Thursday, January 2, 2014

[Review] Kereta Tidur


Judul : Kereta Tidur
Penulis : Avianti Armand
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun cetakan : 2011
Jenis : paperback
ISBN : 9789792270983

Rating : 4/5


Waktu mendapat email dari Mbak Ren yang memberitahukan bahwa saya menang givaway Friday's Recommendation dan diminta memilih buku yang diinginkan, saya butuh waktu tiga hari sendiri untuk menentukan. Lalu saya berikan pilihan buku-buku saya yang pertama, tapi ternyata 2 dari 3 buku yang saya minta tidak ada stoknya. Akhirnya sebagai gantinya, saya minta buku ini. Awalnya agak ragu. Saya punya ebook kumcer Avianti Armand yang Negeri Para Peri, kumcer yang baru saya baca setengah cerpen dan belum saya lanjutkan karena ternyata genre-nya horror. Pun setelah dapat bukunya, niatnya mau saya jadikan buku yang saya bawa saat ke Jogja nanti. Tapi akhirnya, buku ini justru menjadi buku yang pertama kali saya review di tahun 2014.


Kisah-Kisah

Tidak seperti Negeri Para Peri yang bernuansa horor, Kereta Tidur adalah buku kumpulan cerita sastra kontemporer yang berisi 10 cerpen dengan tema di seputaran cinta dan kehilangan. Berikut akan saya bahas satu-persatu cerita-cerita dalam buku ini:

1. Perempuan Pertama

"Aku belum lagi mengenal aku. Bahkan asalku pun aku tak tahu."

Versi cerita Avianti Armand terhadap penciptaan Hawa, dengan perubahan-perubahan dari cerita dalam kitab yang selama ini kita ketahui bersama. Manusia sejak awal diciptakan Tuhan dengan tiada pilihan selain dosa, dan dosa pertama yang dilakukan manusia adalah karena ia mengetahui siapa dirinya. Cerpen pembukaan yang membuat merinding.

2. Matahari

"Bayang-bayang adalah sebuah antara. Ia kehadiran yang bukan kehadiran. Ia lahir karena pertemuan cahaya dan benda-benda. Ia tak terhambat, tapi lahir dari hambatan."

Kisah manis-nan-ngenes tentang cinta yang bersemi dalam bayangan, hadir namun tak hadir, tak terhambat namun lahir dari hambatan. Apa yang terjadi saat kau mencintainya dari balik bayang-bayang ketidakpuasan cintanya dengan yang lain?

3. Dongeng dari Gibraltar

"Kita tahu, kita bisa saling mencintai tapi tidak merasa bahagia."

Sebuah kisah yang menghadapkan kita pada pertanyaan pilihan dalam suatu hubungan: apa yang lebih penting dari sebuah hubungan, cinta atau kebahagiaan? Manusia bisa mencinta tapi tidak berbahagia, dan bisa berbahagia tapi tidak mencinta. Kebahagiaan, seperti juga cinta, adalah hal yang datang dan pergi. Mereka fana dan mungkin saling meniadakan. Mana yang akan kalian pilih?

4. Requiem

"Requiem aternam dona eis, Domine, et lux perpetua luceat eis."

Cerita yang paling saya suka dalam kumcer ini. Setiap orang lahir untuk mati. Berkatilah mereka dengan istirahat yang kekal, Tuanku, dan biarkan cahaya abadi bersinar atas mereka.

5. Sempurna

"Akhirnya aku menemukan orang yang benar-benar kucintai dan mencintaiku. Ini sempurna!"

Mereka hidup bersama selama tujuh tahun, kemudian putus. Bagaimana seseorang menganggap sebuah ketidaksempurnaan sebagai kesempurnaan yang rapuh. Cerita yang menurut saya paling biasa, tapi tetap berkesan dan bermakna.

6. Kupu-kupu

"Tapi aku bukan anjing, cuma kupu-kupu, dengan sayap sedikit koyak dan warna pelangi."

Kisah tentang kupu-kupu malam. Avianti Armand bermain dengan istilah kupu-kupu malam secara harfiah, dan hasilnya adalah sebuah kisah dengan seluruh penghuni hutan belantara bernama kehidupan bermain bersama.

7. Perempuan Tua Dalam Kepala

"Di dalam kepalaku hidup seorang perempuan tua pemarah yang gemar menghentak-hentakkan kaki dan berteriak-teriak."

Saya sudah pernah membaca kisah ini, tapi lupa di mana. Sepertinya di sebuah koran harian. Yang jelas bukan di buku ini karena saya baru saja membacanya. Mungkin banyak orang akan heran kenapa cerpen ini tidak menjadi favorit saya, padahal ini kisah tentang perjalanan mental seorang gay. Saya suka, tentu, tapi tetap belum bisa mengalahkan Requiem.

8. Tentang Tak Ada

"Tapi aku tak penting. Kamulah yang penting dalam hidupku. Aku diam. Kamu diam."

Cerita yang membuat saya jungkir-balik karena sakit hati. Baru kali ini saya tersiksa dan patah hati hanya karena sebuah cerpen. Cerpen yang bersaing ketat dengan Requiem untuk memperebutkan bangku pertama di hati saya. Mengisahkan tentang cinta-tak-harus-memiliki dalam jenis melankoli yang bikin kelejotan. Aku meninggalkanmu dan membiarkanmu pergi karena cinta kita terlalu besar hingga membuat sesak. *ambil inhaler*

9. Tiket ke Tangier

"Sembilan belas tujuh tiga bukan waktu yang baik untuk jatuh cinta."

Lagi-lagi tentang jatuh cinta hanya untuk kehilangan. Seharusnya jika sudah cinta tak perlu berpisah lagi. Karena kita tak tahu kapan akan berjumpa lagi--mungkin tidak.

10. Kereta Tidur

"Kereta tidur takkan terlihat berbeda dengan kereta biasa... Hanya jendela. Ya, deretan jendela yang berbaris dari depan ke belakang itu tak akan menunjukkan pemandangan di luar yang berlari ke belakang, melainkan waktu."

Cinta tak bisa menunggu dan berkompromi dengan waktu. Siapa tahu Kereta Tidur akan segera membawa waktumu dan semua cinta yang kau miliki akan hilang bersama deru angin yang terbelah. Kisah yang unsur realisme-magisnya terasa paling kental. Sekaligus penutup yang membuat kecanduan.

Tentang Cinta dan Kehilangan

Seperti yang saya singgung sebelumnya, ada beberapa hal yang menjadi tema utama dalam kumpulan cerpen ini, yaitu cinta terlarang dan kehilangan. Cinta terlarang yang sering diangkat di sini biasanya adalah masalah perselingkuhan. Saya sebenarnya tipe orang yang tidak bisa membaca kisah perselingkuhan, cerita dengan tema perselingkuhan adalah tema yang diluar comfort zone saya. Tapi tulisan-tulisan Avianti Armand entah kenapa tidak membangkitkan pet peeve saya tersebut. Jalinan kata-katanya yang indah membuat saya terhanyut dan dapat ikut merasakan turbulen emosi yang dijalin oleh Avianti, dan pada akhirnya, membuat saya sakit hati setengah mati--tapi tidak sedikit pun saya berniat tutup buku karena temanya.

Cara bercerita yang dipakai Avianti seperti berpuisi dalam sastra. Kata-katanya terpenggal sedikit-sedikit dan bermakna implisit. Untuk membacanya perlu kehati-hatian karena penuh dengan interpretasi yang bebas. Mungkin apa yang saya tangkap dari cerpen-cerpennya tidak akan sama dengan yang orang lain baca. Membaca kumcer ini tidak bisa cepat-cepat walaupun hanya seratusan halaman. Jika membacanya cepat-cepat, niscaya akan kebingungan dan seolah kehilangan arah tentang segala sesuatu dalam kisah-kisahnya.

Meskipun kata-katanya indah, tapi seringkali ditemukan kesamaan frasa dalam cerpen-cerpennya. Seperti misalnya, "aku melihat punggungnya yang berlalu" untuk menggambarkan seseorang yang beranjak pergi, atau "bayangannya muncul, hilang, muncul, hilang" untuk menggambarkan ketidakpastian hubungan tokoh. Selain itu hubungan antar tokoh dalam setiap cerita rata-rata adalah perselingkuhan dua orang yang masing-masing telah memiliki pasangan, hingga rasanya jika bukan karena keindahan bahasa dan caranya mengeksplorasi masalah dan membangun makna, mungkin pembaca akan bosan dengan kemonotonan setting hubungan antarkarakternya.

Seringkali juga kisah-kisah Avianti belompatan dalam lini waktunya. Bisa saja saat tengah membaca tentang masa kini, paragraf berikutnya dia akan mengisahkan tentang kejadian yang telah lewat, lalu kembali lagi, tanpa ada penanda yang pasti kapan cerita beralih ke waktu yang mana. Karena itu membaca kisah ini harus sangat berhati-hati, karena masa lalu dan masa kini saling bertautan dan melebur dalam kisah-kisahnya tanpa aturan. Begitu juga dengan tokoh-tokohnya yang berpindah dari fragmen satu ke fragmen lainnya tanpa ada penjelasan tokoh itu siapa. Hanya dengan mencermati setiap kata pembaca mampu menebak fragmen cerita yang ini diceritakan dari sudut pandang siapa. Hati-hati!

Kereta Tidur

Saya tidak bisa menyangkal bahwa saya menyukai gaya menulis implisit dan sederhana seperti cara Avianti Armand menulis. Setiap kata yang dituliskannya menyampaikan makna tersendiri, yang kadang justru tidak berhubungan dengan masalah utama dalam cerita, tapi menambah layer keindahan cerita tersebut. Baru sehari merasakan hidup di tahun 2014, saya sudah memutuskan bahwa Kereta Tidur akan menjadi buku yang paling saya favoritkan untuk tahun ini--terlepas dari bintang yang saya berikan. Jadi ingin kembali membuka tumpukan ebook dan melanjutkan membaca Negeri Para Peri, juga ingin mencari Perempuan yang Dihapus Namanya. Dengan ini saya nobatkan Avianti Armand sebagai salah satu penulis bias saya, bersama dengan Haruki Murakami dan Leila S. Chudori.

1 comment:

  1. wah aku jadi tertarik mau baca, gegara Ayu bilang ini bikin Ayu memfavoritkan penulisnya.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...