Sunday, October 20, 2013

[Review] The Ocean at The End of The Lane



Judul : The Ocean at The End of The Lane (Samudra di Ujung Jalan Setapak)
Penulis : Neil Gaiman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun cetakan : 2013
Jenis : Paperback
ISBN : 9789792297863

Rating : 3,5/5


Setelah terpesona setengah mati dengan American Gods, dan nangis sedih karena buku Neil Gaiman yang lain sudah susah dicari di toko buku (baik fisik maupun online), saya sangat gembira begitu tahu kalau buku Neil Gaiman yang satu ini akan diterjemahkan, terlebih ketika tahu kalau kisah ini didapuk sebagai dongeng untuk kalangan dewasa. Saya berpikir mungkin buku ini akan sama epiknya seperti American Gods, dan begitu sambang toko buku, saya otomatis langsung membelinya.


Pertemuan di Kolam Bebek

Ocean at The End of The Lane menceritakan mengenai tokoh Aku, seorang pria paruh baya yang tengah melarikan diri dari sebuah acara pemakaman. Dari pelariannya itu dirinya berakhir di rumah lamanya--yang telah dirobohkan dan kini telah berdiri rumah yang baru. Kedatangannya ke rumah tersebut membuatnya mengenang masa saat keluarganya masih tinggal di sana, juga mengenai sahabatnya waktu kecil Lettie Hampstock, dan kolam bebek di dekat rumahnya.

Begitu ia mengunjungi rumah pertanian Hempstock, ia disambut oleh ibu Lettie yang kini telah menua. Si Aku meminta wanita tersebut menunjukkan jalan ke arah kolam bebek, dan begitu ia sampai di sana, semua memori masa kecilnya kembali padanya, juga mengenai kejadian ketika ia berumur tujuh tahun, yang dimulai dengan kematian seorang penambang opal, hingga makhluk-makhluk yang seharusnya tidak bisa ditemui di dunianya.

Kematian di Jalan Setapak

Seperti biasa, Neil Gaiman tidak diragukan lagi adalah seorang storyteller yang handal. Cerita dengan tema sesederhana apa pun sepertinya mampu dia olah menjadi sebuah kisah yang memikat pembacanya dari awal membuka buku hingga akhir, diramu dengan unsur fantasi dan mitologi yang kental. Novel ini pun demikian. Dari sekian banyak buku yang saya beli bulan ini (uhuk), saya mengambil Ocean, dan tidak meletakkannya hingga selesai--sementara saya punya popularitas sebagai kutu loncat dalam membaca buku. Alurnya mengalir dengan apik, dan terjemahan dari Gramedia saya rasa pas dengan gaya tutur Neil Gaiman.

Premis ceritanya juga sebenarnya menarik, mengenai kedatangan makhluk-makhluk dunia lain yang dipicu oleh kematian si penambang opal akibat bunuh diri. Di akhirnya, juga disinggung mengenai surealisme, fantasi dan kenyataan yang melebur dalam benak seorang anak kecil--dan menurut saya, sedikit diulas juga mengenai filsafat eksistensialisme, mengenai dunia yang personal dan berbeda bagi tiap-tiap orang. Dan saya harus akui bahwa eksekusi Neil Gaiman dalam menyampaikannya sangat apik, menjelaskan secara implisit, tidak terkesan menceramahi, namun tepat menjelaskan mengenai surealisme dan eksistensialisme.

Sayangnya, saya sendiri merasa universe dari kisah ini masih terlalu terbuka. Ada banyak pertanyaan yang dibuka dalam kisah ini, namun tidak disediakan jawabannya. Misalnya seperti, makhluk apakah sebenarnya keluarga Hempstock itu? Apa sesungguhnya peran kematian penambang opal dalam kedatangan Ursula Monkton? Bagaimana--dan dari mana saja--makhluk-makhluk asing itu datang ke dunia si Aku? Ada banyak penjelasan yang saya rasa kurang dalam cerita ini. Walaupun saya rasa memang sengaja dibiarkan seperti itu untuk menekankan kesan surealisme, namun cara tersebut justru bisa membuat bingung pembaca. Surealisme memang topik yang menarik untuk dimainkan, tapi patut diperhatikan juga bahwa tema ini mengandung jebakan-jebakannya sendiri--karena sureal bukan berarti dibiarkan terbuka bebas.

Selain itu, alih-alih menjelaskan setting dunia dalam kisah, Neil Gaiman justru menggunakan jatah halamannya untuk eksplorasi plot, yang menurut saya justru terkesan dipanjang-panjangkan hingga kekurangan daya pikat horornya. Lalu begitu saya buka bagian ucapan terima kasihnya, baru saya bisa memaklumi; ternyata memang naskah ini berasal dari cerpen yang akhirnya dibuat sebagai novel. Bukannya saya tidak menyukai eksplorasi plot Gaiman, tapi kembali lagi, plot yang seolah dipanjangkan untuk menjadi novel itu membuat thrill yang seharusnya ada dalam kisah ini menjadi terlalu..... datar.

Masalah lain adalah pola pemikiran si tokoh Aku. Entah kenapa saya selalu gagal membayangkan si Aku sebagai bocah berusia tujuh tahun. Mungkin hal ini ada hubungannya dengan pola flashback yang digunakan, hingga sudut pandang yang bermain dalam kisah ini sebenarnya adalah si Aku yang berusia 40an tahun. Meskipun begitu, entah kenapa hal itu justru membuat saya tidak bisa menghayati cerita ini karena merasa si Aku terlalu dewasa dalam penuturan kisahnya--yang sebenarnya dialami oleh dirinya saat berusia tujuh tahun--hingga akhirnya segala apa yang ingin disampaikan oleh kisah itu tidak terlalu membekas di saya, hanya seperti kisah numpang lewat yang diceritakan bapak-bapak di kedai kopi atau semacamnya.

Meskipun begitu, saya suka sama kover versi Indonesia-nya. Cakeeeeeeeeep! And so soft to touch, too. Saya jarang bisa menyetujui kover pilihan untuk versi terjemahan, tapi untuk yang ini saya setujuh! >/////< d

Samudra di Ujung Jalan Setapak

Kalau sebagai bahan kenikmatan(?), saya selalu sangat menikmati membaca novel-novel Neil Gaiman. Sekali pegang, saya pasti tidak akan meninggalkannya sampai selesai. Neil Gaiman memang mempunyai mantra seperti itu dalam tulisannya. Hanya saja, jika saya harus memilih antara American Gods atau Ocean, dengan berat hati saya akan memilih American Gods. Ocean masih memiliki universe yang terlalu terbuka untuk bisa dibilang selesai, dan saya rasa mungkin akan lebih baik jika panjang halamannya ditambah--tentunya untuk lebih mengeksplorasi setting dunia yang diciptakan. Pun jika tidak demikian, saya rasa Ocean akan lebih cocok menjadi cerpen atau novella, dengan plot yang padat hingga kekurangan dalam deskripsi setting dapat termaafkan dengan mudah. But it still good, coming from The Neil. Fucking. Gaiman.

4 comments:

  1. punya saya uh Ocean masih dilaminating :P
    Banyak sih yg bilang American Gods bagus, makanya pas ketemu obralannya seharga 25K (ya, emang gak baru, udah ga segel dan agak dekil kaya buku bekas, tapi yg penting isinya terbaca) langsung beli.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehehe. saya mah nggak tahan kalo masih diplastikin, mbak. tangan gateeel. jadi dibaca atau nggak, pasti udah diperawanin duluan (plastiknya). :p

      iyoa. saya pribadi paling suka American Gods dari semua bukunya mas Neil. Pesannya dapet, setting dapet, eksplorasi karakter dapet, komplit. Walau memang jadinya tebel banget sik. Eh tapi dapet American Gods cuma 25k itu termasuk beruntung lah. Kalau collectible worthy, harga ga masalah. #eh

      Delete
  2. American Gods itu salah satu buku dimana saya lebih suka ceritanya daripada characternya, kayak baca buku sejarah dengan twist yang kita gak bakal tahu gitu :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. lol. true. tapi aku suka Shadow, sik. << penggemar karakter kosong

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...