Saturday, October 5, 2013

[Review] Throne of Jade



Judul : Throne of Jade (Temeraire #2)
Penulis : Naomi Novik
Penerbit : Del Rey
Tahun cetakan : 2006
Jenis : ebook
ISBN : 0345493443

Rating : 3/5


Setelah begitu menikmati buku pertamanya, saya langsung lanjut ke buku kedua. Saya jarang melakukan hal seperti ini dengan buku seri, terutama karena jika buku pertama begitu memikat saya, saya akan berhenti cukup lama sebelum membaca buku sebelumnya untuk menyingkirkan high saya akan buku pertama dan bisa menilai lebih objektif mengenai buku kedua. Tapi untuk Temeraire, saya langsung sambung tanpa basa-basi--mungkin karena ending buku satu yang seperti itu. But here we goes.

Warning : kemungkinan spoiler untuk yang belum baca buku pertamanya. Review buku #1 bisa dilihat di sini.


Kingdom of Great Britain

Setelah diketahui bahwa Temeraire adalah seorang keturunan Celestial--dan bukannya keturunan Chinese Imperial seperti yang diketahui sebelumnya--pihak Cina menginginkan Temeraire kembali ke tangan mereka. Menurut mereka naga Celestial hanya diperkenankan mendampingi seorang raja, karena itu mereka mengirimkannya sebagai hadiah bagi Bonaparte yang saat itu baru saja menduduki takhta kerajaan. Tapi alih-alih mendampingi seorang raja, telur Celestial itu justru jatuh pada Laurence, yang mereka anggap tidak layak derajatnya untuk menjadi pendamping seekor naga Celestial.

Meskipun demikian, Temeraire menolak untuk dipisahkan dari Laurence dengan berbagai cara. Begitu juga dengan Laurence yang menolak untuk melepaskan Temeraire dengan alasan apa pun. Kengototan mereka membuat hubungan diplomatik Inggris dan Cina menjadi tegang, terutama di saat Inggris sedang berusaha mencari celah untuk memperluas akses perdagangan dengan Cina yang terkenal tertutup. Para diplomat yang dikirim untuk menyelesaikan masalah ini semuanya meminta Laurence untuk membujuk Temeraire kembali pada pihak Cina. Ketika Temeraire nekad membawa kabur Laurence bersamanya sebagai bentuk penolakan, akhirnya pihak diplomat Cina memutuskan untuk ikut serta membawa Laurence ke Cina, dengan harapan cepat atau lambat mereka bisa menemukan cara untuk membujuk Temeraire meninggalkan Laurence.

Kingdom of China

Novel kedua ini memiliki aura yang berbeda dengan novel pertamanya. Jika dalam His Majesty's Dragon kental dengan nuansa peperangan, maka dalam Throne of Jade, pembaca akan lebih difokuskan pada intrik politik dan kekuasaan, baik di Inggris maupun di Cina, seperti bagaimana diplomat Inggris terus membuat strategi yang lebih mementingkan hubungan bilateral Cina-Inggris dan kerap menjilat diplomat Inggris, atau bagaimana Laurence kerap kali menjadi sasaran atas keinginan pihak diplomat Cina untuk memberikan lawan takhta bagi calon kaisar--dengan memberikan lawan takhta tersebut Temeraire, yang seekor Celestial.

Menurut saya pribadi novel ini memiliki plot yang terlalu lambat dan justru punya kecenderungan untuk mempersingkat hal-hal yang seharusnya menjadi klimaks cerita. Kecenderungan ini sebenarnya juga sudah terlihat sejak buku pertama, yaitu dengan plot yang terasa dipanjang-panjangkan di bagian non-klimaks, dan klimaks--serta penutupan--justru dijelaskan dengan pace yang terlalu cepat. Hanya saja, di buku pertama bisa saya maafkan karena plot slow-paced dalam novel itu digunakan untuk relationship development antara Laurence dan Temeraire--yang merupakan bias saya. Sedangkan dalam buku kedua, plot yang direnggangkan ini difokuskan hanya untuk menceritakan usaha diplomat Inggris untuk menyenangkan pihak Cina, kekesalan Laurence pada diplomat kedua negara, dan Temeraire yang manja gara-gara bosan di atas kapal.

Jujur saya bosan membaca plot di bagian perjalanan mereka menuju Cina dengan kapal, karena pace-nya terkesan dipanjang-panjangkan sementara siklus plot justru berputar-putar di ranah yang sama. Di lain pihak, hal-hal yang patut dieksplorasi lebih lanjut, seperti karakter para diplomat Cina--yang ternyata di akhir cerita menjadi penting--atau mengenai posisi kekuasaan di Kerajaan Cina saat itu, justru hanya sedikit-sedikit dijelaskannya, hingga ketika ada putra mahkota mengunjungi Laurence, rasanya jadi seperti tokoh itu muncul tiba-tiba dan tanpa peringatan. Dan lagi-lagi klimaksnya terasa seperti direm tiba-tiba.

Di buku ini juga saya mau tak mau harus memasukkan label genre "drama", karena memang komposisi dramanya begitu besar. Membaca buku ini mau tak mau saya jadi membayangkan adegan sinetron dengan dua orang kekasih yang beda kasta hingga hubungan mereka tidak direstui oleh orangtua salah satu pihak--yang memiliki kasta yang lebih tinggi. Atau Romeo dan Juliet versi naga? Ya, mungkin itu lebih tepat. Kali ini saya cukup tidak bisa memaafkan klise yang diolah oleh Naomi Novik, tidak seperti buku pertama.

Kekurangan yang terakhir, sebenarnya ini murni personal taste saya dalam membaca. Hubungan Temeraire dan Laurence kurang diperlihatkan dalam novel ini, atau paling tidak, tidak seperti di buku pertama. Laurence lebih banyak merisaukan tentang apa yang akan diplomat Cina lakukan padanya untuk menjauhkannya dari Temeraire dibangding terfokus pada Temeraire sendiri. Temeraire sendiri juga kurang dieksplorasi pemikirannya, karena sepanjang buku ini, hanya satu kata yang bisa saya berikan padanya: manja--dan hal itu tidak terlihat sama sekali di buku pertama. Saya lumayan tidak bisa mentolerir karakter yang manja--dan yang memanjakan dengan sepenuh hati seperti Laurence. Jadi ini kekurangan yang ada hubungannya dengan pribadi saya sendiri sebagai pembaca. Mungkin banyak yang tidak akan terpengaruh dengan perubahan sikap ini.

Meskipun demikian, saya masih terhibur dengan deskripsi mengenai naga-naga Cina dan perbedaan budaya dalam memperlakukan naga di Inggris dan di Cina. Perbedaan budaya ini membuat hasil yang signifikan terhadap perkembangan karakter Temeraire dan Laurence, dan juga menjadi semacam reaktor untuk buku-buku selanjutnya, jadi setidaknya novel ini tidak akan menjadi novel gali-tutup lubang yang biasanya menjadi ciri novel-novel seri panjang lainnya.

Throne of Jade

Secara keseluruhan, buku kedua ini tidak bisa memuaskan saya seperti buku pertama. Kurangnya eksplorasi setting dan perentangan plot untuk hal-hal yang sebenarnya tidak signifikan pada plot membuat saya jadi lebih sering menutup buku ini. Tadinya saya memang berniat untuk mengoleksi buku fisiknya, tapi karena buku dua tidak memuaskan saya, mungkin keputusan ini akan saya pikirkan ulang. Jika buku tiga dan empat dapat kembali memuaskan saya, mungkin saya akan kembali kepada keputusan membeli buku fisik dari seri ini--hingga Blood of Tyrant yang masih hardcover dan bahasa inggris.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...