Thursday, October 31, 2013

[Review] Rencana Besar


Judul : Rencana Besar
Penulis : Tsugaeda
Penerbit : Bentang Pustaka
Tahun Cetakan : 2013
Jenis : Paperback
ISBN : 9786027888654

Rating : 4/5


Tahu buku ini waktu lagi iseng main ke blognya mbak Cynthia dan kebetulan melihat reviewnya, lalu tertarik karena katanya ini novel thriller dan saya sebenarnya sedang mencari referensi thriller Indonesia untuk pengerjaan novel saya (yang juga bergenre misteri/thriller). Menurut Goodreads juga sampai saat ini ratingnya bagus, jadi makin penasaran. Eh, setelah dicek dan ricek, ternyata karya debut juga--pas dengan tema posbar BBI Oktober! Lalu ternyata Bentang sedang mengadakan lomba review novel ini juga! Ya sudahlah, yang tadinya saya hanya berniat membelikan untuk co-author saya untuk menambah referensinya dalam mengerjakan novel pribadi kami, akhirnya saya juga beli sendiri karena penasaran; jangan-jangan ada sebuah rencana besar terselubung dari semua kebetulan ini. iya, alasan belinya enggak banget, tapi yang penting, kan, akhirnya beli :p

*Review ini dibuat dalam rangka posting bareng BBI Oktober 2013 dan juga untuk mengikuti lomba resensi #CallForReviewRB dari Bentang Pustaka.


Sang Penghancur

Makarim Ghanim hanyalah seorang konsultan yang bergerak dalam bidang manajemen sumber daya. Namanya memang tersohor di dunia korporasi; dikenal oleh banyak petinggi perusahaan di Indonesia, dibaca di banyak buku teks perkuliahan, dan belakangan juga sering wara-wiri ke pengadilan untuk menjadi saksi bagi masalah beberapa perusahaan. Namun ternyata kepopulerannya yang terakhir itulah yang membuat kawan lamanya, Agung Suditama, memberinya tawaran pekerjaan yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya--menyelidiki mengenai penggelapan uang dalam Universal Bank of Indonesia (kedepannya disebut sebagai UBI, and no, I'm neither laugh nor hungry everytime I read it, I swear).

Uang sebesar 17 miliar rupiah secara misterius raib dari pembukuan UBI tanpa mampu dilacak ke mana perginya. Kredibilitas UBI di mata nasabah dipertaruhkan jika masalah ini sampai terbuka ke publik. Oleh karena itu, Agung, yang tengah menjabat sebagai wakil direktur UBI, meminta Makarim menyelidiki mengenai kasus ini diam-diam, sebagai pribadi dan tanpa mengatasnamakan perusahaan konsultan Makarim, Makarim G. and Co. Makarim sendiri awalnya sangsi, tapi setelah melihat data kasusnya, akhirnya ia memutuskan untuk menyanggupinya.

Dari data yang diterima Makarim dari UBI menjelaskan bahwa bank tersebut mencurigai tiga orang karyawannya yang kesemuanya merupakan pegawai cabang Surabaya: Rifad Akbar, Amanda Suseno, dan Reza Ramaditya. Rifad adalah seorang militan natural. Dia adalah alfa dalam setiap gerombolan; penghimpun dan penggerak massa. Sejak awal incarannya adalah Serikat Pekerja UBI, dan benar saja, dalam waktu singkat dia adalah ketua Serikat Pekerja UBI seluruh Indonesia. Amanda adalah perempuan kenes yang tekun. Seorang marketer yang sangat taat kepada direksi, namun ambisius untuk mencapai puncak. Sementara itu, Reza adalah gambaran dari para pekerja giat nan cerdas yang mengalami demotivasi bekerja akibat ketidakpuasannya terhadap sistem. Makarim harus mengetahui siapa dari mereka bertiga yang bertanggung jawab atas pembobolan dana tersebut.

Namun benarkah semua masalah ini hanya selesai sampai di sana? Makarim hanya belum menyadari kalau sebenarnya ia tengah melangkah ke tengah suatu misteri yang lebih besar dari yang ia bayangkan.

Sang Pembangun

Masalahnya adalah, saya bukan pembaca genre thriller yang taat. Pengalaman saya dengan genre misteri/thriller adalah beberapa buku cozy-mystery (and I love cozy mysteries) dan satu-dua novel mystery-conspiracy--terakhir adalah The Girl With The Dragon Tattoo, dan menyelesaikannya butuh setahun sendiri untuk otak saya yang cetek dan waktu saya yang sempit. Saya bukan pembaca Sherlock Holmes, saya tidak--atau belum--berminat membaca Agatha Christie, serta saya selalu gagal membaca karya-karya Dan Brown. Jadi, sebelumnya, akan saya peringatkan bahwa kemungkinan kredibilitas review saya tidak akan sebegitu besar--saya menilai buku ini hanya dari kenyamanan saya dalam membacanya.

Saya sendiri sebenarnya memasukkan Rencana Besar sebagai bagian dari cozy mystery, dan mungkin memang karena itu saya betah membacanya. Seperti layaknya novel-novel ber-genre cozy mystery, tokoh detektif kita, Makarim, bukanlah seorang detektif atau anggota penegak hukum. Dia seorang konsultan manajemen sumber daya yang tidak pernah menyelidiki hal-hal yang berhubungan dengan kejahatan sebelumnya, jadi wajar saja kalau beberapa tindakannya kadang terkesan bodoh atau tidak tepat. Settingnya juga sebenarnya familiar bagi pembaca, yaitu setting perbankan. Oke, mungkin memang jarang yang mengerti struktur perbankan. Tapi siapa, sih, yang nggak tahu bank dan bagaimana proses kerjanya, setidaknya dalam masalah melayani pelanggan? Terlebih lagi, Mas Tsugaeda menjelaskan mengenai struktur dan sistem perbankan dengan apik hingga pembaca dengan cepat dapat masuk ke dalam cerita.

Untuk urusan plot, bagi saya cenderung mudah ditebak--lagi-lagi, ini mungkin ada hubungannya dengan novel ini sebagai cozy mystery. Tapi saya benar-benar menyukai gaya tutur Mas Tsugaeda. Dengan proporsi deskripsi-dialog yang tepat dan efektif, meskipun saya sudah bisa mengira-ngira bagaimana plotnya, tapi saya tidak kehilangan minat membacanya dan tidak ingin untuk menutup bukunya atau skimming sampai akhir--yang biasanya saya lakukan ketika saya sudah bisa menebak ke mana arah cerita. Saya membaca halaman demi halaman novel ini dengan patuh, dan anehnya, saya merasa thrilled. Sebenarnya saya jarang merasa thrilled saat membaca sesuatu, apalagi yang sudah saya ketahui plotnya, karena itu saya memberikan applause bagi Mas Tsugaeda yang sudah memberikan efek tak terduga pada saya. (haha)

Masalah karakerisasi, saya harus akui bahwa novel ini punya kecenderungan untuk menuruti simbolisme yang memang diciptakan untuknya; segitiga karma atau simbolisasi trimurti--sang pembangun (Brahma), sang pemelihara (Whisnu), dan sang penghancur (Siwa). Rifad, Amanda, dan Reza memang seolah dibuat untuk benar-benar mewakili salah satu karakter dari ketiga hal tersebut hingga terkadang sifat mereka menjadi terkesan terlalu ideal--dan membuat saya berpikir; ada apa dengan penulis Indonesia dan kecintaan mereka terhadap segitiga karma? Karena saya sudah sering sekali melihat simbolisasi tiga hal ini di novel-novel Indonesia, terutama sekali yang bergenre misteri (Rahasia Meede? Bilangan Fu?). Uniknya, meskipun kadang terkesan terlalu ideal, Mas Tsugaeda mampu memberikan batas bagi keidealan tiga karakter tersebut, melakukan tone-down pada sifat mereka di sana-sini dan membuat mereka sedikit lebih membumi--dengan memberi mereka background dan struggles khas masyarakat urban dalam setting familiar--hingga pembaca bisa lebih nyaman dalam menghayati karakter-karakter tersebut.

Sedikit yang saya sayangkan adalah ketika menjelang akhir aura cozy mystery-nya mulai menghilang dan justru digantikan dengan aura mystery-conspiracy, dengan demo pekerja sebagai puncak pemberontakan dan pembukaan misteri yang menyelubungi korporat UBI, lalu ditambah dengan sosok Rifad, Reza, dan Amanda yang seolah jadi seperti tokoh dalam cerita bertema "The Chosen One"--or three. Bukannya saya protes, toh saya manut saja baca novel ini tanpa keinginan untuk menutupnya bahkan setelah tahu kisahnya berubah jadi seperti ala-ala novel distopian mainstream begini. Hanya saja saya lebih menyukai aura cozy mystery yang digeber di awal hingga pertengahan buku, dan berharap konklusinya bisa lebih.... well, kalem. Just a wistful thinking from an amateur mystery/thriller reader, tho.

Sang Pemikir

Kalau saya disuruh menyebutkan novel misteri Indonesia yang bisa saya nikmati sampai saat ini, saya akan menunjuk Rencana Besar. Saya jarang bisa bertahan membaca novel misteri yang njelimet dengan kode-kode yang butuh memutar otak dan referensi sejarah/geografi/arkeologi--you name it--untuk memecahkannya atau pola-pola deduktif yang menyelipkan detil di sana-sini. Tapi membaca novel ini, dengan detektif dan pelakunya yang sama-sama orang awam dalam masalah kriminal--that's cozy mystery was all about, yes--membuat saya bisa sepenuhnya mengerahkan rasa penasaran dan keawaman saya untuk masuk ke dalam cerita dan membantu Makarim memecahkan kasus yang terjadi di UBI ini.

Akhir kata, Rencana Besar adalah novel misteri yang menurut saya bisa dibaca sambil santai dan nggak perlu ngoyo. Cukup biarkan diri kita tenggelam dalam aliran ceritanya, dan kita akan merasakan thrill yang bikin penasaran tapi nggak membuat kepala sakit; cocok dibaca di sore hari sambil duduk santai ditemani teh dan cemilan. Lalu setelah itu periksa kembali pembukuan keuangan bulanan kita, jangan-jangan ada yang sengaja memanipulasinya untuk memberikan kita petunjuk ke sebuah rencana besar terselubung--misalnya, rencana tersembunyi untuk mengingatkan kita supaya nggak terus-terusan beli buku. #ohok (curcoooooollll!!)

4 comments:

  1. wahh aku jadi penasaran deh. udah baca beberapa review buku ini dan banyak yang bilang bagus :) at least untuk ukuran novel konspirasi lokal...btw aku jg suka cozy mystery, terutama yang settingnya di toko buku gitu hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, emang bagus, mbak. misterinya nggak overkill. :D

      eiya. kayaknya waktu itu saya juga pernah pengen baca cozy mystery dengan setting di toko buku.... tapi lupa judulnya. Ada rekomendasi, mbak? :D

      Delete
  2. Iyaa ini novel keren. ketegangan dan rasa penasarannya kerasa banget :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. sepakat! Alvina udah baca juga, ya? Sayang banget novel ini kayaknya belum terlalu banyak dapet sorotan, ya. :/

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...