Sunday, October 13, 2013

[Review] Winter Dreams



Judul : Winter Dreams: Perjalanan Semusim Ilusi
Penulis : Maggie Tiojakin
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Tahun cetakan : 2011
Jenis : Paperback
ISBN : 9789792278125

Rating : 4/5


Winter Dreams adalah buku yang belakangan ini jadi idaman saya semenjak saya membaca Pulang yang kovernya kuning-kuning itu, yang tiba-tiba membuat saya ingat ingat dan mupeng sama novel ini (oke, ini alasan paling aneh untuk mupeng buku, tapi biarlah). Sayangnya, waktu saya kepingin, saya sadar kalau buku ini sudah susah dicari di toko buku, jadinya saya lebih memilih untuk membeli Saat Kita Tersesat di Luar Angkasa terlebih dahulu--walau tetap, buku ini sumber mupeng utama. Lalu beberapa bulan kemudian ternyata Gramedia mengadakan event promo diskon besar, dan buku ini termasuk ke dalam list diskonnya. Beli harga lebih mahal saja bakal saya jabani, tentu dapat yang diskon merupakan anugerah besar. (tsaaah)


Jakarta

Nicky F. Rompa adalah anak laki-laki yang bisa dibilang submisif terhadap kehidupannya sendiri. Ia membiarkan ayahnya memukulinya, dan membiarkan hidupnya diatur oleh orang-orang di sekitarnya. Bahkan ketika ibunya menyuruhnya pergi ke Amerika untuk tinggal bersama saudara jauhnya ketika pemukulan ayahnya telah melampaui batas, Nicky menurut tanpa banyak tanya. Di Boston, kehidupan Nicky perlahan berubah, dan dirinya dihadapkan pada kenyataan bahwa ia harus menentukan dan memperjuangkan pilihannya agar dapat bertahan hidup.

Winter Dreams adalah rekaman perjalanan kehidupan Nicky untuk mencari jati dirinya sebagai imigran ilegal di negeri asing--melalui pertemuan-pertemuan yang akan membawanya menuju nasib yang harus dijalaninya, dan juga menuju kisah cinta serta dilema yang mengikutinya.

Boston

Bagi saya pribadi, membaca Winter Dreams ini lebih menyenangkan daripada membaca SKTDLA. Masalah saya dengan SKTDLA adalah karena setting kisahnya yang seringkali terlalu lepas dari relevansi dengan dunia nyata--dan sebenarnya menurut saya gaya absurdis adalah gaya yang membuat kesan ilusi dari kejadian yang masih terasa "nyata"-nya, satu hal yang saya gagal dapatkan di SKTDLA. Anehnya, justru dalam Winter Dreams kesan aliran absurdisme yang dianut Maggie Tiojakin menunjukkan potensi terbesarnya. Dalam hal ini, Winter Dreams lebih mengamini subjudul yang terpajang di sampulnya: Perjalanan Semusim Ilusi.

"Penulis fiksi tidak bisa menyimpan rahasia. Untuk menyampaikan pesan kepada orang lain, seorang penulis harus bisa membuka dirinya--seluas dan sedalam mungkin--untuk dicela, dicemooh, dan dilihat orang." (hal. 128)

Kalimat itu rasanya merupakan cerminan dari prinsip menulis Mbak Maggie sendiri, karena memang dalam Winter Dreams ini, pembaca dapat melihat segala paradigma dan inspirasinya dalam menulis. Sama seperti Pulang-nya Leila S. Chudori yang mempunyai kesan klasik-barat dengan gaya tuturnya yang bernuansa surealis-magis ala Kafka, Winter Dreams kental dengan nuansa klasik-barat dengan gaya tutur absurdisme ala Camus yang sedikit tercampur dengan gaya F. Scott Fitzgerald. Dengan membacanya, kita akan terbawa mengikuti arus kehidupan sehari-hari Nicky menjadi warga ilegal di Boston. Kehidupan Nicky terlihat seolah tak mempunyai kesulitan berarti, dan seolah-olah prinsip Nicky yang "here and now" membuat segala aspek dalam hidupnya terasa mudah dan tak bermakna. Benar-benar seperti menjalani hidup dalam sebuah ilusi, hanya untuk membuat pembaca terhentak bangun dengan tamparan kenyataan di akhir cerita.

Selain gaya penceritaanya, hal yang saya suka dari novel ini adalah mengenai bagaimana kepiawaian Maggie dalam mengolah proporsi deskripsi dan dialog dalam kisah ini. Sebagian besar cerita yang saya pernah baca (dengan asumsi ketebalan yang sama), jika tidak mementingkan deskripsi setting hingga eksplorasi karakternya kurang didalami, atau sebaliknya. Tapi Mbak Maggie mampu menyeimbangkan kedua hal ini dengan apik. Pembaca akan disuguhi nuansa kehidupan Boston dengan detil, tanpa membuat kita merasa karakter-karakter di dalam novel tersebut two-dimensional. Pembaca dapat jatuh cinta pada deskripsi akan Boston dan juga pada Nicky, Esme, Natalie, Dev, serta tokoh yang lain, secara bersamaan. Tidak ada karakter yang terasa ditinggalkan, bahkan ketika Nicky akhirnya meninggalkan tokoh-tokoh tersebut. Saya iri! Jiwa penulis saya sangat iri dengan kemampuan penyeimbangan ini!

....dan Semusim Ilusi

Pada akhirnya, perjalanan Nicky dalam Winter Dreams dapat saya tutup tanpa munculnya reaksi protes sedikit pun. Ini penting, karena saya biasanya jadi tukang komentar saat selesai membaca satu buku. Saya sangat menikmati tulisan dan gaya tutur Maggie Tiojakin, hal yang juga membuat saya bertahan membaca SKTDLA, tapi "keabsurdan yang pada tempatnya" di novel ini membuat saya jauh lebih menikmatinya dibanding buku terbarunya. Sangat disarankan bagi mereka yang tidak terlalu mementingkan plot yang 'wah', dan hanya ingin ikut mengalir bersama emosi dan perjalanan para karakter dalam suatu cerita.

Dan tentu saja, jika ditanya buku Maggie mana yang paling favorit bagi saya, akan dengan yakin saya jawab: Winter Dreams. walau ini sebenarnya opini naif saya yang belum pernah membaca Balada Ching-Ching.

5 comments:

  1. Aduuh lagi degdegan nimbangnimbang kepengin buku ini tapi masih ragu... tapi kayaknya setelah beberapa review; termasuk punya Ayu kayaknya jadi makin conviced kalau ceritanya baguus >< wah sempet takut sih apa ceritanya dengan konflik dan liku as imigran gelap bakal terasa gelaap dan berat tapi agaknya penyajiannya enak diikuti ya... sip deh bakal coba baca buku ini :D terimakasih ya sudah share :D salam kenal; wah sama sama kuliah di Psikologi nih... di univ mana? #kepo

    Regards,
    Khairisa R. P
    http://krprimawestri.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halloo, salam kenal juga. :D

      Buku ini memang menurut saya yang paling oke dari Mbak Maggie--tapi lagi-lagi saya belum baca Balada Ching-Ching. Kalau kamu membayangkan buku ini bakal sarat konflik berat dan perjuangan hidup, nay you got it wrong. Fokusnya malah saya rasa ada di kehidupan cinta Nicky dibanding perjuangan hidupnya. Bener-bener kayak ilusi deh. hehe.

      Semoga bisa dapat novelnya, soalnya kalo di Jakarta kayaknya udah jarang beredar di toko buku. Kemaren aja untung-untungan dapet di event diskon Gramed. :|a

      Oya? Anak psikologi juga? Di manaa? Aku di UI. :)

      Delete
  2. :D huwa, saya malah belum pernah baca karya Tante (...) Maggie >< hehehe. Ho, iya ya? Ba... baguslah :'' lagi kepingin cari bacaan yang gak terlalu menguras soalnya yang tetep ditulis dengan bagus hehe #apabanget Balada Ching-Ching memang yang ceritanya "trademark"nya ya? Gak apa-apa kok saya dukung kalau Ayu bilang yang Winter Dreams ini yang paling bagus xD hahaha, kan tergantung feel #...

    Iya semoga masih bsia dapet >< ini sudah coba "nitip" beli di bukabuku sih dan belum ditulisin out of print :'''

    Kalau saya Psikologi Undip :D Ayu semester berapa? Yuk belajar bareng *liatin tugas yang masih dianggurin* #eh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nggak tau sih, cuma katanya Balada Ching-Ching kan banyak yang suka (and since it was her debut so). Oh? di bukabuku masih ada ya? Baguslah. Aku lagi pengen nyariin buat temenku yg keabisan di toko buku daerahnya. Thank you infonya, yaa. :D

      Weew Undip. :D Aku mahasiswa semester akhir. hahak. lagi masa-masa penghabisan kredit. Boleh, boleh. Ayok belajar bareng. Nanti ku-add akun FB-nya deh. Khairisa barusan post di grup BBI kan? :D

      Delete
  3. :D insya Allah masih ada heehe, samasama ^^

    Waa semangat menghabiskan kredit kak ><9 #eh iya kak terimakasih, iya itu saya ehehehe #yangmana

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...