Wednesday, March 4, 2015

[Review] Dadaisme



Judul: Dadaisme
Penulis: Dewi Sartika
Penerbit: Grasindo
Tahun cetakan: 2006
Jenis: Paperback
ISBN: 9797593916




Michail

Kisah ini dibuka dengan cerita Nadena, anak yang sering mendapat masalah di sekolahnya karena selalu menolak mewarnai langit dengan warna biru seperti pada umumnya. Dia mewarnai langit dengan banyak warna, tapi tidak pernah biru. Dia juga nyaris tidak pernah bicara pada siapa pun kecuali pada sosok teman khayalannya, Michail, sang bocah malaikat bersayap satu. Hal ini membuat bibinya memutuskan untuk membawa Nadena ke seorang psikiater anak terkenal, Dr. Aleda. 

Dari Nadena dan Michail, terjalin kisah-kisah berbeda yang terjalin dalam sebuah untaian benang merah yang saling mempertemukan karakter-karakternya. Siapakah Nadena? Dan lebih penting lagi, siapakah Michail, sang bocah malaikat yang hanya memiliki sebuah sayap hitam dan konon hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang pernah melihat kematian?

Dadaisme

Novel ini pernah menjadi juara I Sayembara Dewan Kesenian Jakarta pada tahun 2003 karena mengangkat jenis penulisan eksperimental, aliran Dadaisme. Dadaisme sendiri awalnya merupakan salah satu aliran seni kontemporer yang berkembang sebagai reaksi terhadap Perang Dunia I. Dalam alirannya, Dadaisme menolak struktur kelas dalam masyarakat, menggugat para borjuis dan kolonialis melalui karya-karya mereka. Menurut bentuknya, Dadaisme merupakan gerakan anti-seni yang mengabaikan struktur dan logika, serta menghayati kekacauan. Karena itu seni-seni Dadaisme sering terkesan amburadul dan seolah tidak bisa dimaknai.

Begitu juga dengan kisah-kisah dalam novel ini. Mungkin akan lebih tepat kalau buku ini disebut sebagai kumpulan cerita dengan benang merah alih-alih novel. Kisah-kisah yang diceritakan dalam novel ini hanya terhubung benang merah bahwa masing-masing karakter pernah bersinggungan secara langsung. Kisah yang diceritakan utamanya adalah tentang tabu dalam masyarakat, seperti inses, poligami, perjodohan, hubungan homoseksual, dan lain-lain yang dibalut dengan maskot Michail, sang malaikat yang memiliki satu sayap hitam.

Salut pada tulisan Dewi Sartika yang menggunakan sebuah aliran anti-seni semacam Dadaisme untuk menggugat masyarakat moral yang heteroseksis dan monogamis. Meskipun demikian, menurut saya dadaisme dalam novel ini belum mantap kesan "dada"-nya. Penulisnya seperti masih terpaku pada apa yang salah dan apa yang benar hingga tidak bisa lepas "mengacaukan" pola pikir, seperti idealnya aliran dadaisme. Selain itu, beberapa kisah eksekusinya masuk ke klise dan penulisannya sendiri terkesan jauh dan dingin, kurang emosional dan, lagi-lagi, kurang "kacau". Namun saya tetap salut seseorang yang--pada waktu itu--masih berusia 23 tahun bisa menulis menggunakan aliran eksperimental yang biasanya dijauhi seperti ini. Pantaslah kalau mendapat predikat pemenang Sayembara Dewan Kesenian Jakarta yang tersohor itu.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...