Thursday, November 14, 2013

#5BukuDalamHidupku : Menjadi Indonesia Bersama Pram

Haloo! Selamat datang lagi di postingan #5BukuDalamHidupku di hari ketiga! Hari ketiga, yaaaaay! Saya sukses sampai hari ketiga! *joget hula*

Buku inspirator hidup saya (tsaaah) yang akan saya angkat kali ini adalah buku legendaris karya anak negeri, yang sepertinya nyaris nggak ada orang Indonesia yang nggak tahu namanya, tapi jarang ada yang berhasil baca bukunya sampai habis. hehe.




Siapa, sih, yang nggak kenal Pram Toer? Mm, pertanyaannya diganti, deh. Siapa yang telah berhasil menyelesaikan tetralogi ini?

Waktu main ke rumah sahabat lama saya, kami membicarakan hal ini juga. Banyak orang yang mengetahui siapa Pram Toer, tapi nampaknya masih jarang yang berhasil membaca tetralogi yang satu ini sampai habis. Rata-rata yang membaca tetralogi ini berhenti hanya pada Bumi Manusia, dan sebagian besar menyerah karena merasa tidak cocok. Padahal sebenarnya mereka telah melewatkan sebuah kisah yang luar biasa tentang negeri ini. hohohohoho.

Saya sendiri juga sebenarnya tidak terlalu menyukai Bumi Manusia, bisa dilihat dari review singkat saya di goodreads. Alasan saya tidak menyukainya adalah karena masalah tema yang diangkat di buku pertama, yang lebih menekankan kepada romansa Annelies dan Minke. Karena tema umum buku pertama inilah saya awalnya mengira kalau ternyata Tetralogi Buru ini hanya kisah romansa biasa. Meskipun demikian, tidak dapat dipungkiri kalau saya sangat menikmati gaya menulis Pram, dan juga ada beberapa tema sampingan yang mulai menjentik jiwa sosial saya (tsaaah). Karena itulah akhirnya saya memutuskan untuk memberi kesempatan lagi untuk sekuelnya.

Dan ternyata keputusan saya untuk memberi kesempatan lagi pada tetralogi ini benar. Saat membaca Anak Semua Bangsa, saya tidak bisa berhenti, terutama karena buku kedua itu benar-benar menohok saya dan kepenulisan saya. Iya, sejak kecil, saya tidak pernah menulis cerita berlatar Indonesia. Saya memandang rendah karya anak bangsa, karena kebetulan saya tumbuh di masa Eiffel I'm in Love dan Fairish serta Dealova tengah menancapkan kekuasaannya--dan saya sangat membenci cerita teenlit, mungkin sampai sekarang. Saya melalui masa SMP dan SMA dengan tekad untuk tidak akan membaca buku karangan novelis Indonesia yang 'cemen'. Saya memutuskan hanya akan membaca karya terjemahan, yang menurut saya lebih elit--ya, saya dulu adalah seorang snob, dan tak menutup kemungkinan masih ada sedikit tersisa keangkuhan tersebut dalam diri saya. Tapi semuanya sirna ketika negara api menyerang ketika saya membaca Anak Semua Bangsa.

"Kalau bukan orang Melayu yang menulis untuk bangsanya, lantas siapa lagi?"

Pram berhasil menampar saya dengan kalimat itu. Minke dalam kisah ini juga seperti saya, pendidikan membuatnya angkuh dan merendahkan bangsanya sendiri serta menjunjung tinggi kemajuan bangsa asing, hanya untuk disadarkan bahwa tak ada gunanya menjunjung negara lain karena bukan disitulah akarmu, bahwa sekagum-kagumnya dirimu pada bangsa asing, kenyataan bahwa diri ini adalah berasal dari negeri yang direndahkan oleh orang-orangnya sendiri tidak akan pernah hilang. Lalu apa gunanya hanya merendahkan bangsa sendiri, di saat diri ini sebenarnya juga terikat pada kerendahan tersebut? Apa gunanya hanya mencibir kerendahan diri sendiri tanpa mau berbuat sesuatu untuk mengubahnya? Tentunya pemikiran seperti ini layaknya terus menghina diri ini jelek tanpa ada usaha untuk membuatnya menjadi cantik. Berbahaya, pemikiran seperti ini sungguh berbahaya, dan saya berterima kasih pada Pram karena telah menyadarkan saya akan keberbahayaan pemikiran saya sendiri.

Lalu tamparan Pram akan makin keras dalam Jejak Langkah. Nasionalisme yang saya agung-agungkan selama ini seolah dilucuti olehnya, menggempur saya dengan pertanyaan-pertanyaan mengenai seberapa besar kecintaan saya terhadap negara ini hingga rasanya jadi malu sendiri. Katanya mengaku Indonesia, tapi membaca literatur Indonesia saja tidak mau? Katanya mengaku Indonesia, tapi menulis untuk bangsanya sendiri saja tidak mau? Katanya mengaku Indonesia, tapi mengerti bangsanya sendiri saja tidak mau?

Saya mati dan kecil. Baru kali ini ada buku yang berhasil membuat saya malu setengah mati terhadap pemikiran-pemikiran saya sendiri--dan diselintutkan dengan jumawanya dalam sebuah novel pula!

Akhirnya setelah membaca ketiga buku dari tetralogi tersebut saya mulai berusaha mengubah pola pikir saya. Saya mulai kembali membaca karya anak negeri, baik itu sastra maupun fiksi populer. Jangan dituduh dulu, baca saja dan apresiasi, baru eksekusi! Itu yang saya tanamkan pada diri saya setiap kali saya membaca karya anak bangsa sekarang ini. Dan ternyata baru saya sadar kalau ada banyak karya anak negeri yang bagus-bagus, lho! Setelah mengubah pola pikir ini saya jadi gandrung dengan Leila S. Chudori, juga dengan Mbak Maggie Tiojakin, Pak Budi Darma, dan Mas Yusi Pareanom. Mereka semua sastrawan yang sangat luar biasa, jauh lebih luar biasa daripada novelis luar yang selama ini saya agung-agungkan.

Setelah membaca tetralogi ini juga saya mulai mengubah arah kepenulisan saya, dari yang dulunya gemar bermain fantasi dan berlatar di negeri orang, saya memutuskan untuk menulis tentang negeri sendiri, dalam bahasa Indonesia yang akrab menemani saya selama 23 tahun. Dari situ saya juga jadi mampu introspeksi akan kesalahan-kesalahan saya dalam menulis selama ini yang disebabkan oleh keangkuhan diri. Saya masih berusaha memperbaikinya, tentu, dan tak jarang keangkuhan masih mengambil alih. Tapi yang pasti, hal utama yang menurut teori psikologi harus dilakukan menuju perubahan, yaitu penyadaran, telah saya dapatkan. Sisanya hanya tinggal usaha saya sendiri.

Sekarang ini saya masih berusaha menyelesaikan buku keempatnya yang agak tersendat karena sudut pandangnya tidak lagi pada Minke yang saya sayangi selama tiga--atau dua--buku sebelumnya. Tapi karena ini buatan Pram, saya yakin kisahnya akan bagus. Lagipula saya sudah bertekad untuk menyelesaikan membaca tetralogi ini--dan menjadi Indonesia.

Tabik bangsaku!

4 comments:

  1. Aku juga suka kaliiii sama tetralogi ini, walopun aku pun belum tamat juga. Ahahaha. Aku mandek di tengah2 Rumah Kaca. Waktu itu minjem di perpus organisasi dan udah harus ngembaliin. Setelah itu gak jadi2 aja mau ngelanjutin. Udah rencana lama mau beli aja tetralogi ini, wajib koleksi banget soalnya kan!

    Aaah iya. Baca buku ini memang bikin kita banyak mikir dan sadar betapa salahnya kita (kurang lebih pengalaman aku sama kayak kamu, Yu). Jadi malu sendiri. Tapi karena tau kekurangan kita di mana, kita jadi tau mesti mulai memperbaiki dari mana kan? Mingke pemikirannya top banget. Kagum.

    Tabik!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Eeeeh salah, maksud aku buku ke-3. Aku mandeknya di tengah2 Jejak Langkah.

      Delete
    2. eh kenapa mandek di Jejak Langkah? Aku malah paling suka buku yang itu. Minke udah mulai jadi jagoan. <3

      Iya, setidaknya kita sadar dulu harus mulai dari mana. haha. masalah apakah sukses berubah atau nggak itu urusan nanti. #dikeplak

      Delete
  2. sama, selama ini bacaan saya didominasi buku luar.
    Makanya tahun depan mau perbanyak buku lokal.
    Cuma soal genre kayaknya tetap deh, saya ga bisa jauh-jauh banget dari fantasi dan romens. #shallow
    Untungnya sekarang banyak penulis fantasi lokal yang bagus-bagus.
    Sayangnya banyak penerbit lokal yang belum yakin fantasi lokal bakal diterima

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...