Saturday, August 10, 2013

[Review] Unwind



Judul : Unwind 
Seri : Unwind Dystology #1
Penulis : Neal Shusterman
Penerbit : Simon & Shcuster Book for Young Reader
Tahun cetakan : 2007
Jenis : ebook
Rating : 5/5


Saya sudah mereview buku ini dengan bahasa Inggris di goodreads, tapi berhubung katanya buku ini akan diterbitkan terjemahannya di Indonesia bulan ini, saya merasa berkewajiban(?) membuat review bahasa Indonesianya.


Tentang Pertentangan

Dikisahkan bahwa terjadinya Perang Sipil Kedua diakibatkan oleh pertentangan mengenai hak-hak reproduksi. Pertentangan antara pendukung pro-choice (pihak yang mendukung hak ibu untuk mengandung) dan pro-life (pihak yang mendukung hak kehidupan) semakin memanas, dan ketika kedua pihak mendapat suplai senjata, perang pun tak dapat terelakkan lagi. Dalam keadaan penuh kepanikan dan teror, muncul ide untuk membuat kesepakatan yang dapat menguntungkan bagi kedua belah pihak. Kesepakatan itu bernama Bill of Life

Di dalam kesepakatan tersebut, dijelaskan bahwa sejak dalam kandungan hingga usia 13 tahun, kehidupan anak-anak tidak boleh diganggu-gugat. Tidak boleh ada aborsi atau pun penjualan bayi dan anak-anak. Meskipun demikian, begitu anak memasuki usia remaja, lepas dari usia 13 tahun hingga ke umur legal anak tersebut saat 18 tahun, kehidupan anak-anak tersebut tergantung dari orangtua mereka. Jika pada masa tersebut orangtua merasa tidak sanggup untuk mengurus anak-anaknya, mereka berhak meng-unwind anak-anak mereka. Unwind ini sendiri adalah suatu proses dimana tubuh anak-anak tersebut akan dipisah-pisahkan untuk kemudian didonorkan kepada orang-orang yang membutuhkan. Dengan proses Unwind ini, dikatakan bahwa dengan demikian orangtua dapat 'menggugurkan' atau 'menggagalkan hak kepemilikan' anak mereka, namun tanpa perlu membunuh anak-anak tersebut--karena syarat dari Unwind adalah 99,4% bagian tubuh anak-anak harus digunakan, dengan begitu anak-anak tersebut tidak 'mati' namun hanya 'hidup terpisah-pisah'.

Tentang Pilihan

Unwind berkisah tentang perjalanan tiga orang anak yang akan melakukan Unwind dengan alasan mereka masing-masing. Connor adalah remaja yang dianggap sebagai anak badung oleh orangtua dan lingkungan sekitarnya karena sifatnya yang mudah meledak dan sering terjerumus dalam perkelahian. Meskipun demikian, sebenarnya dia adalah anak pintar yang kritis. Sayangnya, orang-orang sekitarnya tidak mampu menangani tingkah polahnya hingga dia hanya dianggap sebagai anak nakal. Pada usia 16 tahun, kedua orangtua Connor bersepakat untuk menandatangani surat pernyataan untuk meng-unwind anak sulung mereka tersebut.

Risa adalah anak panti asuhan negara. Dia remaja yang cerdas dalam bidang akademik dan pemain piano yang baik. Masalahnya, negara tidak puas hanya dengan membiayai anak dengan prestasi 'baik', mereka membutuhkan anak-anak yang luar biasa. Dana negara tidak cukup untuk membiayai anak-anak yang biasa-biasa saja atau hanya sekedar 'baik'. Sayangnya, meskipun Risa cerdas dalam bidang akademik, kemampuan bermain pianonya hanya level 'baik'. Karena itu, akhirnya panti asuhan memutuskan untuk meng-unwind Risa.

Sementara itu, berbeda dengan dua anak sebelumnya, Lev adalah seorang tithe. Sejak kecil dia telah ditakdirkan untuk di-unwind atas tuntutan agamanya. Bagi Lev, dirinya berbeda dengan para Unwind yang lain. Mereka adalah anak nakal yang tidak diinginkan oleh orangtua mereka, sementara dirinya dicintai oleh orangtuanya, namun harus melakukan Unwind sebagai bukti ketaatan keluarganya pada Tuhan.

Ketiga anak dengan latar belakang dan pola pikir berbeda ini pada suatu titik akan bertemu. Dan bersama, mereka akan berusaha mencari tahu mengenai makna kehidupan di sekitar mereka, dan juga mengenai makna hidup mereka sendiri.

Tentang Kehidupan

Tema genre fantasi sekarang ini mulai mengarah pada fantasi distopia, dengan Hunger Games (masih) sebagai pucuk pimpinan. Meskipun saya tidak begitu mempunyai masalah dengan Hunger Games, tapi setelahnya saya cukup menolak untuk membaca novel-novel fantasi YA dengan subgenre distopia. Alasannya adalah karena kemonotonan tema yang masih terus membayang-bayangi Hunger Games (dan Twilight, yang menciptakan tren cinta segitiga dan friendzone). Kalau pun saya membaca fantasi distopia, biasanya yang saya baca adalah karya distopia klasik, seperti Fahrenheit 451 atau 1984. Setidaknya sampai ada teman yang merekomendasikan buku ini.

Unwind sendiri sebenarnya terbit jauh sebelum demam distopia melanda pangsa pasar dunia (USA?). Novel ini terbit pertama tahun 2007. Baru pada tahun ini kembali diangkat ke permukaan karena sekuelnya, UnWholly, terbit tahun kemarin dan buku ketiganya, UnSouled, berencana akan dirilis tahun ini. Kenapa seri yang satu ini terlihat sangat underrated meskipun hampir semua pembacanya di goodreads memberikan 5 bintang? Kemungkinan besar karena novel ini tidak mengikuti standar novel distopia yang populer--heroine, cinta segitiga, dan setting yang mudah dicerna, anyone?

Meskipun begitu, bagi saya novel ini justru lebih mengikuti pakem distopia dibanding novel-novel serupa yang terbit belakangan ini. Isu-isunya berdasarkan pada kejadian yang kita ketahui di lingkungan sekitar kita, yaitu masalah pro-choice vs. pro-life, juga tentang stigma-stigma yang diberikan terhadap anak-anak. Memang itulah poin utama dari distopia, pengangkatan isu-isu terkini yang dibuat sedemikian rupa dan diterapkan kepada suatu dunia bersetting (biasanya) futuristik. 

Poin plus yang saya suka dari novel ini adalah Shusterman yang benar-benar melakukan riset mendalam terhadap isu yang diangkatnya. Tidak seperti kebanyakan novel distopia populer yang biasanya hanya mengambil suatu isu tanpa mengembangkannya lebih lanjut, Shusterman benar-benar mendalami isu yang diangkatnya dan mengaplikasikannya pada novel ini. Argumen-argumen utama yang kerap dibangun saat pertentangan pro-choice dan pro-life dengan apik disajikan dan disandingkan di sini. Juga, Shusterman mengakui kelemahan-kelemahan dari setting novelnya, dan hal itu diakuinya juga di dalam novelnya. Seperti contohnya, tentang masalah pengaturan Bill of Life yang menerapkan hukum pro-choice pada anak-anak berusia 13-18 tahun, padahal salah satu argumen pro-choice adalah memperbolehkan aborsi saat kandungan belum berusia 3 bulan. Jawaban Shusterman dalam novelnya adalah:

"With the war getting worse," says the Admiral. "we brokered a peace by bringing both sides to the table. Then we proposed the idea of unwinding, which would terminate unwanteds without actually ending their lives. We thought it would shock both sides into seeing reason--that they would stare at each other across the table and someone would blink. But nobody blinked. The choice to terminate without ending life--it satisfied the needs of both sides. The Bill of Life was signed, the Unwind accord went into effect, and th war was over. Everyone was so happy to end the war, no one cared about the consequences."

Ada banyak argumen-argumen yang disertakan Shusterman terhadap setiap pertanyaan yang muncul dari dunia Unwind ini. Saya rasa hal itulah yang kurang dalam novel-novel distopia belakangan ini: mereka lupa memberi argumen terhadap dunia yang mereka ciptakan. Semua yang berbau fantasi pasti akan menimbulkan pertanyaan, namun sedikit penulis yang membangun argumen dunianya dan memasukkannya ke dalam tulisannya. Dalam hal ini, Shusterman menang mutlak dari penulis-penulis distopia yang lain, setidaknya yang pernah saya baca novelnya.

Karakter-karakter dalam Unwind juga sangat membumi. Semuanya adalah orang-orang yang kemungkinan kita kenal, atau bahkan mungkin diri kita sendiri. Seperti Connor, anak cerdas yang tidak dimengerti lingkungannya; Risa, yang berjuang memenuhi tuntutan masyarakat dengan cara menjadi yang unggul di angkatannya untuk bertahan hidup; atau Lev, anak yang sejak kecil dicekoki oleh dogma agama hingga bisa dengan muda menerima keputusan orangtuanya untuk membunuh dirinya. Tidak ada karakter yang sempurna dalam novel Shusterman, semuanya hanyalah manusia yang mempunyai kelebihan dan kekurangan. Bahkan saya bisa mencintai tokoh-tokoh yang seharusnya antagonis, karena Shusterman juga menyelipkan kisah-kisah yang membuat mereka patut mendapatkan simpati. Karena manusia tidaklah murni baik atau pun buruk.

Akhir kata, buku ini patut dibaca bagi orang-orang yang mengaku penggemar fantasi maupun distopia. Isu-isu yang diangkat di sini juga patut dijadikan bahan renungan, terutama tentang bagaimana masyarakat memandang dan memperlakukan remaja. Buku yang sangat menginspirasi. Lima bintang.

2 comments:

  1. makin kepengin baca. Bener tuh dystopia skrg ini ngebosenin, temanya monoton macam Divergent-Delirium-Legend mirip2 --> tapie tetep beli dan dibaca :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya juga pengen beli terjemahannya. haha. Tapi kaver Indonesianya kok sangat menyilaukan. orz

      Tapi kayaknya sekuelnya sih, akan ikut arus distopia mainstream (karena rilis di tahun emas distopia?).

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...