Saturday, August 10, 2013

[Review] Kisah-Kisah Cinta Ganjil



Judul : Kisah-Kisah Cinta Ganjil
Penulis : Milan Kundera, Alice Munro, Gabriel Garcia Marquez, Naoya Shiga
Penerbit : Banana Publisher
Tahun cetakan : 2005
Jenis : Paperback
ISBN : 9799998611
Rating : 4/5

Bulan lalu, sehubungan dengan adanya bulan Ramadhan, penerbit Banana mengadakan diskon 50% bagi buku-buku terbitannya. Sudah lama mencari buku-buku kece terbitan Banana--dan sekali ketemu langsung diskon besar--otomatis saya langsung kalap. Buku ini adalah salah satu dari sebuntel buku kece yang saya pesan dari penerbit tersebut.

Saya membeli buku ini karena nama pengarang yang disebutkan di katalog diskon, yaitu Milan Kundera. Sudah cukup lama saya ingin membaca karyanya, yang konon hobi membolak-balik plot sekaligus perasaan pembacanya. Awalnya saya kira buku ini hanya memuat karya Milan Kundera, tapi ternyata buku ini adalah buku kumpulan cerpen klasik yang memuat empat cerpen dari empat penulis klasik kenamaan; Milan Kundera, Alice Munro, Gabriel Garcia Marquez, dan Naoya Shiga. Berikut akan saya bahasa satu-persatu cerpennya beserta rating untuk setiap cerpen.


1. Edward dan Tuhan oleh Milan Kundera - rating 4/5

Cerpen pembukaan dalam buku kumpulan cerpen ini adalah karangan dari penulis yang sudah lama ingin saya baca, yaitu Milan Kundera. Premisnya awalnya terlihat sederhana, tentang seorang guru di negara komunis/sosialis bernama Edward yang jatuh cinta pada Alice, seorang gadis kristen yang taat. Semua orang, saat PDKT dengan orang yang dia sukai, pastilah berusaha untuk terlihat baik dan 'sepaham' dengan orang yang disukainya. Begitu juga dengan Edward. Demi menarik simpati Alice, Edward yang tidak percaya pada Tuhan rela pergi ke gereja dan mengaku pada Alice bahwa ia mempercayai Tuhan. Sialnya, suatu kali saat ia sedang pergi ke gereja bersama Alice, kepala sekolah yang memimpin di tempatnya bekerja memergokinya tengah keluar dari gereja. Karenanya, Edward harus memutuskan untuk memilih Alice atau pekerjaannya, dan juga memilih apakah ia akan percaya pada Tuhan atau tidak.

Di awal-awal cerpen ini terkesan biasa saja, tentang laki-laki yang berpura-pura demi bisa bersama dengan gadis yang disukainya. Tokoh Edward sendiri awalnya tidak bisa menarik simpati saya karena terkesan terlalu pretensius, walau dalihnya sangat jujur. Tapi begitu dia menyadari bahwa bukan Alice atau pekerjaannya yang harus dia pertimbangkan, melainkan apakah dia harus percaya pada Tuhan atau tidak, pergulatan batin yang apik dan penuh perenungan terjadi di sini. Milan Kundera dengan cekatan menunjukkan pada pembaca bahwa tidak ada seorang manusia pun yang bisa menjadi penganut kepercayaan yang taat, bahkan seseorang yang religius sekalipun.

2. Bagaimana Aku Bertemu Suamiku oleh Alice Munro - rating 3/5

Dalam cerpen ini mengisahkan tentang Edie, seorang wanita desa yang putus sekolah dan akhirnya bekerja menjadi pelayan pribadi seorang kolega keluarganya. Suatu hari, di lapangan dekat rumah tempatnya bekerja, ada sebuah pesawat yang mendarat dan menetap di sana. Sang pemilik pesawat menyewa lapangan tersebut dan menggunakan pesawatnya sebagai sarana wisata udara penduduk sekitar. Sejak itu kisah tentang Edie dan Chris, sang pemilik pesawat bergulir.

Cerita yang menurut saya paling biasa saja di dalam kumcer ini, malah cenderung seperti telenovela, dengan adanya tunangan modis nan galak dan percintaan beda kasta. Meskipun demikian, kisah ini dituturkan dengan gaya yang menarik dan tidak mengharu-biru layaknya telenovela. Cara bertutur Alice Munro lugas dan sederhana, tanpa efek dramatisasi yang berlebihan, membuat saya menikmati membaca cerpen ini--terlepas dari temanya yang biasa.

3. Pertemuan Agustus oleh Gabriel Garcia Marquez - rating 3,5/5

Gabriel Garcia Marquez terkenal dengan karyanya 100 Hundred Days of Solitude yang kental dengan unsur realisme-magis. Namun di sini Gabriel hadir dengan sebuah cerpen yang realis. Pertemuan Agustus mengisahkan tentang seorang wanita yang selalu mengunjungi sebuah pulau kecil di Karibia setiap tahun untuk berziarah ke makam ibunya. Yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, sang wanita yang sebelumnya selalu setia pada satu orang, di tahun ini merasa begitu ingin untuk mengubah kebiasaannya tersebut.

Saya belum pernah membaca Gabriel Garcia Marquez sebelumnya, tapi saya cukup menyukai gaya penulisannya yang detil dan begitu deskriptif. Tapi yang paling saya suka sebenarnya adalah tokoh-tokohnya, terutama si wanita yang diceritakan sebagai sosok yang mendominasi akibat gairah tiba-tibanya. Dan lagi-lagi, atmosfer khas roman picisan absen dari cerpen ini, membuat saya bisa begitu menikmatinya.

4. Kuniko oleh Naoya Shiga - rating 5/5

"Tak seorang pun, sampai saat ini, benar-benar menggambarkan perasaannya akan bunuh diri itu sendiri secara langsung." - Ryounosuke Akutagawa (hal. 138)

Kalimat itulah yang menjadi tema cerpen ini. Mengisahkan tentang kehidupan rumah tangga seorang dramawan bersama istrinya, Kuniko, hingga akhirnya Kuniko tewas akibat bunuh diri. Dalam cerita ini sang dramawan berusaha menelisik jejak-jejak perbuatannya yang dapat mengantarkan istrinya untuk akhirnya memutuskan bunuh diri.

Cerpen penutup sekaligus cerpen favorit saya dalam buku ini. Pesan yang disampaikan cerpen ini adalah bahwa sebenarnya tidak ada seorang pun, sampai sekarang, yang mampu menjelaskan tentang bunuh diri. Sebagian besar orang hanya menerka-nerka, tapi sesungguhnya, bunuh diri kadang tidak perlu dipicu oleh hal-hal yang bersifat depresif ataupun penyakit mental lainnya, tapi seringkali cukup dengan hanya hal-hal kecil seperti tidak ditegur secara bersemangat oleh sobat karibmu disaat kau membutuhkannya. Dengan penulisan yang terkesan tenang dan datar khas literatur jepang, cerpen tragedi ini dijamin akan sukses mengiris hati pembacanya.


Dengan rating yang lumayan bervariasi itu, akhirnya saya bulatkan menjadi bintang 4 untuk nilai keseluruhannya, sesuai dengan jumlah cerpen di dalam kumcer ini. Dengan gaya penulisan yang indah--dan diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan apik pula--buku ini sukses mengubah pandangan saya tentang cerpen klasik, yang tadinya cukup tidak saya jadikan preferensi setelah membaca kumcer Fiksi Lotus, dan cenderung memilih novel klasik. Nyatanya, cerpen klasik juga memiliki keindahannya sendiri yang tak kalah dari novel. Mungkin setelah ini saya akan mencoba kembali membaca Fiksi Lotus. Siapa tahu rating yang saya berikan akan berubah.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...