Thursday, January 8, 2015

[Review] The Song of Achilles



Judul: The Song of Achilles
Penulis: Madeline Miller
Penerbit: Ecco
Tahun cetakan: 2012
Jenis: ebook
ISBN: 9780062060631




Perhatian: Review ini kemungkinan besar akan mengandung spoiler bagi cerita, yang sebenarnya tidak bisa disebut murni spoiler karena kisah tentang Achilles dan Patroclus serta perang Troya termasuk kisah mitologi yang telah menetap dan diceritakan dalam berbagai bentuk media. Review ini akan berisi tentang ulasan cerita dan mitologi terkait.


The Heroes

Patroclus adalah putra Menoetius, penguasa kerajaan Opus. Karena lahir dari ibu yang 'biasa' dan cenderung dungu, Patroclus tumbuh menjadi anak yang sama 'biasa'-nya seperti ibunya. Tubuhnya kurus dan kecil, larinya lambat, dan tidak bisa berkelahi. Ayahnya merasa kecewa mengetahui penerus takhta satu-satunya adalah seorang bocah yang lemah, hingga memutuskan untuk membawa Patroclus meminang Helen, putri Sparta, untuk menguatkan posisi politiknya meski saat itu dia baru berusia sembilan tahun. Di sanalah akhirnya Patroclus menjadi saksi sumpah setia raja-raja Yunani (Sumpah Tyndareus) untuk bertempur demi kehormatan Helen, terlepas dari siapakah laki-laki yang dipilih oleh perempuan tercantik di Yunani itu sebagai pasangan--yang ternyata jatuh pada Raja Menelaus.

Tidak berhasil mendapatkan Helen sebagai penguat posisi Patroclus, Menoetius makin mengabaikan keberadaan putranya. Saat suatu hari Patroclus tidak sengaja membunuh anak seorang bangsawan istana demi membela diri, Menoetius tanpa berat hati mengasingkan putranya ke kerajaan kecil Phthia. Dan di sanalah pertama kalinya dia bertemu dengan Achilles, putra raja yang juga seorang manusia setengah dewa karena lahir dari Dewi Lautan, Thetis.

Achilles adalah putra raja yang bebas dan ramah, tidak seperti Patroclus yang selalu dicekoki oleh protokol istana. Awalnya Patroclus iri padanya karena selain ketampanannya yang tiada tara, sifat bebas Achilles tidak pernah bisa didapatkan oleh Patroclus. Namun suatu saat Achilles menemukannya di gudang makanan dan akhirnya menjadikan Patroclus sebagai tangan kanannya. Dari situ, perlahan hubungan kedua bocah itu mulai dekat hingga akhirnya menyadari bahwa mereka saling jatuh cinta.

Tidak terima putranya mencintai seorang mortal yang tidak memiliki posisi--kerena Patroclus sudah dihapuskan dari daftar ahli waris kerajaan ayahnya--Thetis berusaha keras memisahkan kedua bocah tersebut. Dia mengirim Achilles untuk belajar pada Chiron, sentaur yang mengajari banyak pahlawan Yunani sekaliber Heracles, namun Patroclus berhasil menemukannya dan justru saat berada di bawah lindungan Chiron, cinta mereka makin bersemi. Berbagai macam usaha dilakukan oleh Thetis untuk menghalangi hubungan putranya dengan Patroclus, hingga takdir sendiri yang memisahkan mereka di medan perang.

Trojan War

The Song of Achilles adalah sebuah penceritaan ulang dari kisah Iliad karangan Homer yang mengisahkan tentang Perang Troya. Tidak seperti Iliad yang fokus pada Perang Troya dan Achilles, Madeline Miller lebih memfokuskan ceritanya pada hubungan interpersonal Achilles dan Patroclus, mulai dari pertama mereka bertemu sebagai bocah, masa-masa pertama menjalin kasih remaja, dan kebersamaan mereka selama berlangsungnya Perang Troya yang panjang. Semuanya diceritakan dari sudut pandang Patroclus sebagai narator orang pertama.

Bagi yang mungkin merasa aneh membaca sinopsis di atas, ya, novel ini adalah novel bertema LGBT karena fokus pada hubungan romantis antara Achilles dan Patroclus. Apa mereka benar-benar pasangan kekasih? Sebagian narator sejarah berpendapat bahwa Patroclus hanyalah sahabat dekat Achilles, sementara narator lain, termasuk filsuf Plato, menggambarkan hubungan mereka sebagai hubungan romantis. Alexander Agung pun konon terinspirasi oleh hubungan Achilles dan Patroclus untuk menjelaskan kedekatan hubungannya dengan jenderal perang dan tangan kanannya, Hephaistion.


Patung Achilles membawa tubuh Patroclus

Terlepas dari apakah mereka memang pasangan kekasih atau sahabat karib, tidak bisa disangkal bahwa hubungan mereka yang sangat dekat menjadi salah satu titik balik berlangsungnya Perang Troya. Kematian Patrocluslah yang membuat Achilles serius berperang hingga membalikkan keadaan pasukan Yunani yang awalnya terdesak oleh pasukan Troya. Dan dalam Song of Achilles, kematian Patroclus juga menjadi sumbu awal yang akan mengarahkan Achilles pada kematiannya sendiri.

Meskipun saya menyukai bagaimana Madeline Miller menyajikan cerita hubungan Achilles dan Patroclus, tapi ada beberapa hal yang membuat saya tidak bisa terlalu menyukai buku ini secara keseluruhan. Salah satunya adalah cara Madeline Miller mendeskripsikan tokoh-tokoh perempuan dalam kisah ini. Hampir semua tokoh perempuan yang saya temui di cerita ini mempunyai setidaknya satu dari tiga karakteristik: korban perkosaan atau budak seks, gila harta dan kekuasaan, dan/atau menyebalkan bukan main. Mungkin saja memang secara mitologi perempuan masih digambarkan seperti itu, tapi karena ini adalah novel yang ditulis dengan kesadaran modern, saya setidaknya berharap ada sedikit twist dari penulis tentang tokoh-tokoh perempuan ini. Tapi sampai akhir ternyata saya harus kecewa.

Masalah keduanya adalah murni masalah selera. Gaya penulisan Madeline Miller tidak terlalu berkesan bagi saya. Kalimat-kalimatnya bagus dan mudah dimengerti tanpa banyak jargon, tapi terasa biasa saja. Selain itu ada kecenderungan menonjolkan sisi romantis dari Achilles dan Patroclus hingga lebih dari setengah novel berisi perkembangan hubungan antara kedua protagonis dan waktu cerita memasuki babak Perang Troya, perang dahsyat selama 12 tahun itu pun terlewat begitu saja seperti angin lalu.

Terakhir, ada sedikit masalah dengan pengembangan sudut pandang. Penggunaan sudut pandang orang pertama, Patroclus, membuat tokoh lainnya, bahkan Achilles sekalipun, seolah tidak bisa dijangkau oleh pembaca. Akan sulit untuk mengikuti perubahan dan perkembangan kepribadian Achilles dari pangeran kecil yang bebas dan naif hingga menjadi pahlawan perang yang haus darah dan congkak. Sulit untuk memahami alasan-alasan yang mendasari dinamika karakter lain--selain Patroclus, tentu saja--hingga mereka jadi terkesan terlalu hitam-putih.

Achilles' Song

Bagaimana pun, The Song of Achilles adalah sebuah bentuk sukses metamorfosis kisah legenda dan mitologi ke dalam balutan kemasan yang lebih modern. Madeline Miller telah berhasil membuat sebuah modern epic yang mudah dicerna oleh generasi sekarang namun tetap mempertahankan kesesuaiannya dengan legenda yang sebenarnya. Walau saya masih akan lebih memfavoritkan trilogi Alexander The Great karya Mary Renault, bisa dipastikan bahwa Madeline Miller adalah Mary Renault generasi masa kini.

Mungkin setelah ini saya akan coba membaca kembali trilogi Alexander The Great-nya Mary Renault yang sudah cukup lama terlantar. Ada yang mau ikut baca?

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...