Thursday, August 11, 2016

[Book Talk] Halaman Preliminaries: Baca atau Lewat?

Bagi yang sering membaca buku nonfiksi atau novel klasik, pasti sering menemukan ada banyak halaman berisi segala macam sebelum bagian isi dimulai: bisa dalam bentuk prakata, pengantar, catatan penerjemah, atau endorsement. Terutama di buku-buku terbitan luar negeri, halaman-halaman seperti ini jumlahnya banyak sekali, bisa sampai mencapai lima puluh halaman sendiri.

Seperti sekarang, saya sedang mencoba membaca The Second Sex, buku Simone de Beauvoir yang saya menangkan bulan lalu dari giveaway Wishful Wednesday yang diadakan Mbak Astrid di blognya (yes, I win!). Begitu dibuka, ternyata buku itu punya halaman pengantar tiga puluh lembar sendiri! Beberapa waktu lalu, saat membaca novella klasik Alexander Pushkin, saya juga menemukan bagian catatan penerjemah juga sebanyak tiga puluhan lembar.

Di dunia perbukuan, bagian ini disebut front matter, bagian pembuka, atau halaman preliminaries (atau sering disingkat sebagai prelim) Bagian ini biasanya diisi oleh halaman judul, halaman kolofon, daftar isi, bagian prakata atau pengantar, atau apa pun lah yang bisa ditaruh di depan (bisa cek isinya di sini).

Pertanyaannya, kalian baca nggak sih, semua itu? Apalagi yang berpuluh-puluh halaman itu? Dulu saya lewati semua halaman itu. Mikirnya, yang butuh ya isinya. Toh tinggal dibalik, lewat deh. Tak perlu segala remeh-temeh itu.

Sampai saya mulai baca ebook dan yang namanya skip bagian prelim itu tidak semudah membalik halaman di buku, terutama jika menggunakan aplikasi reader yang minim fitur. Jadi beberapa kali saya coba untuk membaca prakata atau pengantar di sana.

Ternyata, pengantar atau prakata yang diberikan itu berguna! Terutama untuk buku-buku nonfiksi sulit seperti filsafat atau novel klasik. Untuk buku-buku semacam itu, bagian prelim biasanya menyajikan biografi singkat mengenai penulis, konteks sosial/personal dari penulis ketika menulis karya tersebut, atau hal yang melatarbelakangi penulisan buku tersebut. Dari bagian prelim itu saya jadi bisa memahami kenapa hasil tulisan seseorang seperti itu--kenapa J. D. Salinger menulis tokoh ambegan di The Catcher of the Rye, apa yang membuat Dostoevsky menulis cerita The Gambler, mengapa Derrida merumuskan teori absurd semacam dekonstruktivisme, kenapa The Second Sex ditulis, dll. Mungkin kelihatannya sepele, tapi pengantar itu memberikan poin tersendiri dalam membantu kita memahami konteks sebuah tulisan dan, percaya atau tidak, akan mampu membuat kita lebih mengapresiasi hasil karya tersebut.

Seperti saat membaca The Gambler dari Dostoevsky, misalnya. Tanpa membaca prakata dan catatan penerjemahnya, saya akan dengan mudah menilainya paling rendah dibanding semua cerita Dostoevsky yang saya baca. Novella itu menurut saya kurang 'menggigit', tidak seperti Poor Folk yang masih jadi favorit saya dan sering membuat saya berpikir, "Ini orang kenapa, sih, maniak banget judi?" Saya men-judge tokoh utama cerita itu habis-habisan dan langsung tidak suka pada sikapnya, sekaligus heran kenapa Dostoevsky membuat cerita seperti ini.

Tapi akhirnya saya membaca prakata yang diberikan di bukunya, dan menemukan bahwa The Gambler itu terinspirasi dari Dostoevsky sendiri. Pada satu masa, Dostoevsky juga pernah jadi maniak judi yang membuatnya jatuh miskin. Akhirnya, dia 'bertaruh' pada temannya, minta temannya itu membayar naskah yang akan ditulisnya dalam tenggat waktu dua puluh enam hari, dan jika novel tersebut tidak berhasil menjadi semacam best seller, maka temannya itu akan diberi izin untuk menerbitkan novel tersebut selama sembilan tahun tanpa royalti untuk Dostoevsky.

Jadi, ternyata novella The Gambler itu adalah karya hasil pertaruhan Dostoevsky yang sedang terlilit hutang judi dan kelaparan, dikerjakan dalam waktu yang begitu singkat dan berhasil menjadi best seller pada masanya, serta merupakan refleksi dari kebiasaan buruk Dostoevsky sendiri. Menyadari bahwa cerita itu merupakan bagian dari kisah personal Dostoevsky membuat saya lebih menghargai The Gambler daripada sebelumnya, meski masih lebih suka ceritanya yang lain. hehe.

Sekarang saya hampir tidak pernah melewatkan halaman prelim sebuah buku, dan akhirnya saya juga membacai ulang buku-buku yang dulu sudah selesai saya baca dan mulai membaca prelimnya. Sungguh, membaca bagian prakata bisa memberikan penghargaan dan pemahaman lebih terhadap suatu karya. Sayangnya, buku-buku terbitan baru sepertinya sudah jarang memberikan cerita latar belakang pembuatan karya dan sebagainya. Akan lebih baik jika bagian ini kembali dihidupkan dengan berbagai informasi tentang pengarang dan penerjemahan.

6 comments:

  1. Setuju. Sy juga tertarik baca halaman pembuka tapi tidak semua. Yg paling sering ditemui dan dibaca itu seperti quote juga buku itu didedikasikan ke siapa. Prelim membuat kita lebih menghargai dan memahami buku tsb. Prelim terakhir yg sy baca di buku A Monster Calls. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. A Monster Calls worth it dibaca cover to cover banget, ya.

      Delete
  2. Biasanya aku baca, tapi baru baca setelah selesai dengan cerita utamanya. Biasanya suka banyak spoiler di bagian pengantar itu :')

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm iya juga ya. Kalau dibaca belakangan jadi bisa tambah "oh" moment tanpa spoiler. :|a

      Delete
  3. Biasanya gue baca.. Gue tipe yang baca dari awal sampai akhir kecuali pas dibaca ngerasa bag tsb membosankan baru deh diskip dan dibaca setelah selesai baca buku tsb :)

    ReplyDelete
  4. BLOG nya menarik sekali jadi yuhu hehe kunjungi yang satu ini yaaa biar kalian ga bingung dalam menentukan masalah GEDGET
    http://zapplerepair.com/iPhone-6-lcd-ada-bayangan-hitam-diganti-baru-juga-sama.html
    http://zapplerepair.com/iPhone-6S-masalah-lcd-display-kadang-mau-muncul-kadang-engga.html
    http://zapplerepair.com/perbedaan-antara-lcd-iPhone-original-sama-iPhone-lcd-ori-kaca-palsu.html

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...