Friday, December 6, 2013

[Review] Perempuan di Titik Nol


Judul : Perempuan di Titik Nol
Penulis : Nawal El-Saadawi
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun cetakan : 2006
Jenis : paperback
ISBN : 9794610402

Rating : 3/5


Salah satu buku yang akhirnya saya bawa pulang setelah dilema berkepanjangan di IBF bulan lalu, antara memututuskan untuk memborong semua karya Nawal El-Saadawi yang ada di stan Obor atau beli satu saja supaya saya masih bisa membawa pulang bukunya Camus dan Gogol--tapi kalau cuma satu saya harus beli buku yang mana? Nawal adalah penulis yang sudah lama ingin saya baca karya-karyanya, terutama setelah dosen Feminisme saya waktu itu menyebutkan nama Nawal sebagai aktivis perempuan pertama di Timur Tengah, tepatnya Mesir, yang berjuang melawan rezim otoriter Anwar Sadat. Buku yang menceritakan mengenai pergulatan pemikiran feminisnya adalah Catatan dari Penjara Perempuan, tapi Nawal melejit namanya sebagai penulis oleh buku ini. Karena itu akhirnya saya memutuskan untuk membeli buku yang ini dulu--sambil dengan bahagia memboyong serta Camus dan Gogol setelah satu jam pertarungan batin yang melelahkan.


Firdaus

Perempuan di Titik Nol adalah semacam semi-memoar yang ditulis oleh Nawal El-Saadawi mengenai Firdaus, salah satu narapidana wanita yang ditemuinya dalam salah satu risetnya mengenai penyakit syaraf (neurosis) di kalangan perempuan Mesir. Firdaus adalah seorang pelacur kelas atas yang masuk ke dalam penjara tersebut atas dasar tuduhan telah membunuh seorang germo/calo pria, dan karenanya ia diancam oleh hukuman mati. Beberapa aktivis, yang mengetahui bahwa pembunuhan yang dilakukan oleh Firdaus semata adalah untuk membela diri, mencoba mengusahakan grasi baginya. Tapi Firdaus justru menolak pemberian grasi tersebut, dan mengatakan bahwa hukuman mati adalah bentuk kebebasan yang ia paling inginkan.

Dari kontroversi tersebut, Nawal berusaha mewawancarai narapidana tersebut, dan mendapatkan bahan kisah yang dituliskannya dalam novel ini.

Kisah Seorang Pelacur

Membaca novel ini benar-benar mengingatkan saya pada pelajaran-pelajaran di kelas Feminisme, mengenai bagaimana selama ini masyarakat patriarki memandang perempuan dan menganggap perempuan sebagai manusia kelas dua. Kisah Firdaus ini mewakili gambaran pandangan masyarakat Mesir terhadap perempuan pada kisaran tahun 1970-1980. Pada waktu itu, di Mesir perempuan telah diperbolehkan bersekolah hingga SMA, namun masih dihalangi untuk pergi ke universitas. Bahkan Firdaus sendiri, yang mempunyai Paman seorang Syeikh dari universitas Al-Azhar, dilarang untuk melanjutkan ke universitas, padahal Firdaus menyukai belajar lebih dari apa pun. Firdaus kira ia akan diizinkan untuk setidaknya bekerja dengan ijazah SMA-nya, tapi ternyata hal itu pun tidak diizinkan karena pada akhirnya dirinya justru dinikahkan dengan pria berusia lebih dari 60 tahun yang merupakan kerabat dekat dari istri pamannya.

Hal yang paling sering diceritakan dalam kisah ini adalah betapa budaya kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan terhadap perempuan seolah menjadi hal yang wajar di Mesir. Sejak kecil Firdaus telah sering melihat ayahnya memukuli ibunya, sejak kecil pula Firdaus menjadi sasaran pelecehan dari teman-teman lelaki dan pamannya sendiri--yang seorang Syeikh itu--ketika menikah pun suaminya sering memukulinya, bahkan seringkali tanpa alasan.

Ketika suatu hari Firdaus kabur ke rumah Pamannya dengan lebam dan luka di sekujur muka dan tubuh akibat dipukuli suaminya, bahkan sebelum jam makan siang Pamannya telah memerintahkannya untuk kembali pulang ke rumah suaminya dan berkata:
"Tetapi Paman mengatakan kepada saya bahwa semua suami memukul isterinya, dan isterinya menambahkan bahwa suaminya pun seringkali memukulnya. Saya katakan, bahwa Paman adalah seorang Syeikh yang terhormat, terpelajar dalam hal ajaran agama, dan dia, karena itu, tak mungkin memiliki kebiasaan memukul isterinya. Dia menjawab, bahwa justru laki-laki yang memahami agama itulah yang suka memukul isterinya. Aturan agama mengijinkan untuk melakukan hukuman itu. Seorang isteri yang bijak tidak layak mengeluh tentang suaminya. Kewjibannya ialah kepatuhan yang sempurna." - hal. 63
Bahkan ketika Firdaus telah berhasil kabur dari suaminya pun, setiap lelaki yang ia beri kesempatan untuk membantunya melakukan dua hal yang sama padanya: memperkosanya, dan/atau memukulnya. Tidak hanya dirinya, setiap wanita yang bersimpangjalan dengannya pun, entah baik ataupun jahat, mendapat pemukulan atau mendapatkan pemaksaan untuk berhubungan seks dari laki-laki di dekatnya.

Penggambaran seks antara laki-laki dan perempuan dalam novel ini pun mirip dengan penggambaran adegan seks stereotip dalam naskah literer patriarki, dengan tokoh laki-laki yang begitu dominan dan tokoh perempuan digambarkan sebagai sosok yang bilang-ogah-tapi-pengen. Pihak laki-laki selalu menganggap penolakan perempuan untuk berhubungan seks sebagai tanda untuk "membuatnya bergairah", walaupun sebenarnya sang perempuan bisa saja benar-benar merasa tersiksa.

"Tidak, yang mulia, tidak," sambil mengelakkan tangan atau kaki dari pelukan suaminya.
Disusul oleh suara suaminya, bergumam dalam nada yang lembut, direndahkan, yang hampir menyerupai rangkaian ciuman-ciuman baru.
"Apanya yang tidak, perempuan?"
Tempat tidur keduanya berderik, dan saya sekarang dapat mendengar suara napas mereka, tak teratur, berdesah, dan suara isterinya manakala kembali memprotes:
"Tidak yang mulia, Demi Nabi. Tidak, ini hawa nafsu."
Kemudian nada suaminya yang tertahan kembali mendesis:
"Kau perempuan, kau.... Nafsu apa, dan apa Nabi? Aku adalah suamimu dan kau adalah isteriku." - hal. 55

Dalam kisah ini juga digambarkan mengenai peran suami yang seolah merupakan Raja dalam rumah tangga. Ayah Firdaus diceritakan mampu dengan lahapnya memakan porsi makanan terakhir di rumah mereka di saat anak-anak dan istrinya tidak makan selama beberapa hari. Ayah harus selalu mendapatkan makanan, bahkan ketika ada bayi-bayi yang lebih membutuhkan gizi dalam rumah tersebut. Diceritakan juga, saat musim dingin tempat tidur sang Ayah harus digeser hingga ke depan tungku perapian yang hangat sementara tempat tidur anak-anak justru dipojokkan ke dekat pintu yang membiarkan angin dingin gurun masuk ke dalam rumah.

Perjuangan Firdaus dalam kisah ini adalah perjuangan perempuan yang kebingungan mengenai takdir dari kaumnya. Ia bergelut dengan apakah wanita terhormat itu, dan apakah pelacur sebenarnya. Ketika seorang pelanggan mengatainya sebagai wanita tidak terhormat, Firdaus segera menghentikan pekerjaannya sebagai pelacur dan memilih untuk bekerja 'secara terhormat' di sebuah pabrik. Namun kenyataan justru membuatnya sadar, bahwa setiap manusia adalah pelacur demi memenuhi hasrat mereka masing-masing, dan bahwa melacurkan diri dalam perbudakan yang terhormat demi kekuasaan dan jabatan sama saja nilainya seperti menjadi seorang pelacur yang dengan tegas menyatakan diri mereka sebagai seorang pelacur.

"Saya menyadari bahwa seorang karyawati lebih takut kehilangan pekerjaannya daripada seorang pelacur akan kehilangan nyawanya. Seorang karyawati takut kehilangan pekerjaannya dan menjadi seorang pelacur karena dia tidak mengerti bahwa kehidupan seorang pelacur menurut kenyataannya lebih baik daripada kehidupan mereka. (...)Saya tahu sekarang bahwa kita semua adalah pelacur yang menjual diri dengan macam-macam harga, dan bahwa pelacur yang mahal jauh lebih baik daripada pelacur murahan." - hal. 110

Pada akhirnya, dengan pemikiran tersebut Firdaus melepaskan pekerjaannya dan kembali menjadi pelacur yang memiliki harga diri. Ia menjadi pelacur yang dapat memilih siapa saja yang diizinkan untuk menyentuh tubuhnya, dan meminta bayaran mahal untuk dirinya. Bagi Firdaus, dengan menjadi pelacur yang seperti itu dirinya justru mendapatkan hak mutlak atas diri dan takdirnya sendiri, tanpa perlu dikuasai oleh suami, germo, ataupun para eksekutif perusahaan yang melihat perempuan hanya dari tubuhnya semata.

Perempuan di Titik Nol

Selesai membaca novel ini rasanya jadi ingin kembali membuka buku Feminist Thought dan menganalisisnya berdasarkan sudut pandang teori feminisme, tapi rasanya nggak mungkin juga saya tulis analisisnya di sini--nanti malah jadi seperti analisis buku alih-alih resensi buku. Sebuah buku yang memberikan gambaran betapa kaum perempuan masih sering diperbudak oleh budaya patriarki, dan bahkan perempuannya sendiri pun kadang-kadang justru menjadi agen utama dalam pelestarian budaya patriarki--seperti yang terjadi pada istri dari paman Firdaus.

Lalu kenapa hanya tiga bintang? Walau isunya menarik dan menggugah untuk dipelajari, tapi harus saya akui bahwa gaya penulisan--ataukah gaya terjemahan?--novel ini tidak terlalu bagus. Ada banyak pemilihan kata yang terasa aneh, seperti "dua buah cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran hitam pekat" untuk menggambarkan sepasang mata berwarna hitam. Juga ada banyak penggunaan repetisi yang alih-alih memberikan penegasan, seringkali justru membuat kesal. Mungkin penulis ingin membuat deskripsi ala surealisme, tapi hasilnya tidak memberikan efek yang seharusnya.

Namun terlepas dari penulisannya yang berantakan, isu dan perenungan yang diangkat oleh novel ini cukup apik, menjelaskan mengenai pencarian eksistensi perempuan di tengah budaya patriarki--dan menurut saya memang kisah ini akan lebih pas jika dibahas dengan paradigma feminisme eksistensialis. Bagi mereka yang menyukai dan tertarik mempelajari feminisme, buku ini dapat dijadikan bahan analisis yang bagus.

4 comments:

  1. hmm, terjemahannya jadi aneh gitu ya. padahal penulisnya terkenal. jadi penasaran sama bukunya

    ReplyDelete
  2. kalau boleh tau dimana ya yang masih menjual buku-buku milik nawal el Sadawi soalnya termasuk buku cetakan lama, saya butuh banget untuk skripsi saya terutama perempuan di titik nol dan memoar seorang dokter perempuan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Buku ini bisa dipesan langsung dari penerbitnya, Yayasan Obor Indonesia atau di pameran-pameran buku yang ada stand Obor (saya beli di pameran). Kalau di toko buku, saya pernah lihat buku ini di Gramedia Depok. Kalau di sekitaran Jabodetabek, Toko Buku FIB UI Depok seingat saya menjual cukup banyak karya Nawal El Saadawi.

      Semoga bisa membantu.

      Delete
  3. Buku bagus, walau sedikit tapi padat dengan isi pikiran penulis mengenai isu yang ia bicarakan sehingga asik ditelaah. Sayang, memang agak gimana bacanya pas udah ngomongin "dua buah cincin yang teramat putih di sekitar dua lingkaran hitam pekat" seperti yang mbaknya bilang haha.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...