Thursday, January 8, 2015

[Review] Gelombang



Judul : Gelombang (Supernova #5)
Penulis : Dee Lestari
Penerbit : Bentang
Tahun cetakan : 2014
Jenis : Paperback
ISBN : 9786022910572





Supernova

Saya mengenal seri ini sejak SMP, sekitar tahun 2004-2005. Waktu itu buku pertamanya masih menjadi kontroversi karena dianggap sebagai novel pertama yang mempunyai karakter utama pasangan homoseksual. Saya baca bukan karena konten homoseksualnya--walau sekarang saya maniak cerita LGBT--tapi karena teman-teman bilang novel pertama Supernova itu 'susah', jadi mereka memberikannya pada saya, berharap saya bisa mengerti apa dan bisa menjelaskan pada mereka apa sih, sebenarnya yang diomongin penyanyi-banting-setir ini? Saya pun membacanya, tapi tentu saja, otak anak SMP saya sama sekali nggak bisa menangkap apa maksud cerita itu kecuali tentang perselingkuhan.

Saya lanjut membaca Akar dan Petir di SMA. Mulai sedikit paham, karena Akar dan Petir tidak se-njelimet KPBJ, dan saya pun mulai jatuh cinta pada seri ini, hanya untuk patah hati karena lanjutan dari Petir tidak kunjung terbit--dan saya kira tidak akan pernah. Ternyata waktu saya kuliah, buku Partikel terbit. Dengan ketebalan yang terasa asing jika disandingkan dengan buku-buku pendahulunya. Saya mulai sangsi, dan ternyata memang kesangsian saya menjadi nyata. Saya tidak terlalu terbuai dengan Partikel, seperti yang bisa dibaca di review saya.

Lalu buku kelima, Gelombang, terbit.

Gelombang

Buku Gelombang nyaris sama tebalnya seperti Partikel. Kisah di buku ini adalah tentang Ichon, alias Alfa, alias Thomas Alfa Edison, putra bungsu seorang warga biasa di kepulauan Samosir. Ichon berbeda dengan kedua kakaknya yang nakal dan layaknya anak laki-laki pada umumnya. Sejak kecil Ichon lebih suka menyendiri dan membaca cersil atau mengisi TTS. Juga, dia selalu absen tiap kampungnya mengadakan ritual pemanggilan roh, karena Ichon konon selalu menangis kencang tiap mendengar tabuhan lagu khas ritual, sementara dalam ritual itu dibutuhkan kesunyian.

Saat Ichon berusia dua belas tahun, orangtuanya tidak lagi mengirimnya ke sanak keluarga ketika diadakan upacara di kampungnya. Menurut mereka Ichon sudah cukup besar untuk tidak menangis dan merusak ritual. Yang tidak mereka tahu adalah fakta bahwa ada sesuatu dalam upacara itu yang mencari Ichon. Sebuah makhluk dari dunia lain yang bernama Si Jaga Portibi, yang datang setiap kali diadakan upacara pemanggilan roh. Kini, setelah upacara selesai, makhluk itu memutuskan untuk berdiam bersama Ichon.

Sejak saat itu hidup Ichon berubah 180 derajat. Makhluk itu selalu muncul tiba-tiba, dan setiap malam mimpi Ichon berubah menjadi mimpi buruk yang mempertaruhkan nyawa. Bukan hanya itu, orang-orang sakti pun mendatangi Ichon satu-persatu, memintanya menjadi murid mereka. Setelah satu kejadian yang menimpa Ichon dan tetua kampung, ayah Ichon pun memutuskan untuk memindahkan keluarganya ke Jakarta. Ichon kecil pun memutuskan untuk bermetamorfosis menjadi Alfa Sagala.

Alam Bawah Sadar

Dee tetap memiliki gayanya tersendiri dalam menulis, terutama kepiawaiannya dalam menyampurkan teori ilmiah, trivia-trivia, dan fiksi. Dalam Gelombang, teori yang dibahas adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pola tidur manusia, mulai dari power nap (yang ternyata digagas oleh, surprise!, Thomas Alfa Edison--ya, the real Edison), gelombang REM, hingga lucid dreaming. Saya cukup senang bahasan di Gelombang ini tetap searah, tidak seperti di Partikel yang seolah melebar ke mana-mana, hingga pembaca lebih bisa tetap berada di satu jalur cerita yang konsisten.

Masalahnya, plot di buku ini banyak yang sebenarnya tidak perlu. Terutama di sekitar masa-masa Alfa menjalani kehidupan di Amerika hingga setelah dia sukses menjadi pialang saham Wall Street. Oke, memang ada beberapa hal penting di masa itu, tapi rasanya tidak penting-penting amat sampai harus dijabarkan dengan panjang dan membosankan. Terlebih lagi, karakterisasi tokoh utama berubah dari Ichon yang penakut dan hobi main aman menjadi Alfa yang dingin, perfek, dan... well, pokoknya term tall, dark, and handsome atau gary-stu bisa disematkan padanya. Mungkin Dee ingin menjelaskan tentang dampak mimpi buruk yang kerap dialami Alfa terhadap kepribadiannya, tapi sekali lagi, sebenarnya tidak perlu sampai sepanjang itu. Pun pola plot terasa monoton, karena mirip plek dengan karya-karya Dee paska  Rectoverso: orang bukan apa-apa yang kemudian jalan hidupnya berubah menjadi apa-apa.

Tapi bukan Dee namanya kalau tidak bisa membuat karakter-karakter yang memukau dengan sentilan-sentilan humor sinis. Selain Ichon, saya malah ingin tahu lebih banyak tentang Eten dan Uton, dua kakak Ichon yang ditinggal di Jakarta, atau tentang dua sohib Alfa sejak SMA di Amerika, Troy dan Carlos. Entah kenapa justru mereka yang menarik perhatian saya karena 'flaw' mereka rasanya menjadikan kisah 'flawless' Alfa menjadi tidak terlalu membosankan.

Selain itu, bagi yang bertanya-tanya tentang makna seri ini sejak awal, di Gelombang ini mungkin bisa mendapatkan sedikit pencerahan yang lebih gamblang dari sekadar hints untuk tebak-tebak (tidak) berhadiah. Beberapa tokoh dari seri sebelumnya muncul lagi di sini, terutama Akar, jadi akan sangat disarankan untuk mulai membaca ulang buku-buku sebelumnya dan mengumpulkan hints yang tersedia.

Thomas Alfa Edison

Secara keseluruhan, saya lebih suka Gelombang daripada Partikel, tapi cuma menang tipiiis sekali. Karena pada dasarnya keluhan saya soal Gelombang masih mirip seperti keluhan pada Partikel: 1) banyak hal tidak perlu, 2) karakternya yang awalnya unik tapi lama-lama membosankan dan gary-stu/mary-sue, 3) pola plot yang monoton, dan 4) tebal. Saya selalu punya semacam antipati terhadap karya Dee yang kelihatan seperti buku bantal. Sialnya, sepertinya sekarang Dee lebih suka menulis yang tebal-tebal. Tapi saya masih lebih suka Alfa daripada Zarah, dan masih sangat patah hati kenapa dia jadi Mr. Perfect Jerk di tengah cerita.

Semoga Inteligensi Embun Pagi, si buku pamungkas, bisa memuaskan hasrat kita terhadap seri ini.

Omong-omong, Supernova KPBJ sudah ditayangkan film-nya di bioskop, lho. Kesempatan bagus buat baca ulang KPBJ, bagi penggemar lama. Siapa saja yang sudah menonton? Bagaimana kesannya?

3 comments:

  1. Aku sudah nonton film KPBJ. Seperti yang sudah kuceritakan di Twitter, dialognya kaku sekali dan patuh banget dengan novelnya. Kalau patuh dengan novel sih aku tidak berkeberatan ya, tapi dialog yang kaku itu yang, aduh, bikin nontonnya jadi gak enak banget. Belum lagi akting pemainnya yang yah gitu deh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu juga komplainku, kak. Dialognya terlalu patuh sama novel. Entah karena nggak boleh diubah sama Dee atau karena pihak produksi 'takut' kena amuk fans kalau sedikit diselewengin. Padahal perbedaan versi buku dan film itu toh sebenernya sudah wajar dan nggak masalah. :/

      Delete
  2. untuk kalian yang menunggu liburan dan bingung untuk cari tempat yang NYAMAN,MURAH dan STRATEGIS :) langsung aja yu kunjungi di HOSTEL MURAH DI BANDUNG COCOK UNTUK BACKPACKER

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...