Monday, October 27, 2014

[Review] Room


Judul : Room
Penulis : Emma Donoghue
Penerbit : Back Bay Books
Tahun cetakan : 2010
Jenis : Paperback
ISBN : 9780316183871

Rating : 4/5



Inside

Jack, seorang bocah berusia lima tahun, seumur hidupnya selalu tinggal di--dan hanya mengenal--sebuah kamar. Kamar itu adalah dunianya. Di sana, dia tinggal bersama ibunya, Ma, yang mengajarinya banyak hal. Bagi Jack, dunia di luar kamar adalah angkasa luar yang asing. Mereka tidak pernah bisa keluar dan satu-satunya penghubung mereka dengan dunia luar hanyalah Old Nick, yang kerap datang di malam hari untuk membawakan segala keperluan mereka.

Salah satu hal yang disembunyikan Ma dari Jack selama ini adalah fakta bahwa mereka berdua adalah tawanan Old Nick. Ma diculik saat usianya 19 tahun dan ditawan di dalam kamar selama tujuh tahun, hingga melahirkan Jack. Namun semakin Jack bertumbuh besar, lama-kelamaan Ma semakin sadar bahwa dia tidak akan bisa menutupi kenyataan ini dari Jack. Akan ada waktunya ketika kamar itu tidak akan mampu lagi menampung segala kebutuhan mereka berdua, terutama Jack. Dan saat itulah Ma memutuskan bahwa sudah saatnya mereka keluar dari dalam kamar tertutup tersebut.

Outside

Awalnya saya membaca novel ini sekitar tahun 2011, tapi tidak sanggup menyelesaikan karena tuntutan kuliah. Baru setelah mendapatkan buku paperback-nya baru saya melanjutkan membacanya lagi. Sejak awal membacanya, Room telah menjadi buku favorit saya, terlepas dari fakta bahwa saya belum selesai membacanya. Hal yang paling menarik bagi saya adalah tema mengenai psikologi tawanan yang diangkat oleh cerita ini. Sejak remaja saya sudah memiliki ketertarikan pada perkembangan psikologis dan psikis orang-orang yang ditawan, dan waktu pertama saya membaca buku ini bertepatan dengan waktu saya mempelajari masalah psikologi perkembangan.

Bagaimana perkembangan psikososial anak usia balita yang terus dikurung sejak lahir tanpa mempunyai kesempatan mengetahui dunia luar? Bagaimana cara membesarkan anak dalam lingkungan serba terbatas seperti itu? Dalam lingkungan yang tidak ideal, tentu akan ada lebih banyak tantangan dalam membesarkan anak "dengan baik dan benar". Dengan kondisinya, Ma memiliki dua kemungkinan pilihan: 1) Memberitahu Jack sejak dini bahwa mereka adalah tawanan dan membesarkannya dalam harapan semu akan dunia luar dan ketakutan, atau 2) Memberitahu putranya hal-hal yang hanya dia perlu tahu sesuai usianya dan membiarkan perkembangan mental dan psikososialnya berjalan dengan stabil--sestabil yang dapat diusahakan. Ma memilih opsi yang kedua.

Tentu Ma bisa saja memilih untuk memberi tahu Jack tentang kenyataan bahwa mereka berdua adalah tawanan, tapi di usia balita, bisakah seorang anak menerima kenyataan seperti itu? Mungkin Jack akan tumbuh menjadi anak yang pembenci dan penuh kecemasan. Dengan membatasi pengetahuan Jack tentang dunia, Ma membuat hidup Jack bahagia dan stabil, walau hal itu berarti membuat persepsi dunianya lebih terbatas dibanding anak-anak lain seusianya.

Diceritakan dari sudut pandang anak berusia lima tahun, Emma Donoghue berhasil menyampaikan dengan baik suara dan pemikiran anak laki-laki yang sedang bertumbuh. Cara Jack menyebut benda-benda di dalam kamar seolah mereka adalah makhluk hidup menunjukkan pola pikirnya yang menarik, mengingatkan saya pada tokoh Little Prince-nya Antoine de Saint-Exupery. Karena kisah dinarasikan dari sudut pandang Jack, kisah Room yang sebenarnya mengangkat tema berat dan gelap dapat dilihat dari sisi lain yang lebih sederhana dengan tanpa kehilangan urgensi dari masalah yang ingin disampaikan.

The Room

Emma Donoghue dengan cermat menggambarkan dilema pola pengasuhan dan perkembangan mental anak usia dini yang dihadapi oleh para orangtua menggunakan situasi kondisi yang ekstrim. Setiap orangtua pasti pernah merasakan dilema pengasuhan yang tepat untuk putra-putri mereka--sampai batas mana anak-anak harus dikontrol orangtua dan di mana mereka bisa dibiarkan mengeksplorasi dunianya? Tanpa sadar seriap orangtua pasti dihadapkan pada pilihan yang sama dengan Ma, dan keputusan yang diambil oleh masing-masing keluarga bisa berbeda. Tak ada mutlak benar-salah dalam pengasuhan anak, karena semua keluarga memiliki alasan dan kebijakan masing-masing menyangkut perkembangan putra-putri mereka.

Tapi jika disuruh memilih, pilihan manakah yang akan kita ambil demi anak-anak kita, dan apa alasannya?

3 comments:

  1. ka reviewnya keren2, mau nanya dong ka, kalo mau dapetin novel@ psikologi kaya review2 kaka di blog ini gimana ya? aku cari2 di gram*dia ga pernah dapet :(

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you, Izzati. :)

      Cara memperoleh bukunya macam-macam. Saya seringnya beli buku impor di Periplus atau Books and Beyond, atau baca ebooknya. Untuk novel Room, saya punya buku impornya.

      Delete
    2. buku impor berarti bahasanya masih yang inggris atau belum di terjemahin dong ka?
      pingin banget ngoleksi novel2 psikologi yang kaka review disini :3 makasih ya ka :]

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...