Saturday, November 16, 2013

[Review] After Dark



Judul : After Dark
Penulis : Haruki Murakami
Penerbit : Vintage International
Tahun cetakan : 2007
Jenis : Paperback
ISBN : 9780307388889

Rating : 4/5


Books & Beyond sedang merencanakan sebuah konspirasi, saya yakin itu. Kenapa bertepatan dengan turunnya uang beasiswa saya, lalu B&B dengan jumawanya memajang hampir separuh dari seluruh karya Haruki Murakami--diberi rak khusus paling depan pula! Ini pasti konspirasi. Pihak manajemen Books & Beyond pasti tahu kalau Murakami adalah dewa menulis saya, makanya mereka memajang banyak bukunya ketika uang beasiswa turun untuk memancing saya kalap dan hedon. Tidak, saya tidak akan termakan jebakan itu, B&B, sori. Saya hanya akan beli satu..... tiap bulan. #teteeep

00.00 A.M.

Jam menunjukkan tepat pukul 12 malam, waktu bagi sebagian besar manusia untuk beristirahat. Kecuali para makhluk malam dan Mari Asai. Tepat pada pukul 12 malam, alih-alih tidur di kamarnya, gadis 19 tahun ini justru duduk sendirian di dalam sebuah kafe, membaca buku. Tak ada tanda-tanda menunggu seseorang, juga tak ada tanda-tanda untuk kembali ke kamarnya. Keanehan situasinya inilah yang kemudian membuatnya bertemu dengan Takahashi, mantan teman sekelas kakak Mari, Eri Asai. Berawal dari pertemuan dengan Takahashi inilah nantinya yang membuat Mari bertemu satu-persatu dengan mereka-mereka yang juga berkeliaran di kala malam, dan menyaksikan sendiri bagaimana peristiwa di balik kegelapan malam terbuka dan menjadi.

Di lain pihak, di dalam kamarnya, Eri Asai tertidur lelap dan tak peduli pada dunia sekitarnya. Dia terlihat seperti mati, tapi sesungguhnya dia hanya tertidur. Suasana dalam kamarnya statis dan sebeku penghuninya. Hanya sebuah televisi di dalam kamar itu yang perlahan bergeletar dan hidup, lalu mengawasi kamar tersebut dalam diam dari sebuah dunia di seberang layarnya.

02.43 A.M.

Sebelumnya mungkin harus saya beri peringatan bahwa kemungkinan review ini akan menjadi review yang bias, karena saya tidak mungkin tidak bias pada Murakami yang saya anggap dewa menulis saya--tuh, kan, belum apa-apa udah lebay. Sampai saat ini, karya Murakami bisa saya kategorikan menjadi dua jenis, yaitu jenis realis-absurdis yang setipe dengan Hear The Wind Sing atau Norwegian Wood, dan jenis realisme-magis yang bermain di ranah surealis seperti 1Q84 atau The Wind-Up Bird Chronicle. After Dark adalah jenis yang kedua, dan seperti biasa, Haruki Murakami dan realisme-magis sama dengan kisah yang tidak jelas maksudnya. Hahaha.

Sebenarnya saya ingin memasukkan novel ini ke kategori horor pada awalnya, karena sumpah creepy banget, terutama saat bagian ada makhluk tak berwajah yang memandangi tidurnya Eri Asai dari balik televisi. Tapi kemudian semakin ke belakang, semakin jelas alur dan hubungan antarkarakter dalam kisah ini--atau mungkin, semakin jelas bagi yang hapal dengan pola kisah ala Haruki Murakami. After Dark ini secara keseluruhan menceritakan tentang semacam Freudian effect dari segala tuntutan kehidupan yang di-repress saat siang hari (kesadaran), dan hanya bisa dikeluarkan pada masa-masa manusia beristirahat di kala malam (ketaksadaran). Dalam kisah ini dunia ketaksadaran diceritakan memiliki eksistensinya sendiri dalam dunia di balik kaca, dan hanya mampu mewujudkan eksistensi tersebut pada waktu-waktu selepas tengah malam hingga menjelang subuh.

"What I want to say is probably something like this: any single human being, no matter what kind of person he or she may be, is all caught up in the tentacles of this animal like a giant octopus, and is getting sucked into the darkness. You can put any kind of spin on it you like, but you end up with the same unbearable spectacle." (p. 120)

Hal yang saya suka dari Murakami adalah kemampuannya untuk menangkap dan meracik kemuraman eksistensi manusia. Membaca karya Murakami selalu memberikan kesan terasing dan terputus dari stimulus dunia luar, dan hal yang sama juga dapat dirasakan dari buku ini. Terlebih lagi ketika dalam buku ini Murakami mengajak pembaca menjadi semacam substansi tak kasat mata yang dapat berpindah dimensi dan melayang-layang di langit.

Kekurangan buku ini.... terlalu tipis! Saya sangat menyukai kisahnya, dan ketika kisahnya berakhir di konklusi yang... seperti itu, mau tidak mau saya merasa kecewa karena kisah ini berakhir. Tapi dengan menilik kekhasan Murakami dalam membuat akhir kisah-kisahnya, saya tidak bisa banyak protes, sih.

6.52 A.M.

Intinya, saya sangat menikmati membaca After Dark, walau mungkin kalau ditanya mengenai novel Murakami favorit, saya masih akan menjawab Norwegian Wood. Dan novel ini semacam pengalaman baru bagi saya karena saya jarang membaca novel Murakami yang memiliki tokoh utama perempuan--1Q84 tidak masuk hitungan karena tokoh utamanya laki-laki dan perempuan secara bergantian. Masih tetap tidak kapok dengan Haruki Murakami dan masih bertekad untuk mengoleksi bukunya satu demi satu. *ambil sesajen dan taruh di depan koleksi buku Murakami*

2 comments:

  1. entah aku pas baca reviewmu ini jadi ingat sama The Rings dan Persona 4 :v

    berapaan ini yuk?

    ReplyDelete
    Replies
    1. haha. emang mirip-mirip begitu. lagi tidur tipi tiba-tiba nyala sendiri terus ada orang tanpa wajah yg mantengin. >.>

      Kemaren beli... 105k, kalo gasalah.

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...