langsung mengejarnya, sementara Rig justru menarik Mara ke arahnya, mengatakan bahwa Hanafiah adalah keluarga yang berbahaya.

Keluarga Hanafiah

Sejak dulu Sitta Karina adalah penulis guilty pleasure saya--penulis yang terlepas dari segala ketidakcocokannya dengan selera saya tetap saya baca karyanya. Semuanya bermula dari masa SMA ketika salah satu sahabat SMA saya begitu gembira bisa mendapatkan buku-buku Sitta Karina dari Terrant Books (penerbit sebagian besar karya Sitta pada masa itu). Lalu dia meminjamkan saya sebuah novel keluarga Hanafiah, Imaji Terindah, yang tokoh utamanya Chris Hanafiah. Seperti kebetulan, sahabat saya sejak SD pun ternyata memiliki novelnya, juga seri Hanafiah. Waktu itu yang dia punya adalah Lukisan Hujan dan Putri Hujan dan Ksatria Malam. Dicekoki oleh tiga novel saga sebuah keluarga besar, saya yang masih SMA waktu itu begitu terkesan. Sebelumnya saya belum pernah membaca novel saga. Jadilah sampai sekarang saya mencintai--dan menanti--saga ini. Begitu Dunia Mara keluar, saya kalap karena ceritanya membahas tentang Reno Hanafiah. Reno! Reno adalah Hanafiah favorit saya setelah Nara! Saya wajib punya!

Tapi ternyata, buku ini tidak murni tentang Reno, atau lebih tepatnya belum buku tentang Reno. Di halaman depan Sitta Karina menceritakan tentang cerita Hanafiah yang akan dibuat--dan kemungkinannya dalam bentuk urutan--yaitu Dio, Rae, Reno, dan Nara Hanafiah. Karena disebutkan bahwa buku tentang Reno masih akan ada lagi, dan karena Mara sendiri bukanlah murni keluarga Hanafiah--tapi anak keluarga Syadiran yang berbeda cabang keluarga dari Hanafiah--jadi saya sendiri akan lebih memasukkan novela ini sebagai Hanafiah #5.5 sebagai prekuel dari kisah Austin Hanafiah dalam Titanium yang telah terbit terlebih dahulu.

Karena berasal dari cerita bersambung di majalah yang dikumpulkan jadi satu, saya merasa novela ini terkesan terburu-buru dalam plot dan juga punya banyak lubang di sana-sini yang bisa bikin pembaca kebingungan, apalagi di bagian-bagian awal. Kadang-kadang separasi adegan kurang jelas hingga pembaca akan merasa disoriented dengan setting waktunya--dikiranya masih di setting adegan sebelumnya, padahal sebenarnya sudah pindah. Banyak juga background yang tidak dijelaskan dalam cerita dan tiba-tiba keluar begitu saja di tengah cerita seolah hal itu sudah pernah dijelaskan sebelumnya. Jika dalam bentuk cerbung mungkin hal ini tidak akan terlalu terasa karena pembaca mempunyai selang waktu dalam membacanya, jadi beberapa detil bisa terlupakan atau terlewat, tapi jika dibaca dalam bentuk langsung satu buku, lubang-lubang dan kecepatan plot ini akan begitu terasa. Tapi dari tengah, mulai scene Gala Premiere hotel Reno, hingga ke akhir kecepatan plot untungnya melambat ke level normal.

Dari segi cerita, sepertinya saga Hanafiah sejak buku keempat, Putri Hujan dan Ksatria Malam, perlahan mulai merambah ke genre fantasi dan suspens alih-alih murni romance seperti seri sebelumnya. Dunia Mara ini pun awalnya terlihat seperti cerita romance biasa, tapi akhirnya dibumbui dengan misteri dan suspens tentang Sword's Tears, benda yang sudah disebut-sebut sejak buku empat. Di buku ini juga aroma fantasinya jadi lebih terasa, dengan berkumpulnya orang-orang seperti Mara, Rig, dan Kei. Entah akan jadi apa nantinya cerita Hanafiah ini. Berbeda dengan fans Hanafiah yang mengikuti--dan jatuh cinta--sejak Lukisan Hujan yang rata-rata tidak terima dengan warna fantasi di seri Hanafiah, saya termasuk fans yang senang-senang saja melihat perubahan genre ini.

Sedikit fans' rant, saya nggak terlalu suka karakter Mara karena mirip Bella-nya Twilight, tipe yang langsung jadi zombie begitu ditinggal pacarnya. Sifatnya yang ini jadi membuat segala omongannya mengenai wanita mandiri dan wanita modern sebelumnya terasa hambar. Karakter Rig pun kurang dieksplorasi. Saya nggak akan bicara tentang Reno, karena orang yang membaca cukup banyak buku seri Hanafiah pasti sudah hapal bagaimana sifat Reno jadi kekurangan eksplorasi karakternya di sini semacam bisa diabaikan--lagipula ini bukan buku utama untuk Reno.

Sword's Tears

Novela ini menurut saya sebenarnya punya konflik yang cocok untuk dikembangkan jadi fullblown novel. Dengan format novela begini semuanya jadi terasa begitu cepat, apalagi masalah chemistry antara Reno-Mara-Rig. Sepanjang buku Mara hanya terus berfokus pada Arka, Arka, dan Arka, jadi begitu mencapai akhir buku dan Mara memilih untuk bersama salah satu dari dua laki-laki itu terasa kurang greget. Chemistry dan perkembangan hubungan keduanya kebanyakan tertutup oleh plot yang lain jadi terasa seperti deus ex machina ketika mereka memutuskan untuk bersama.

Meskipun begitu, sejak dulu saya selalu menyukai gaya penulisan Sitta Karina yang padat, ringkas, tapi tetap lincah dan enak dibaca. Sitta Karina adalah salah satu penulis yang gaya menulisnya saya sukai, karena itu saya pasti baca karya-karyanya walaupun ceritanya jadi seaneh apa pun. (he he) Dan saya tidak sabar menunggu seri Hanafiah yang lain diterbitkan ulang supaya bisa saya koleksi--dan kayaknya kover barunya cakep-cakep.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...