Saturday, December 7, 2013

[Review] Sampar


Judul : Sampar
Penulis : Albert Camus
Penerbit : Yayasan Obor Indonesia
Tahun cetakan : 2006
Jenis : Paperback
ISBN : 979461582X

Rating : 4,5/5


Camus menjadi filsuf eksitensialisme favorit saya semenjak saya membaca pandangannya tentang absurdisme dan bunuh diri dalam The Myth of Sisyphus and Other Essays (Le Mythe de Sisyphe). Padahal awalnya filsuf eksistensialis favorit saya adalah Kierkegaard, tapi begitu mempelajari mengenai absurdisme Camus--dan tentunya saya belajar dari author bias, Haruki Murakami-sensei--saya terlena(?) setengah mati pada pemikirannya, dan bertekad akan membaca semua karya Camus. Sewaktu membeli buku ini di IBF, sebenarnya saya tengah membaca The Stranger (L'Etranger), tapi akhirnya yang itu harus mundur dulu begitu mendapatkan yang ini.

Sampar

Semua dimulai dengan kehadiran tikus yang mati di tempat terbuka. Awalnya tidak ada yang menganggap hal itu sebagai hal yang penting. Dokter Rieux, salah satu dokter terkemuka di kota Oran pun hanya menganggap kejadian tersebut sebagai kelalaian penjaga gedung apartemennya dan lebih memilih untuk mengurusi keperluan istrinya yang akan segera pergi untuk berobat di rumah sakit kota lain. Namun keadaan menjadi serius ketika setelah mengantar istrinya pergi, Rieux mulai menemukan makin banyak tikus yang mati di jalanan, seolah-olah mereka sengaja keluar dari gorong-gorong gelap untuk mati di depan manusia. Penduduk Oran mulai cemas ketika semakin hari jumlah tikus yang mati semakin banyak, bahkan hingga mencapai ratusan ekor setiap harinya. Prefek (pemerintahan kota) Oran sampai harus mendatangkan dinas pembasmi tikus untuk menanggulangi masalah ini.

Ketika tikus-tikus akhirnya tidak bergelimpangan lagi di jalanan dan rumah-rumah, penduduk mulai kembali merasa lega. Namun ternyata tikus-tikus itu hanyalah suatu permulaan dari bencana yang sebenarnya. Secara perlahan Sampar menguasai kota, menciptakan pembengkakan-pembengkakan bernanah yang mengakibatkan kematian. Kembali, awalnya penduduk kota tak terlalu memikirkannya, tapi semakin lama cengkeraman Sampar makin menguat, membunuh hingga lebih dari seratus orang tiap harinya hingga Prefek akhirnya memutuskan untuk menutup kota dan membatasi hubungan warga dengan dunia luar. Mereka yang di dalam tak bisa keluar, dan mereka yang sedang ada di luar tak dapat kembali.

Absurdisme Kehidupan

Sampar adalah kisah mengenai perjuangan manusia sebagai masyarakat dalam menghadapi bencana. Dalam novel ini dibahas mengenai bagaimana manusia bersikap dalam menanggapi peristiwa yang empatik-kolektif--yakni terkurung dan terkucil bersama orang-orang yang menunggu jatuhnya vonis hukuman mati Sampar kepada diri mereka. Dari sebuah kota yang biasa-biasa saja, warga Oran tiba-tiba harus menerima kenyataan bahwa mereka sekarang terkurung, tak mampu berhubungan dengan sanak di luar pintu kota, dengan persediaan kebutuhan yang makin lama makin menipis di tengah kepungan wabah yang semakin haus meminta nyawa. Keadaan macam ini, menurut Camus, adalah suatu bentuk absurdisme kehidupan, dimana keadaan yang biasa-biasa saja dapat berubah sewaktu-waktu hingga menggoncangkan iman serta kepercayaan manusia.

Saya selalu kagum pada penulis yang mampu menggambarkan dengan detil mengenai prediksi tingkah laku kolektif manusia, dan harus saya akui, Camus adalah satu--satu-satunya?--penulis yang mampu melakukannya dengan presisi yang mengerikan. Camus menggambarkan dengan tepat apa yang disebut oleh psikologi sebagai tahapan grieving manusia, padahal pasti pada waktu buku ini ditulis, belum ada teori mengenai grieving tersebut. Dikatakan awalnya penduduk Oran masih denial terhadap kehadiran sampar, mereka mengira epidemi tersebut sebagai sesuatu yang sementara dan akan segera berlalu. Kemudian setelah mereka sadar bahwa sampar tidak akan pergi dengan cepat, mereka memasuki fase anger, di mana mulai terjadi pemberontakan dari warga atas ketidakadilan yang membuat mereka terkurung di dalam kota berepidemi di saat mereka sebenarnya sehat. Lalu mereka akan mulai bargaining, memohon-mohon kepada prefek untuk memberi sedikit saja kelonggaran peraturan bagi mereka dan sanak keluarga mereka. Ketika pemerintah daerah bersikeras untuk tetap menegakkan peraturan tanpa terkecuali, penduduk akhirnya berangsur-angsur memasuki masa depression, ketika semangat mereka mulai luntur dan jalanan mulai sepi dari aktivitas. Namun pada akhirnya, penduduk Oran merasa terus-terusan sedih pun takkan mengubah keadaan, oleh karena itu mereka mulai memasuki fase acceptance, menerima keadaan epidemi yang melilit nasib mereka dan kembali beraktivitas dalam sebuah empati-kolektif terhadap sesama yang terkurung.

Dalam novel ini Camus memberikan beberapa contoh sikap umum manusia dalam menghadapi bencana melalui tokoh-tokohnya. Rambert, sang wartawan luar kota yang kebetulan terjebak epidemi, adalah tipe manusia yang masa bodoh dan tidak membiarkan bencana mempengaruhi keinginannya. Dia acuh terhadap penderitaan sesamanya dan lebih peduli pada usaha untuk membebaskan dirinya dari kota yang terisolir. Kebalikannya, Jean Tarrou yang gemar mencatat merasa bahwa dirinya harus membantu melawan sampar atas nama ideologi dan kemanusiaan. Tarrou terobsesi akan pemikiran untuk menjadi Santo yang tak ber-Tuhan, Santo yang lahir dari tangan masyarakat alih-alih dari wahyu Tuhan. Ada juga Pastor Paneloux yang, seperti kebanyakan ulama pada umumnya, melihat epidemi sebagai suatu ide abstrak dan menyeluruh akan murka Tuhan terhadap penduduk kota Oran yang penuh dosa. Di lain pihak, ada tokoh Cottard yang justru senang dengan kehadiran epidemi dan menganggapnya sebagai berkah karena keadaan itu mampu ia gunakan untuk kepentingannya sendiri.

Lalu bagaimanakah baiknya manusia menghadapi hal-hal absurd dalam kehidupan? Pandangan ideal Camus diletakkan pada tokoh utama novel ini, yaitu Dokter Rieux. Berbeda dengan tokoh-tokoh yang lainnya, Dokter Rieux hanyalah orang yang biasa-biasa saja, tanpa banyak berteori dan berideologi. Dia hanyalah seorang dokter yang merasa memiliki kewajiban untuk membantu pasiennya, dan ketika epidemi terjadi, dia meletakkan dirinya sebagai pengamat yang bersikap namun tidak memihak pada suatu landasan apa pun dalam menghadapi sampar. Perilaku Dokter Rieux sesuai dengan pandangan Camus yang menyatakan bahwa, "Absurditas bukan untuk dijelaskan, tapi untuk dipahami."

Eksistensi Manusia

Membaca Camus memang perlu kehati-hatian dan waktu yang tidak sebentar. Awalnya saya tidak terlalu menyukai gaya penerjemahan N.H. Dini, tapi setelah saya baca lebih lanjut, saya rasa saya harus setuju pada kata pengantar yang diberikan oleh penerbit Obor--bahwa tidak akan ada yang cukup mampu 'mengerti' dan 'menerjemahkan' Camus selain N.H. Dini. Saya rasa jika terjemahan buku ini dibuat sedikit populer saja, seperti kebanyakan novel terjemahan sekarang ini, maka novel ini akan kehilangan esensi utamanya sebagai karya filsafat. N.H. Dini telah melakukan penerjemahan yang terbaik terhadap Camus.

Lalu seperti yang dikatakan oleh N.H. Dini dalam pengantar buku ini, karya Camus adalah bentuk sastra dan filsafat sekaligus. Camus adalah seorang sastrawan yang sebegitunya cakap dalam mengolah pemikirannya ke dalam sebuah kisah hingga tulisan-tulisannya mampu mendaftarkan namanya sebagai salah satu filsuf eksistensialisme yang tersohor. Dan memang benar, karya Camus tidaklah hanya sebatas bacaan sastra semata. Dari karyanya pembaca akan dapat 'membaca' manusia dan kemanusiaan secara keseluruhan, dan dapat pula merenungkan posisi eksistensi diri di tengah masyarakat yang luas ini--apakah kita adalah Rambert, Tarrou, Paneloux, atau Cottard? Ataukah kita adalah Dokter Rieux yang menjadi gambaran manusia ideal Camus?

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...