Sunday, August 24, 2014

[Review] The Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage


Judul : Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Knopf
Tahun cetakan : 2014
Jenis : Hardcover
ISBN : 9780385352109

Rating : 4/5


Saya adalah orang yang selalu impulsif kalau sudah dipertemukan dengan yang namanya Haruki Murakami. Kali ini pun begitu. Saya sudah tahu kalau sekitar bulan Juni kemarin ada pre-order untuk buku terbarunya, Colorless Tsukuru Tazaki. Saya menunggu dengan tidak sabar sampai masa pre-order berakhir, lantas stres karena di toko buku impor online rata-rata harga buku ini mencapai lebih dari 300ribu. Saya mengurungkan diri untuk langsung beli, eh ndilalah, waktu ke kampus ketemu buku ini ke Books & Beyond. Impulsif, walaupun sebelumnya cukup bisa menahan diri, akhirnya saya embat juga buku ini. :v

Tsukuru Tazaki

Selama lima bulan setelah libur semester di tahun kuliahnya yang kedua, Tsukuru Tazaki selalu memikirkan untuk mengakhiri hidupnya sendiri. Pasalnya, saat liburan semester tersebut, keempat sahabatnya sejak awal SMA tiba-tiba meminta agar Tsukuru tidak lagi menemui mereka. Tak ada yang memberi alasan maupun penjelasan, dan Tsukuru pun terlalu syok untuk meminta penjelasan dari mereka. Alasan lain mengapa Tsukuru pasrah begitu saja ditentang dari kelompoknya adalah karena selama ini ia merasa dirinya sebagai "orang tak berwarna", sementara keempat temannya memiliki unsur warna dalam mereka dan memiliki kepribadian yang menyolok--Ao (biru) yang atletis dan berjiwa pemimpin, Aka (merah) yang pintar namun pemalu, Shiro (putih) yang cantik dan sensitif, serta Kuro (hitam) yang riang dan penuh humor. Hanya Tsukuru yang tidak memiliki unsur warna dalam namanya, dan dia juga tak memiliki kepribadian yang membuatnya unik, karena itu ia sering merasa cemas teman-temannya akan segera bosan dengannya dan meninggalkannya. Dan ketika hal itu benar-benar terjadi, Tsukuru hanya bisa menerima keputusan tersebut tanpa klarifikasi sama sekali.

Ditendang keluar dari kelompok pertemanan yang sangat berharga baginya membuat hidup Tsukuru selanjutnya tak lagi bergairah. Ia tak bisa lagi menjalin hubungan dengan orang lain, dan satu-persatu teman-temannya pergi meninggalkannya. Baru ketika ia bertemu dengan Sara, perempuan lebih tua yang sangat Tsukuru cintai, enam belas tahun kemudian, ia merasa bisa menjalin hubungan yang kuat seperti ketika bersama teman-temannya dulu. Hanya saja Sara memberinya satu syarat untuk membawa hubungan mereka ke tahap lebih lanjut: caritahu alasan kenapa teman-temannya menendang Tsukuru keluar dari kelompok pertemanan mereka enam belas tahun lalu.

The Years of Pilgrimage

Saat membeli buku ini dan membaca ulasan-ulasannya, sebagian besar pembaca lama Murakami sepertinya merasa kecewa dengan buku ini, dan saya sepertinya tahu alasannya. Selama ini karya-karya Murakami selalu diliputi oleh nuansa surealisme/realisme-magis yang kental, dengan makhluk-makhluk aneh yang tiba-tiba muncul, mimpi-mimpi yang berada di antara ranah kesadaran dan ketaksadaran, atau seseorang/sesuatu yang tiba-tiba menghilang. Murakami juga banyak bermain dengan metafora dan simbolisme yang kadang membuat seseorang mengerutkan dahi saat membacanya. Hal-hal tersebut masih kental dalam karya Murakami yang ini, tapi entah bagaimana tidak seabsurd karya-karya sebelumnya. Metafora dan simbolisme dalam karya ini bisa dengan mudah ditebak--stasiun, kereta, warna-warna--dan konfliknya pun kali ini entah kenapa begitu gamblang: masalah antara Tsukuru dan keempat kawan lamanya. Tak ada seseorang yang menghilang (setidaknya secara eksistensial), dan tidak ada makhluk aneh. Saya rasa, bagi penggemar Murakami yang menantikan bacaan yang mampu memutar otak sampai keriting untuk menangkap makna simbolismenya, akan menganggap kalau cerita ini terlalu ringan.

Tapi yang sudah biasa membaca Murakami pun pasti akan tetap dengan mudah tersihir oleh jalinan kalimat-kalimatnya. Walau ada tema-tema yang kerap berulang dalam karyanya, tapi Murakami tetaplah pencerita yang dapat mempertahankan pembacanya hingga halaman terakhir. Terlebih saya suka karena cerita ini mengangkat isu-isu yang dekat dengan saya, seperti perkosaan dan kesehatan jiwa. Beberapa hal dalam cerita ini terasa tidak sesuai dengan kampanye-kampanye soal kekerasan seksual, tapi saya tahu hal yang disampaikan oleh Murakami mengenai perkosaan, dan bagaimana orang sekitarnya seringkali menanggapinya, memang terjadi dalam masyarakat. Dalam situasi realistis, apa yang disampaikan Murakami mungkin realistis, meskipun menurut saya ada baiknya Murakami mulai memberikan argumen lain mengenai perkosaan.

Colorless Life

Banyak yang bilang Colorless Tsukuru Tazaki ini mirip Norwegian Wood. Menurut saya sendiri pun begitu. Tapi Murakami, menurut saya, selalu menulis cerita yang jatuh ke dalam dua kategori: cerita-cerita absurd nan sureal, dan cerita-cerita bernuansa realisme-magis. Colorless Tsukuru Tazaki termasuk golongan yang terakhir. Secara umum nuansanya mirip dengan Norwegian Wood, tapi lebih mudah dicerna dan gamblang dibanding Norwegian Wood yang masih penuh metafora. Saya rasa buku ini akan jadi buku yang tepat untuk mereka yang baru ingin memulai membaca Haruki Murakami, karena ringan tapi masih terasa khas tulisan Murakami. Dan dibandingkan dengan karya sebelum ini, 1Q84, saya secara pribadi lebih menyukai Colorless Tsukuru Tazaki.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...