Monday, August 12, 2013

[Review] The Secret of Two Suns



Judul : The Secret of Two Suns
Penulis : Rudy Efendy
Penerbit : Laksana
Tahun cetakan : 2013
Jenis : Paperback
ISBN : 9786027933132
Rating : 3/5


Buku M/M romance Indonesia keenam yang saya baca, dan saya lumayan girang mengetahui bahwa genre ini kini makin marak di Indonesia. Sayangnya, semaraknya genre ini di tanah air tidak (belum) dibarengi dengan adanya naskah-naskah yang mumpuni, dan kebanyakan cenderung misleading tentang informasi mengenai kaum yang dibahas. Waktu curhat tentang hal itu di goodreads pada teman saya, penulis novel ini merekomendasikan saya untuk membaca bukunya, dengan alasan katanya tidak akan membuat misleading info tentang LGBT. Makanya begitu nemu bukunya di toko buku, akhirnya langsung saya beli. hehe.

And hold your seat, because this review would be part-review, part-rants. lol.

Peringatan : mungkin akan ada cukup banyak spoiler yang dibahas di sini.

Kisah Bermula

Saat perpisahan SMA, Febrian menyatakan perasaannya pada sobat karibnya, Ardan, hanya untuk mendapatkan reaksi yang menyakitkan dari Ardan. Sobatnya itu pergi dan menghilang entah ke mana rimbanya. Lima tahun berselang, Febrian telah menjadi kepala perusahaan biskuit yang diwarisinya dari sang Ayah. Ia telah lama melupakan cintanya terhadap Ardan dan mulai bisa membuka hatinya kepada Vinni, anak mitra bisnis ayahnya dan teman berkuliahnya di Sydney. Namun, saat ia sedang pergi ke San Fransisco untuk suatu urusan bisnis, ternyata ia bertemu lagi dengan Ardan. And guess, what? Ardan tengah berada di sebuah gay bar dan telah menjadi seorang male escort (yes, ladies, an escort. surprise? no, I'm not). Apa yang terjadi pada Ardan selama lima tahun mereka berpisah? Bisakah Febrian menggunakan kesempatan itu untuk kembali merajut cintanya yang telah lama terpendam? (of course he could, if not, this isn't a love story, don't you think?)

Rahasia Dua Mentari

Pertanyaan pertama: kenapa judulnya The Secret of Two Suns? Karena tokohnya keduanya adalah laki-laki, dan karena dalam yin dan yang matahari disebut sebagai simbol lelaki dan bulan sebagai simbol perempuan? Atau karena Febrian dan Ardan sama-sama seperti matahari? Apa pun itu, saya nggak menangkap sama sekali tentang apa pun dalam cerita yang mencerminkan judulnya. Saya hanya bisa percaya bahwa penulisnya mempunyai alasan untuk pemilihan judulnya. (tapi sebenarnya kalau memilih judul karena alasan yang pertama saya sebutkan, itu berarti ada--sedikit--salah konsep di sini)

Kelebihan

1. Saya menyukai gaya penulisan Mas Rudy Efendy. Caranya bercerita lembut namun memiliki pemilihan kalimat yang presisi untuk menjelaskan situasi yang ada dalam ceritanya. Begitu melihat bio penulisnya, ternyata wajar saja, dia ternyata kerap menerbitkan karyanya di media-media beraliran populer. Ada khas kepenulisan media dewasa populer yang bisa saya cermati di dalam tulisannya. Mas Rudy juga pandai memadukan antara dialog dan deskripsi di tengah bab yang padat, hingga bisa membuat saya menikmati membaca novelnya hingga tamat.

2. Seperti yang dikatakan pada saya, Mas Rudy ternyata cukup menepati janjinya: tidak ada misleading info tentang kaum LGBT. Kenapa cukup? Karena ternyata masih ada beberapa hal yang menurut saya masih terlalu stereotip. Hal-hal itu nantinya akan saya bahas di bagian berikutnya. Masalah dengan Ardan, dari laki-laki (mengaku) straight ke seorang male escort, saya bisa memaklumi dasar alasannya. Memang ada kasus-kasus seperti yang dialami Ardan, tidak punya pilihan lain hingga harus bekerja seperti itu, terutama sekali adalah orang-orang imigrasi yang berasal dari keluarga tidak mampu seperti Ardan. 

3. Untuk Febrian, true man, love doesn't need a reason. Salah satu hal yang sering saya temui dari penulis M/M di Indonesia adalah bahwa sepertinya mereka sangat berusaha mencari-cari alasan kenapa seseorang itu gay atau lesbian. Seolah mereka tengah melihat sesuatu yang salah, lalu mencari-cari di mana sekrup yang kendor dari orang-orang tersebut supaya kita bisa memaklumi, "oooh, ternyata dia longgarnya di situ, pantes aja dia jadi begitu." I tell you what, sexual orientation is a matter of heart. You choose to love guys or girls (or both), that's what your heart's desire. Teori Freud yang menyatakan bahwa lelaki gay itu pasti karena kehilangan sosok ayah atau karena lebih dekat dengan ibu itu sudah enggak jaman lagi, man. Sudah ada banyak penelitian dan temuan dalam queer studies yang bisa digunakan untuk membantah hal tersebut. Alasan untuk menjadi gay itu nonsense. Setiap orang memiliki alasannya masing-masing untuk menjadi diri mereka sendiri, termasuk para LGBT. Jadi, saya cukup suka ketika Febrian dibuat sebagai biseksual meskipun kedua kehidupan keluarganya tanpa konflik berarti. 

4. Hal yang paling saya suka adalah karena penulsinya cerdas menutupi kelemahan argumennya dalam novel. Seperti contoh bagian tentang isu pemerkosaan yang dilakukan oleh Om Wim. Tadinya saya mau berteriak protes, "Nooooo, tidak ada orang yang menikmati saat diperkosa! How could youuuu!" Tapi kemudian disebutkan bahwa Ardan sebenarnya tidak pernah menyukai perbuatan Om-nya tersebut. Nice clearing, dare I say. Memang ada beberapa kasus seperti itu, saya tahu beberapa. Selama nggak dibilang gara-gara itu Ardan jadi menyukai sesama jenis gara-gara kasus perkosaan tersebut, sedikit kesalahan tersebut termaafkan dengan mudah. Smart, bro, really.

5. Enggak banyak kalimat k3jU, mencatut istilah Dan di goodreads. Oh gosh, ini juga saya suka banget. Ardan dan Febrian hanya berinteraksi seperti layaknya dua lelaki, tanpa banyak sappy and cheesy lines a la gombalers, tapi yang membaca bisa ikut larut dalam manisnya hubungan mereka. Nice.

Kekurangan

1. Cliche. Cliches everywhere. Ditolak lalu bertemu pujaan hatimu beberapa tahun kemudian dengan sudah menjadi escort? Klise. Menjadi tuan kaya raya berarti mampu menjadi hero bagi orang yang kau sukai? Klise. Ada adegan bertarung menyelamatkan putri--er, wait, pangeran--dari raksasa jahat (nan kaya dan mafia) untuk menarik simpatinya? Klise. Lalu setelah bertarung, bawa putrimu--pangeran, duh!--kembali ke kerajaan asalmu, Indonesia? Klise, Rian, Klise. Febrian resmi saya nobatkan sebagai Pangeran Klise dalam ranah cerita M/M Indonesia. Bukannya saya benci klise, selama klisenya dieksekusi dengan baik, saya dengan senang hati membacanya, tapi kalau klise kebanyakan ya....

2. Playing stereotype. Being gay doesn't need to be girly, and being gay also doesn't mean to be overly macho or sexual. AND, being main characters doesn't mean to be perfectly handsome. Ini murni selera, tapi saya capek membaca tentang dada membusung, tubuh tinggi macho, tubuh berotot, mata lentik, dsb dll. Please, saya sudah tahu gantengnya Ardan dan Febrian bak dewa, tolong jangan disebutkan di setiap kesempatan. Kadang tanpa menyebutkan suatu tokoh itu ganteng, pembaca membayangkan mereka ganteng, kok, serius. Kalau disebutkan terlalu berulang-ulang rasanya jadi bosan sendiri.

3. Info dump. Saya menghargai usaha penulis untuk menjelaskan keindahan dan kelebihan kota San Faransisco, tapi kadang penjelasannya terlalu tidak efektif. Rasanya tidak perlu membahas mengenai sejarah dan kontur SF dalam dialog, meskipun itu berarti Ardan tengah menjalani perannya sebagai escort. Daripada dimasukkan ke dalam dialog, akan lebih baik jika informasi tentang SF hanya diselipkan sebagai deskripsi yang seperlunya untuk cerita hingga dialognya bisa digunakan untuk percakapan yang lain.

4. Why sad ending? Bukannya saya protes dengan akhir yang tidak bahagia, sepenuhnya itu adalah hak penulis untuk mengakhiri ceritanya. Tapi sepertinya semacam ada tren dalam kepenulisan M/M-romance Indonesia untuk membuat kedua tokoh utamanya tidak bersatu, entah karena pernikahan atau kematian. Sekali lagi, bagaimana akhir cerita adalah pilihan penulis, dan saya sebenarnya tidak keberatan sama sekali dengan akhir novel ini. Hanya saja, mayoritas sad ending yang diberikan oleh penulis M/M Indonesia membuat saya bertanya: apakah ini berarti masih banyak orang yang menganggap bahwa pasangan homoseksual itu sebaiknya tidak bersatu? Kalau iya, jujur, saya sedih sekali. Saya kenal banyak pasangan gay yang hidup bahagia bersama pasangannya, bahkan menikah, meskipun memang pernikahan mereka tidak diakui di sini. Saya tidak masalah dengan sad ending, tapi saya ingin sesekali melihat cerita M/M Indonesia yang memberi pesan pada khalayak umum, bahwa tidak apa-apa menjadi gay, bahwa kebahagiaan bisa juga datang pada mereka, meskipun memang lebih berat bagi mereka untuk bisa bahagia di negara ini. Yah... semoga mimpi saya bisa jadi nyata, suatu saat.

5. Lack of (one) main conflict. Sesungguhnya saya tidak bisa mengetahui apa konflik utama dari novel ini. Masalah Ardan yang menjadi escort? Masalah hubungan Ardan-Febrian? Atau masalah dengan keluarga Febrian? Ketiga hal yang saya sebutkan itu dibahas sama rata hingga tak ada konflik yang digali dengan cukup dalam. Saya pribadi merasa mungkin masalah Ardan dan pekerjaannya menjadi escort yang dijadikan konflik utama, karena lumayan banyak informasi yang disajikan tentang hal itu. Tapi tetap saja menurut saya kurang digali lebih dalam karena POV lebih banyak dari Febrian, sementara yang dibahas adalah emosi Ardan yang seharusnya bisa lebih digali dinamikanya dari saat perasaannya masih distant sebagai male escort, hingga saat dia sudah termehek-mehek dengan Febrian. Dan ini berhubungan dengan kekurangan terakhir.

6. Relationship pace. Saya merasa, sebagai seorang male escort yang memiliki sejarah perkosaan, Ardan terlalu cepat jatuh cinta pada Febrian. Lagi-lagi, karena naik-turun emosi Ardan cenderung tidak tersampaikan, jadinya terkesan seolah hubungan mereka terlalu cepat (hanya setengah novel mereka sudah lengket kayak perangko). Orang yang mempunyai sejarah perkosaan--terutama oleh orang yang dikenal--biasanya menghindari 'memberi hati' pada orang lain untuk jangka waktu yang lama, karena tingkat trust mereka pada orang lain biasanya menurun. Apalagi di dalam kisah ini, Ardan tidak menyampaikan mengenai masa lalunya pada siapa pun. Orang yang tidak pernah menceritakan mengenai sejarah perkosaannya biasanya butuh waktu jauh lebih lama daripada orang yang pernah menceritakan pengalaman perkosaannya pada orang lain. Karena dengan menceritakan, ada proses mengobati luka di dalamnya, dan juga ada proses dukungan--jika mengatakannya pada orang yang mendukung dan mencintainya setulus hati--yang membantu proses coping menjadi lebih cepat. Jika di sini Ardan hanya mengobati lukanya sendirian, selayaknya dia baru bisa benar-benar jatuh cinta pada Febrian menjelang akhir cerita--atau tidak sama sekali.

Satu Mentari di Akhir Cerita

Secara keseluruhan, novel ini sebenarnya masih termasuk novel stereotip tentang LGBT. Mungkin wajar, menunjukkan seberapa besar pengetahuan--dan kemauan untuk mengetahui--masyarakat Indonesia tentang LGBT. Namun saya cukup menyukainya karena meskipun klise di mana-mana dan masih mengangkat pandangan stereotip tentang kaum LGBT, setidaknya novel ini tidak memberikan informasi yang membuat masyarakat awam berpikir bahwa menjadi homoseksual adalah permainan sementara dalam kehidupan penuh dosa--atau apalah itu. Juga, saya menyukai cara Mas Rudy menyampaikan kisahnya, tidak terlalu puitis, tapi juga tidak terlalu gaul.

Semoga ke depannya Mas Rudy Efendy bisa membuat novel yang lebih baik lagi. Dan oh, saya juga akan membeli Jakarta Love Story-nya.

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...