Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku : Karena Disneys Bukanlah Titik Awal Saya

Ini adalah post untuk #5BukuDalamHidupku hari kedua! Semoga saya bisa terus posting sampai hari kelima. *melirik tumpukan tugas yang menggunung* Untuk hari ini, buku yang saya pilih adalah buku cergam pertama yang saya baca saat saya masih anak piyik:




Gambarnya kecil... dan juga sebenarnya bukan versi yang saya punya, tapi fotonya cuma nemu yang ini, jadi ya sudahlah. Tapi intinya buku yang akan saya bahas hari ini adalah box set Hans Christian Andersen Treasury Classic.

Saya dibelikan buku ini oleh Papa saat saya masih berusia 3-4 tahun, di sekitar tahun 1994 (aduh, ketahuan deh umur saya). Sejak saya lahir sampai usia 6 tahun, saya dan Mama hidup terpisah dari Papa yang harus meniti karirnya di Jakarta sementara saya dan Mama tinggal bersama Nenek di Malang. Pada waktu itu Papa hanya punya kesempatan pulang sekitar 1-2 kali dalam setahun, dan untuk menebus ketidakhadirannya, setiap Papa punya kesempatan pulang menemui saya, Papa selalu membawa hadiah dari ibukota. Dan pada tahun itu Papa membelikan saya box set Hans Christian Andersen begitu mengetahui kalau saya sudah bisa membaca dengan lancar.

Box set yang ada di gambar di atas itu sebenarnya yang keluaran tahun 1996, saya ingat teman masa kecil saya--begitu sudah pindah ke Bogor--memiliki versi yang ada di atas itu. Milik saya di tahun 1994 punya ilustrasi yang sama dengan yang di atas, tapi dikemas bukan dalam bentuk box kotak kecil. Milik saya adalah 9 jilid buku softcover dengan kertas mengilat seukuran A3 dan dikemas dalam bentuk semacam koper dari kertas. Lucu--dan besar--sekali. Saya ingat saat kecil, setiap kali membacanya saya akan terlihat tenggelam dalam buku yang lebih besar ukurannya dari badan saya, dan setiap membacanya saya harus mengeluarkan usaha ekstra untuk membaca, melihat gambarnya, dan memastikan agar bukunya tidak jatuh menimpa saya.

Box set tersebut memuat koleksi lengkap dari kisah-kisah klasik Hans Christian Andersen dalam versi yang sebenarnya--dengan kata lain, belum tercampur dengan versi Disneys atau versi "pelembutan" yang belakangan beredar. Saya membaca dongeng Little Mermaid yang berakhir menjadi buih, saya membaca Little Red Riding Hood yang harus dibelek keluar dari perut serigala, juga membaca mengenai Hansel and Gretel yang pada akhirnya dimakan oleh penyihir. Karena itu saya bingung ketika setelah agak besar dan kemudian bertemu kembali dengan dongeng-dongeng tersebut, versi Disneys, kisahnya tidaklah mirip dengan apa yang dulu saya baca.

Saya ingat saya paling menyukai kisah Little Mermaid dan Little Red Riding Hood, tapi anehnya justru Mama paling tidak mau membacakan dongeng tersebut sebagai pengantar tidur. Mama bilang ceritanya seram, dan Mama akan mimpi buruk kalau menceritakan kedua kisah itu ke saya sebagai pengantar tidur. Saya sih, santai-santai saja dan nggak pernah mimpi buruk, jadi akhirnya, setiap Mama ketiduran duluan sehabis membacakan salah satu dongengnya--yang seharusnya membuat saya tidur alih-alih dirinya sendiri--saya akan menyelintut turun dari kasur dan membaca dua kisah itu berulang-ulang sampai pagi.

Dongeng yang paling mama saya sukai adalah kisah Goldilocks and The Three Bears--Ikal Emas dan Tiga Beruang. Mama saya menyukai bagaimana keluarga Beruang memiliki peralatan dan furnitur mereka masing-masing dengan ukuran yang berbeda-beda. Dan setiap kali kami sampai pada bagian dimana Beruang Kecil menemukan kursinya--yang paling kecil dan terbuat dari kayu--telah patah kakinya karena diduduki Ikal Emas, kami akan sama-sama berseru, "Kursiku dirusaaak! Kursiku dirusaaak!" lalu kami akan tertawa bersama sesudahnya. Bukan hal yang harusnya ditertawai, tentu, hanya saja cara Mama saya membacakannya menurut saya lucu sekali hingga gaya membaca itu sampai sekarang masih terus melekat di kepala saya dan membuat saya tersenyum saat mengingatnya.

Dalam setiap buku, tiap halamannya disajikan ilustrasi lembut sebesar setengah halaman dan sisanya baru digunakan untuk deskripsi kisahnya. Gambarnya bagus-bagus sekali, dan kemasannya pun terkesan mewah. Saya nggak tahu berapa uang yang harus dikeluarkan Papa saya untuk membeli buku macam itu. Ketika saya pikir-pikir sekarang, pasti mahal sekali. Dan kenyataan bahwa Papa yang seharusnya masih dalam rangka merintis karir malah membelikan buku semahal ini untuk saya membuat saya terenyuh. Hiks.

Box set tersebut adalah buku pertama yang membuat saya mencintai dunia storytelling. Akibat membaca buku-buku tersebut, pada umur 4 tahun saya jadi bisa membuat gambar bercerita. Meskipun memang belum bisa menulis kalimat penuh, tapi setidaknya saya sudah bisa membuat beberapa gambar berkesinambungan dengan deskripsi kecil-kecilan, dan saya rasa dari situ jugalah bibit storytelling saya mulai muncul.

Sayangnya, waktu pindah ke Bogor buku itu saya tinggalkan di rumah Nenek di Malang, karena Nenek tidak mengizinkan Mama mengemasi semua barang kami agar tidak terkesan kami meninggalkannya. Setelah Kakek dan Nenek meninggal, rumah di Malang akhirnya dijual ke orang lain dan karena adanya miskomunikasi, barang-barang yang ada di dalam rumah semuanya dibuang begitu saja ke halaman oleh pemilik baru, yang kemudian dipunguti oleh banyak tetangga dan pemulung, tanpa membiarkan keluarga saya yang juga masih memiliki banyak benda berharga di rumah tersebut mengambilnya kembali. Begitu Papa sempat pulang untuk mengurus barang-barang, hanya tinggal benda-benda yang telah rusak yang masih dibiarkan, sementara perkakas serta pajangan dan benda-benda kenangan yang masih bagus telah raib entah ke mana. Alhasil, box set ini beserta banyak mainan dan buku-buku saya waktu kecil juga turut menghilang dari tumpukan barang bekas rumah Nenek.

Saya sedih sekali waktu diberi kabar oleh Papa bahwa buku-buku dan mainan masa kecil saya telah hilang, tapi mau bagaimana lagi. Saya hanya berharap box set saya ada di tangan mereka yang membutuhkan, untuk membuat seorang anak entah di mana bergembira menjelajahi kisah-kisahnya, dan bukannya berakhir di pedagang pasar sebagai bungkus cabe. ;___;

Ah, ingin punya box set ini lagi, tapi kalau beli sekarang apakah masih akan ada, dan harganya jadi berapa? orz

1 comment:

  1. sama yu, banyak buku-buku masa kecilku yg hilang, sampai curhat di WW minggu ini #pukpukAyu. Tapi bersyukurlah Ayu masih punya kenangan indah tentang buku dan orang tua :D

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...